Bab Terakhir yang Selalu Enggan Ditutup

Editor Penerbit Daarut Tauhiid (MQS). Novelis dan penulis lepas di Kota Bandung.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali aku menuliskan kata terakhir di bab penutup sebuah novel—sebagaimana di novel ini (Tetap Jadi Istriku di Akhirat Nanti)—selalu ada dua perasaan yang datang bersamaan. Seperti dua halaman yang saling menempel tapi enggan dipisahkan. Ada lega, seperti napas panjang seorang pelari yang akhirnya menyentuh garis akhir. Cerita itu selesai. Ia utuh. Ia tak lagi berutang pada imajinasiku. Namun di saat yang sama, ada rasa enggan menutup kisah di novel itu. Seolah aku sedang mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang sudah kutinggali terlalu lama, pada tokoh-tokoh yang terlalu hidup untuk sekadar ditinggalkan sebagai huruf mati.
Kadang ceritanya terlalu indah untuk diakhiri. Kadang justru terlalu sedih, hingga menutupnya terasa seperti menutup luka yang belum benar-benar sembuh. Aku ingin menahannya sedikit lebih lama, menunda satu paragraf lagi, satu adegan kecil lagi, sekadar alasan agar perpisahan itu tidak terjadi hari ini. Tapi novel, seperti waktu, tidak pernah suka ditunda. Ia menuntut akhir, sebab tanpa akhir, ia bukan cerita, hanya labirin yang berputar-putar di kepala penulisnya sendiri.
Aku tahu, aku harus mengakhirinya. Bukan karena aku kehabisan kata, tapi karena aku perlu ruang untuk kisah lain. Tema lain. Wajah lain. Dunia lain yang menunggu untuk dilahirkan. Setiap akhir novel adalah semacam pengosongan diri. Melepaskan satu semesta agar semesta lain bisa tumbuh. Menyakitkan, tapi perlu. Seperti menutup pintu rumah lama agar bisa berani mengetuk pintu yang baru.
Di situlah pelan-pelan aku mengerti. Proses menulis dan mengakhiri novel tak ubahnya latihan kecil memahami kehidupan. Kita tidak pernah benar-benar siap meninggalkan satu fase, tapi waktu tak menunggu kesiapan itu. Masa kanak-kanak, remaja, usia kuliah yang gamang, dunia kerja yang menuntut, cinta yang ditemukan atau hilang, lalu peran sebagai orang tua. Semuanya datang dengan alurnya sendiri. Ada bab yang ingin kita ulang, ada bab yang ingin kita coret, tapi semuanya tetap bergerak menuju halaman berikutnya.
Kita bisa mencintai sebuah fase sepenuh hati, atau membencinya dengan segenap tenaga, namun pada waktunya ia tetap harus ditutup. Bukan karena ia tidak penting, melainkan karena hidup, seperti novel yang baik, hanya bisa bergerak maju jika berani menyelesaikan bab-babnya. Dan mungkin, kebijaksanaan terbesar seorang penulis—juga seorang manusia—bukanlah menulis awal yang indah, melainkan menerima bahwa setiap keindahan dan kesedihan pun layak diberi akhir, agar cerita lain punya kesempatan untuk dimulai.
