Konten dari Pengguna

Perencanaan SDM Harus Sejalan dengan Strategi Bisnis, Jangan Asal Rekrut!

Dini Purnama sari

Dini Purnama sari

Mahasiswi Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dini Purnama sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Dini Purnama Sari

Bayangkan sebuah perusahaan ritel yang sedang ekspansi ke beberapa kota. Cabang baru sudah dibuka, tetapi manajer toko belum ada, staf baru belum terlatih, dan karyawan lama kewalahan. Masalahnya ada pada perencanaan SDM yang tidak ikut disiapkan bersama strategi bisnis. Target penjualan sudah ditetapkan, tetapi tidak ada yang bertanya: siapa yang akan menjalankannya?

Situasi seperti ini sering terjadi. Strategi bisnis disusun matang, sementara urusan manusia baru dipikirkan setelah masalah muncul. Di sinilah perencanaan SDM yang terhubung dengan strategi perusahaan menjadi penting.

Perencanaan SDM Bukan Sekadar Bagian Administrasi

Selama bertahun-tahun, urusan SDM dianggap pekerjaan belakang layar: mengurus absensi, kontrak, dan mencari pengganti ketika ada yang resign. Pola pikirnya reaktif, menunggu masalah baru bertindak.

Cara pandang itu kini ketinggalan. Persaingan bisnis tidak lagi dibatasi wilayah, dan tenaga kerja bisa berpindah dengan mudah ke perusahaan yang menawarkan peluang lebih baik. Perusahaan yang tidak punya rencana jelas soal talenta akan selalu tertinggal selangkah dari pesaingnya.

Strategi Bisnis Tanpa Perencanaan SDM Ibarat Peta Tanpa Kendaraan

Strategi bisnis menjawab pertanyaan “ke mana kita akan pergi”. Perencanaan SDM menjawab “siapa yang akan membawa kita ke sana, dan apakah mereka siap?”

Kalau perusahaan berencana meluncurkan produk digital dalam dua tahun, misalnya, perencanaan SDM yang baik sudah memetakan sejak awal: keahlian apa yang dibutuhkan, berapa yang sudah dimiliki, dan mana yang harus dilatih atau direkrut. Tanpa itu, strategi hanya berhenti sebagai dokumen presentasi.

Perencanaan SDM yang strategis biasanya bergerak lewat beberapa pertanyaan sederhana:

Apa yang ingin dicapai bisnis dalam beberapa tahun ke depan?

Kemampuan apa yang kita punya sekarang?

Seberapa jauh jaraknya dengan kebutuhan nanti?

Bagaimana cara menutup jarak itu, lewat pelatihan, rekrutmen, atau penataan ulang tugas?

Bagaimana kita tahu langkah tersebut berhasil?

Perencanaan SDM dari Atas, dari Bawah, atau Keduanya?

Ada perusahaan yang menyusun rencana SDM murni dari pimpinan. Hasilnya biasanya selaras dengan arah besar perusahaan, tetapi sering kurang membumi. Ada pula yang bertumpu pada usulan tiap divisi. Kebutuhan lapangan terpenuhi, tetapi bisa jadi tidak sejalan dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan.

Jalan tengahnya adalah memadukan keduanya. Pimpinan menetapkan arah, divisi memberi gambaran kebutuhan nyata, dan hasilnya dibahas bersama. Efek sampingnya positif: karyawan merasa didengar, sehingga rasa memiliki terhadap perusahaan ikut tumbuh.

Mengapa Banyak Perusahaan Mengabaikan Perencanaan SDM?

Ada beberapa alasan yang paling sering muncul:

Terlalu fokus pada target jangka pendek. Laporan kuartal terasa lebih mendesak daripada kebutuhan talenta tiga tahun lagi.

SDM dianggap pos biaya, bukan investasi. Akibatnya anggaran dan waktu untuk perencanaan sering dikorbankan.

Kerja antarbagian tidak nyambung. Rekrutmen, pelatihan, dan penilaian kinerja berjalan sendiri-sendiri, tanpa arah yang sama.

Langkah Praktis Memulai Perencanaan SDM

Perusahaan tidak harus langsung membangun sistem yang rumit. Beberapa langkah awal yang realistis:

Libatkan pimpinan sejak awal. Isu SDM perlu dibahas di meja yang sama dengan isu keuangan dan operasional.

Catat kemampuan karyawan yang ada. Kita sulit menyusun rencana kalau belum tahu apa yang sudah dimiliki.

Siapkan data ketenagakerjaan yang rapi, karena keputusan yang baik lahir dari data yang baik.

Hubungkan semua fungsi SDM, dari rekrutmen sampai kompensasi, agar bergerak ke tujuan yang sama.

Evaluasi secara berkala, karena rencana yang tidak pernah ditinjau cepat usang.

Penutup

Pada akhirnya, bisnis dijalankan oleh manusia. Perusahaan yang serius membangun keunggulan perlu serius pula menyiapkan orang-orang di baliknya. Perencanaan SDM yang menyatu dengan strategi bisnis bukan soal birokrasi, melainkan cara memastikan setiap target punya orang yang siap mengerjakannya.

Jadi, sebelum menyusun target besar berikutnya, ada satu pertanyaan yang layak diajukan: apakah kita sudah menyiapkan orangnya?

Referensi:

Andari, E. (2005). Meraih Keunggulan Melalui Pengintegrasian Perencanaan Sumber Daya Manusia dan Perencanaan Strategik. Jurnal Siasat Bisnis, Edisi Khusus JSB on Human Resources, hlm. 43-53.