Konten dari Pengguna

Jejak TWKM : Sinergi MAPALA Untuk Mewujudkan Keadilan Ekologi

Dini Yunita Sari

Dini Yunita Sari

Mahasiswi program studi Aqidah dan Filsafat Islam dan Anggota Aktif KPA Arkadia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dini Yunita Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dikenal dengan kekayaan ekologis yang luar biasa,sebagaimana disebutkan oleh IUCN,KLHK,maupun BRIN/LIPI. Kekayaan ini mencakup jumlah spesies yang tinggi,beragam jenis ekosistem,serta luas wilayah darat dan laut ya ng mendukung kehidupan. Hal tersebut merupakan hasil dari kombinasi dari berbagai faktor,seperti letak geografis Indonesia yang strategis,iklim tropis,sejarah geologi yang unik,serta keanekaragaman habitat darat dan laut. Berkat kondisi alam yang mendukung, banyak spesies spesies endemik yang yang hanya ditemukan di Indonesia dan tersebar di pulau-puau besar seperti Sumatera,Kalimantan,Papua,Sulawesi,hingga kepulauan kecil lainnya.

Secara keseluruhan, ekologi di Indonesia menjadi isu serius untuk dibahas karena berdampak besar terhadap kerusakan ekologi dan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya mengatasi kerusakan ekologi adalah untuk menjaga stabilitas fungsi alam,seperti udara sehat, penyediaan air bersih dan tanah subur yang dibutuhkan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kerusakan ekologi telah menjadi isu krusial yang berdampak luas,tidak hanya terhadap kelestarian lingkungan,tetapi juga terhadap kesejahteraan masyarakat. Mengatasi kerusakan ekologi menjadi penting demi menjaga kestabilan fungsi alam,seperti tersedianya udara bersih,air layak konsumsi,dan tanah subur yang semuanya merupakan kebutuhan dasar bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya. Deforestasi,pencemaran laut dan udara yang dapat memicu banjir,kekeringan,penyebaran penyakit hingga kepunahan spesies yang menjadi penyebab kerusakan ekologi. Dampak kerusakan ekologis tidak hanya mengancam lingkungan,tetapi juga ketahanan pangan,kesehatan masyarakat,serta masa depan generasi mendatang.

Sebagai Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan memiliki peran yang sangat penting, karena tugas MAPALA adalah berada di garda depan dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tugas MAPALA dalam keadilan ekologi bukan hanya tentang mencintai alam, tetapi membela hak-hak lingkungan dan manusia yang saling terikat secara adil dan setara. Termasuk kegiatan kepetualangan harus dilakukan dengan prinsip keadilan ekologi seperti tidak merusak alam, menjaga kebersihan,tidak mengganggu spesies yang hidup di wilayah sekitar dan tidak mengambil keuntungan dari eksploitasi.

Gambar 1. Delegasi TWKM Wilayah JABODETABEKA

Dalam kegiatan Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) Mahasiswa Pencinta Alam Tingkat Perguruan Tinggi Se-Indonesia yang ke-34 yang diselenggarakan di MAPATALA Universitas Tadulako (Untad) Kota Palu,Sulawesi Tengah, tepatnya diselenggarakan pada tanggal 26 Mei – 01 Juni 2025. Acara TWKM dihadari oleh ratusan Mahasiswa Pencinta Alam dari seluruh Indonesia. Khususnya wilayah JABODETABEKA terdapat enam MAPALA yang turut hadir,salah satunya adalah KPA Arkadia UIN Jakarta. Keterlibatan KPA Arkadia dalam forum Nasional Pencinta Alam adalah untuk memperkuat citra UIN Jakarta sebagai kampus yang peduli terhadap lingkungan dan berkomitmen pada prinsip keberlanjutan serta berhubungan dengan proker UIN yang saat ini sedang menerapkan Green Campus.

Gambar 2. Peserta Tewu Wicara

Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) ini erat kaitannya dengan isu-isu lingkungan yang saat ini semakin banyak diperbincangkan di berbagai kalangan. Oleh karena itu kegiatan ini mengusung tema Peran Mahasiswa Pencinta Alam Dalam Keadilan Ekologi. Melalui tema ini, Mahasiswa Pencinta Alam yang juga menjadi bagian civitas akademika sekaligus penggiat lingkungan diharapkan mampu menjadi agen perubahan untuk kehidupan ekologi ke depan. Kehadiran para peserta dalam forum ini komitmen bersama dalam mendukung keadilan ekologi dan mempererat jejaring antar MAPALA Se-Indonesia.

Gambar 3. Pembukaan TWKM

Kegiatan TWKM dimulai dengan Opening Ceremony dan Seminar Nasional yang dihadiri langsung oleh Kepala Senat Universitas Tadulako, Perwakilan Kementerian Kehutanan RI yaitu bagian Direktur Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi (PE-BAP) dan juga Gubernur Sulawesi Tengah, Dr.H.Anwar Hafid,M.Si dan masih banyak orang-orang keren lainnya. Dalam seminar dijelaskan bahwa Subjek ekologi meliputi 3 yaitu : Manusia, Living Entities dan Non-Living. Dijelaskan juga Strategi Kolektif mewujudkan keadilan ekologi di Indonesia mulai dari gerakan kolektif , kolaborasi nasional dan daerah di dalamnya terlibat MAPALA,Aktivis,Akademis,Perempuan,Masyarakat Korban,Pemuka Agama dan lain-lain. Baru setelah itu adanya kebijakan pemerintah nasional dan daerah yaitu kebijakan publik yang ekologis maka akan menghasilkan Goal Keadilan Ekologi. Jadi, Keadilan Ekologi adalah keadilan makhluk hidup dan lingkungan hidup. Lalu, siapakah yang akan menyuarakan dan mewujudkan Keadilan Ekologi ? Jawabannya adalah Aktivis/Pembela Lingkungan (orang yang bergiat di organisasi lingkungan), MAPALA,Masyarakat korban kerusakan lingkungan, Jurnalis Lingkungan (Pewarta yang paham tentang lingkungan hidup dan Pengacara Lingkungan (praktisi yang paham tentang lingkungan hidup).

Gambar 4. Forum Peserta Tewu Wicara

Pembahas tentang lingkungan dilanjutkan dalam forum, peserta yang hadir diperbolehkan untuk mengajukan pendapat juga menanggapi, dan perwakilan dari Pusat Koordinasi Daerah (PKD) juga menyampaikan isu lingkungan dari daerahnya masing-masing. Setelah itu isu yang paling banyak dipilih akan menjadi isu Nasional untuk dijadikan titik fokus atau proker tiap daerah satu tahun ke depan. Isu yang disepakati peserta forum TWKM adalah Indonesia Darurat Keadilan Ekologi “Selamatkan Indonesia”

Salah satu fakta nyata dari dampak kerusakan ekologi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab adalah kejadian banjir bandang di Desa Wombo Kalonggo,Kec.Tanantovea Kab. Donggala, Sulteng,yang mengakibatkan kerugian dan dampak serius bagi warga terdampak. Kronologi kejadiannya pada hari Selasa,27 Mei 2025 pukul 15.30 WITA Desa Wombo Kalonggo diguyur hujan dengan intensitas tinggi yang mengakibatkan meluapnya air sungai dan menyebabkan banjir bandang.(Bersumber dari : BPBD Prov Sulteng).

Gambar 5. Penggalangan Dana Banjir Bandang Donggala
Gambar 6. Membersihkan Fasilitas Umum

Sebagai bentuk kepedulian,peserta TWKM turut mengambil peran nyata dengan melakukan penggalangan dana untuk meringankan konsumsi warga yang terdampak dan membantu membersihkan fasilitas umum khususnya sekolahan yang yang penuh dengan lumpur. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia,peserta TWKM yang masih berada di Universitas Tadulako melakukan aksi damai di depan kampus. Aksi ini dilakukan untuk menyuarakan krisis yang tidak bisa didiamkan. MAPALA Indonesia sangat mengecam keras adanya eksploitasi pertambangan, mempercepat pemulihan lingkungan dan ketahanan iklim serta menghentikan pertambangan nikel di Raja Ampat.

Gambar 7. Aksi Damai dan Pembagian Bibit Pohon

Peserta TWKM tidak hanya bersuara melalui aksi dan diskusi,tetapi juga bertindak langsung dengan membagikan bibit pohon kepada masyarakat dengan harapan bibit itu akan tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan yang hijau dan lestari di masa depan.

Gambar 8. Penutupan TWKM 2025

Tugas MAPALA tidak berhenti disini saja, namun akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya tantangan lingkungan di masa depan. Sebagai generasi muda yang peduli dan tangguh, anggota MAPALA juga dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi. Semangat kepecintaalaman harus senantiasa hidup dalam setiap langkah, baik di hutan maupun di ruang akademik,sebagai bentuk komitmen terhadap bumi dan kehidupan yang berkelanjutan.

SALAM LESTARI