Radio Masih Hidup, Tapi Siapa yang Mendengar?

Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Medan Area
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dini Aulia Br Matondang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu iseng putar radio di HP atau mobil, lalu terkejut karena masih ada siaran yang mengudara? Ya, radio belum mati. Ia masih hidup—tetap siaran, tetap bicara. Tapi, sayangnya, tak banyak yang benar-benar mendengarnya lagi.
Di era TikTok, Spotify, dan YouTube, suara dari radio seolah terkubur dalam keramaian algoritma. Dulu, radio jadi teman setia: pagi-pagi sambil sarapan, atau malam-malam ditemani suara penyiar dengan backsound mellow. Sekarang? Generasi muda lebih akrab dengan “For You Page” daripada frekuensi 95.5 FM.
Tapi, Kenapa Radio Masih Bertahan?
Mungkin karena radio bukan cuma tentang hiburan. Di banyak daerah, terutama yang akses internetnya masih terbatas, radio tetap jadi sumber informasi utama. Ia hadir di dapur warung, di ruang tunggu bengkel, bahkan di pos ronda. Tidak semua orang berlari ke digital. Masih ada yang setia dengan suara.
Dan di balik keberlangsungan radio, ada lembaga seperti KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) yang terus mendorong radio tetap relevan. KPID bukan cuma lembaga pengawas isi siaran, tapi juga penjaga napas media lokal agar tidak tenggelam dalam arus global.
KPID: Menjaga Siaran, Bukan Sekadar Mengawasi
Banyak yang mengira KPID hanya "polisi penyiaran"tugasnya cuma menindak tayangan yang melanggar. Padahal, lebih dari itu, KPID juga aktif mendampingi radio-radio lokal agar tetap menghasilkan konten yang edukatif, sehat, dan mendukung keberagaman budaya daerah.
Melalui program seperti literasi media, workshop penyiaran, hingga dialog publik, KPID ikut memastikan radio tidak hanya bertahan, tapi berkembang. Karena radio bukan sekadar hiburan, tapi ruang bicara publik.
Perlu Diingat: Radio Masih Punya Suara
Mungkin radio tak sepopuler dulu, tapi itu bukan alasan untuk melupakannya. Sebaliknya, justru perlu ada gerakan untuk menghidupkannya kembali. Mendorong generasi muda mendengar lagi. Bukan sekadar nostalgia, tapi karena radio menyimpan nilai: kedekatan, kejujuran, dan kearifan lokal.
KPID tidak bisa bekerja sendiri. Pendengar kita semua punya peran penting untuk memberi kesempatan kedua bagi media suara ini. Karena ketika semua sibuk bicara, siapa yang mau mendengar?
Mari Mendengar Kembali
Mungkin sudah saatnya kita, terutama generasi muda, menoleh kembali ke radio. Memberi kesempatan kepada media yang telah lama berjasa membentuk opini publik dan menyuarakan kebenaran dari sisi suara. Karena di balik frekuensi yang jarang disetel itu, masih ada para penyiar yang setia berbicara, berharap didengar.
Dan KPID, sebagai garda pengawas penyiaran, akan terus berupaya agar suara itu tidak hilang di udara tetapi tetap menyentuh telinga dan hati publik, dengan siaran yang berkualitas, jujur, dan bermanfaat.
Dini Aulia Br Matondang Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Medan Area
Mahasiswa KKL di KPID Sumatera Utara | Konsentrasi Humas
