Konten dari Pengguna

Kepala yang Terlalu Ramai

Suhendri Cahya Purnama

Suhendri Cahya Purnama

Editor Penerbit Daarut Tauhiid (MQS). Novelis dan penulis lepas di Kota Bandung.

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dreamina.capcut.com
zoom-in-whitePerbesar
dreamina.capcut.com

Aku menulis lagi, bukan karena dompet memanggil, melainkan karena kepala tak lagi bisa diam. Ada terlalu banyak suara di dalam. Ide-ide berjejal, saling siku, saling mendesak. Seperti bom waktu yang berdetak pelan namun tak pernah benar-benar berhenti.

Dulu aku sempat memilih-milih kata berdasarkan apa yang bisa ditukar dengan angka. Tulisan harus berguna, kataku. Harus ada manfaat langsung, harus ada hasil yang bisa dihitung. Maka aku menulis seperlunya, secukupnya, sebatas yang diminta.

Tapi pikiran rupanya tidak mengenal kata “cukup”.

Ia menimbun hal-hal yang tak sempat lahir. Fragmen cerita, kalimat yang ingin memberontak, pertanyaan-pertanyaan yang tak laku dijual. Semakin lama disimpan, kepala terasa sesak. Bukan karena kosong, melainkan karena terlalu penuh.

Kini aku paham. Aku menulis bukan karena berlebih uang, melainkan karena berlebih ide. Dan ide, jika terlalu lama dipenjara, akan berubah menjadi kegelisahan.

Menulis bagiku hari ini bukan strategi, bukan juga negosiasi dengan dunia. Ia adalah pelepasan. Seperti menghembuskan napas panjang setelah lama menahannya demi terlihat rasional.

Jika kelak tulisan ini dibaca orang, syukur. Jika tidak, ia tetap perlu lahir. Sebab tidak semua yang penting harus segera berguna.

Ada yang cukup dikeluarkan agar jiwa tidak meledak dari dalam.