Menemani Renjana di Taman Cattleya

Editor Penerbit Daarut Tauhiid (MQS). Novelis dan penulis lepas di Kota Bandung.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Langkah kakiku meninggalkan lobi hotel ketika jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul setengah enam sore. Udara Jakarta terasa hangat; bukan panas yang menyengat, melainkan semacam sisa napas hari yang menua perlahan. Aku melangkah menuju Taman Cattleya—taman kecil di tengah rimba beton, oase hijau yang mencoba bertahan di antara deru kendaraan dan hiruk kehidupan yang tak mengenal jeda.
Senja, entah mengapa, selalu menjadi waktu yang aku sukai. Barangkali karena ia bukan pagi yang menjanjikan, bukan malam yang menutup, melainkan peralihan. Masa liminal yang menggantung antara terang dan gelap. Banyak orang memandangnya dengan mistisisme, seolah senja menyimpan rahasia semesta yang tak terkatakan. Namun bagiku, senja adalah keindahan adiluhung: kesadaran bahwa segala yang indah pun harus meredup agar bisa memberi ruang bagi keindahan yang lain.
Taman sore itu hampir sepi. Hanya ada satu dua orang melintas, entah berolahraga atau sekadar menunggu seseorang. Aku mengambil tempat di bangku kayu di tepian danau buatan. Permukaan airnya beriak lembut, memantulkan sisa cahaya oranye yang menembus celah gedung-gedung tinggi di sekelilingnya. Di sinilah aku, seorang diri, menunggu renjana datang—cahaya merah saga di langit kala matahari terbenam, yang bagi banyak orang menjadi sekadar peralihan waktu, tapi bagi sebagian lainnya adalah momen yang diburu.
Para penangkap cahaya menyebutnya waktu emas (golden hour). Mereka mengejarnya dengan kamera, berharap mengabadikan detik-detik paling syahdu di langit. Namun, aku bukan penangkap cahaya. Aku penangkap makna dalam aksara. Dan bagiku, renjana bukan sekadar fenomena alam, melainkan bahan bakar batin, energi lembut yang menyusup ke dalam jiwa. Ia hanya berlangsung beberapa menit, tapi cukup untuk mengisi ulang kekosongan hari-hari yang kadang terasa terlalu panjang.
Biasanya aku menikmati senja dan menanti renjana dari jendela kantorku di Bandung, lantai tiga, dengan pandangan yang lapang ke arah barat. Di sana, matahari tenggelam di balik perbukitan, seolah dunia sedang menutup matanya dengan lembut. Namun di sini, di tengah Jakarta Barat, renjana datang dengan cara lain. Ia tidak terlihat utuh. Terhalang gedung-gedung yang tinggi, menutup horizon, menutup langit. Namun, justru dalam keterbatasan itu, ada sesuatu yang lebih dalam. Sebuah ekstase yang tenang, kedamaian yang tidak berisik, seperti seseorang yang akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri.
Aku teringat pada Kahlil Gibran, yang pernah menulis bahwa keindahan bukanlah sesuatu yang dapat dilihat mata, melainkan sesuatu yang dirasakan oleh jiwa. Ia menulis tentang kesunyian dan kerinduan dengan cara yang membuat sepi menjadi sakral.
Mungkin, di taman ini, aku sedang mengalami versi kecil dari kesunyian yang sama. Kesunyian yang tidak kosong, tapi penuh gema. Gema dari waktu yang lewat, dari cahaya yang perlahan mundur, dari diriku sendiri yang diam-diam ingin memahami hidup dengan lebih jujur.
Senja di Taman Cattleya bukanlah pertunjukan besar. Tidak ada langit berapi, tidak ada cakrawala terbuka. Namun di balik segala ketersembunyian itu, ada sesuatu yang lebih jujur daripada langit terbuka. Ada kehidupan yang tetap berdenyut di tengah redupnya cahaya. Ada ketenangan yang muncul justru karena kota di sekelilingnya tak pernah benar-benar berhenti.
Ketika azan Magrib mulai terdengar, cahaya terakhir pun memudar. Aku masih duduk, menatap danau yang kini memantulkan lampu-lampu kota. Dalam hati aku tahu: renjana tidak selalu datang dari apa yang terlihat, melainkan dari apa yang dirasakan, dalam diam, di antara terang dan gelap.
Seperti kata Kahlil Gibran, “Dalam keheningan malam, engkau akan mendengar lagu jiwa.” Dan mungkin, di taman kecil ini, aku baru saja mendengarnya.
