Konten dari Pengguna

Waspadai! Ini Ciri-ciri Anak Mengalami Tekanan Mental Tanpa Disadari

Dini Indriyani

Dini Indriyani

Mahasiswa Pascasarjana UPN Veteran Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dini Indriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock.com

Di tengah tuntutan zaman yang serba cepat dan penuh kompetisi, anak-anak tidak luput dari tekanan mental yang meski seringkali tidak terlihat di permukaan. Banyak orang tua mengira bahwa stres dan kecemasan hanya dialami oleh orang dewasa, padahal kenyataannya anak-anak juga bisa mengalami tekanan mental secara diam-diam.

Sayangnya, gejala tekanan mental pada anak sering kali terselubung, tersembunyi di balik perilaku sehari-hari yang tampak biasa. Berikut adalah beberapa ciri yang perlu diwaspadai oleh orang tua dan pengasuh:

1. Perubahan Perilaku Secara Tiba-Tiba

Jika anak yang biasanya ceria dan aktif mendadak menjadi pendiam, mudah marah, atau kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu ia sukai, ini bisa menjadi tanda adanya tekanan emosional. Anak belum tentu bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan kata-kata, jadi perubahan sikap bisa menjadi “sinyal darurat.”

2. Gangguan Tidur atau Pola Makan

Tekanan mental bisa muncul dalam bentuk kesulitan tidur, mimpi buruk berulang, atau perubahan selera makan, entah jadi makan berlebihan atau malah kehilangan nafsu makan sama sekali. Ini adalah respon tubuh terhadap kecemasan atau stres yang terpendam.

3. Sering Mengeluh Sakit Fisik Tanpa Sebab Medis Jelas

Anak-anak kerap mengekspresikan stres lewat keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, atau mual. Jika keluhan ini muncul berulang tanpa sebab medis yang jelas, ada kemungkinan anak sedang menghadapi tekanan psikologis.

4. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial

Anak yang mengalami tekanan mental mungkin enggan bermain dengan teman, lebih suka menyendiri, atau menolak mengikuti aktivitas sosial seperti biasa. Ini bisa menjadi mekanisme pertahanan diri karena ia merasa cemas, tertekan, atau tidak nyaman.

5. Terlalu Perfeksionis atau Takut Mengecewakan

Jika anak terlalu takut melakukan kesalahan, mudah panik saat mendapat nilai rendah, atau merasa kecewa berlebihan pada dirinya sendiri, bisa jadi ia sedang menanggung beban harapan yang terlalu berat. Tekanan ini bisa berasal dari lingkungan sekolah, keluarga, atau media sosial.

6. Mengucapkan Kalimat Negatif tentang Diri Sendiri

Kalimat seperti “Aku bodoh,” “Aku gak berguna,” atau “Semua salahku” patut menjadi alarm bagi orang tua. Ini bisa menandakan adanya penurunan harga diri dan rasa cemas yang tidak tertangani.

-----

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

  • Buka ruang komunikasi yang hangat tanpa menghakimi. Dengarkan lebih banyak, bicara lebih sedikit.

  • Perhatikan rutinitas dan kebiasaan anak secara halus, tanpa membuat mereka merasa diawasi berlebihan.

  • Libatkan anak dalam kegiatan santai dan menyenangkan, seperti bermain, menggambar, atau berjalan-jalan ringan.

  • Jika gejala berlanjut, konsultasikan dengan psikolog anak untuk mendapatkan bantuan profesional.

Mental Anak Sama Pentingnya dengan Fisiknya

Menjaga kesehatan mental anak sejak dini adalah fondasi penting untuk tumbuh kembangnya. Anak yang bahagia bukan hanya anak yang sehat secara fisik, tapi juga memiliki ruang aman untuk merasa, berpikir, dan berkembang secara emosional.

Jika kamu melihat satu atau lebih ciri di atas, jangan ragu untuk mendampingi anak dengan empati. Kadang, yang mereka butuhkan bukan solusi, tetapi pelukan, perhatian, dan waktu dari orang yang paling mereka percaya, yaitu kamu.