Konten dari Pengguna

Hidup dari Warung Pinggir Bantar Gebang yang Tak Pernah Sepi Meski Diapit Sampah

Dinda Khairina Aulia

Dinda Khairina Aulia

Mahasiswa Prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah NIM: 165

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dinda Khairina Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kondisi Warung Sekitar TPST Bantar Gebang yang Belum Digusur
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kondisi Warung Sekitar TPST Bantar Gebang yang Belum Digusur

Di tengah hamparan tumpukan sampah yang menjulang dan hiruk-pikuk truk pengangkut limbah yang berlokasi di TPST Bantar Gebang, sebuah warung sederhana berdiri kokoh di pinggir jalan. Meski terletak di antara lingkungan yang keras dan penuh aroma menyengat, tetapi warung ini tak pernah benar-benar sepi. Warung yang beroperasi sepanjang hari, melayani para sopir truk, pemulung, pengepul barang, dan warga sekitar yang menggantungkan hidupnya pada usaha harian kelas pekerja. Lebih dari sekadar tempat jual beli, warung ini menjadi simpul sosial, ruang hidup, dan saksi bisu atas berbagai dinamika masyarakat urban kelas pekerja di tengah krisis dan keterbatasan.

Warung ini dijaga secara bergilir oleh dua orang dengan pembagian waktu kerja bergiliran yang memungkinkan layanan berjalan terus-menerus. Di balik rutinitasnya yang tampak biasa, terdapat prinsip-prinsip kuat yang dijaga para penjaganya: keramahan, kejujuran, dan kesetiaan terhadap pelanggan. "Kalau kita cemberut, pelanggan enggak balik lagi," ujar salah satu penjaga yang telah lama bekerja di warung tersebut. Satu senyum atau tegur sapa bisa berarti loyalitas pelanggan yang bertahan bertahun-tahun.

Barang-barang yang dijual pun sangat terjangkau, mulai dari minuman instan yang seharga Rp 2.000, makanan instan hingga rokok eceran yang banyak dicari pelanggan. Warung ini mendapat pasokan rutin dari "Bu Murni" atau "Tante Murni", pemilik warung yang telah menjalankan bisnis ini selama lebih dari satu dekade. Meskipun kini ia lebih banyak berperan di balik layar, perannya tetap menjadi fondasi utama keberlangsungan warung tersebut. Ia bahkan dikenal luas oleh warga sekitar, karena lamanya warung itu berdiri hingga namanya diabadikan menjadi nama jalan tempat warung itu berada, yaitu Jalan Murni.

Cerita warung ini tak lepas dari sosok-sosok penjaganya yang datang dari latar belakang yang beragam. Salah satunya adalah seorang ibu asal Indramayu yang mulai bekerja sejak Maret lalu. Sebelumnya, ia merupakan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Singapura selama 13 tahun, bekerja sebagai perawat jompo. Dari hasil jerih payahnya di negeri orang, ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus. Meski kini hanya bergaji Rp 80.000 per hari, ia mengaku lebih nyaman menjaga warung dibanding menjadi TKW. "Di sini lebih enak, meskipun awalnya saya sempat stres sampai seminggu enggak mau makan," ceritanya sambil tertawa getir.

Sosok lainnya adalah pria yang akrab disapa "Abang", yang telah bekerja menjadi satpam di TPST Bantar Gebang sejak 2018. Ia menjadi saksi perubahan ritme kerja selama pandemi COVID-19. Meski ia menyebut tidak banyak gangguan, kewajiban memakai masker tetap diberlakukan. Namun, narasi tentang pandemi yang ia yakini justru berbeda dari versi resmi pemerintah.

Meski bekerja tanpa kontrak atau lamaran resmi, proses perekrutan penjaga warung berjalan berdasarkan kepercayaan. Cukup dengan kalimat langsung, "Eh, lu mau kerja jaga warung?" ujar Tante Murni si pemilik warung. Kalimat itu mencerminkan bahwa dunia kerja informal bergerak dengan cara yang berbeda dari sistem kerja formal. Tidak ada proses administrasi yang panjang, yang ada adalah saling percaya dan antar personal.

Warung ini juga menjadi tempat curhat para sopir atau warga yang tengah menghadapi tekanan hidup. Interaksi di warung ini juga melintasi batas identitas etnis. Pelanggan dan penjaga datang dari berbagai latar belakang: Jawa, Sunda, Madura, hingga Medan. Keberagaman ini menciptakan ruang sosial yang sangat bermacam-macam, tempat di mana perbedaan tidak menjadi penghalang melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Warung ini menjadi ruang belajar tetapi bukan dalam arti akademik, melainkan melalui pengalaman, obrolan santai, dan pertukaran cerita yang membangun empati.

Di tengah ancaman penggusuran, warung ini tetap bertahan dengan keyakinan dan keteguhan hati. Penjaganya sadar betul bahwa jika suatu hari warung dianggap mengganggu arus jalanan antara truk dan alat berat lainnya, mereka bisa saja dipindahkan. Namun selama masih berada di lokasi strategis dan tidak menghalangi aktivitas utama, mereka yakin warung bisa terus beroperasi.

Warung di pinggir Bantar Gebang ini adalah potret nyata ketahanan ekonomi yang hidup dari kejujuran, hubungan sosial masyarakat, dan kerja keras. Warung ini bukan hanya menjual kopi instan atau rokok eceran, yang lebih dari sekadar tempat jual beli barang kebutuhan harian, warung ini adalah perwujudan nyata dari jaringan kepercayaan dan hubungan antarwarga yang tumbuh perlahan. Terlahir dari interaksi sehari-hari, dari sapaan hangat antara penjual dan pembeli, dari cerita-cerita sederhana yang terlontar di sela transaksi, namun tetap memilih untuk saling peduli. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat dan sering kali abai terhadap sisi-sisi kemanusiaan yang paling dasar, warung ini berdiri sebagai penanda, bahwa masih ada ruang-ruang kecil yang menjadi tempat orang bertahan hidup bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara emosional. Tempat di mana keteguhan hati manusia diuji dan dirawat yang akan memaknai kebersamaan menjadi sesuatu yang nyata dan terus diperjuangkan hari demi hari.***

Dinda Khairina Aulia, Mahasiswa Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta