Mengapa di Dunia Ini Ada Lelaki Mokondo

Editor Penerbit Daarut Tauhiid (MQS). Novelis dan penulis lepas di Kota Bandung.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selalu saja ada mereka: lelaki mokondo. Nama yang terlalu vulgar untuk disebutkan di meja makan, namun terlalu nyata untuk diingkari di jalanan. Mereka seperti spesies purba yang menolak punah, melata dari zaman ke zaman, menghirup oksigen yang sama dengan kita, tapi entah mengapa selalu terasa racun bagi sekitarnya.
Apakah ini salah bunda mengandung? Tentu tidak. Rahim hanya ruang singgah, bukan pabrik moral. Atau salah Oemar Bakrie, guru polos yang katanya mengajar dengan kapur putih di papan hitam? Bisa jadi. Sebab yang ia tinggalkan pada sebagian murid bukanlah ilmu, melainkan keluguan yang rawan dibajak kebiadaban.
Ironi dari fatherless, yang seharusnya menjadi ayah, lahirlah lelaki yang secara hukum punya bapak, tapi secara batin tumbuh tanpa teladan. Ayah ada, tapi tak pernah hadir—bayangan yang hanya mengisi kursi ruang tamu, bukan hati anaknya.
Dan kini, para petinggi yang gemar rapat sambil merapikan dasi, dengarlah. Jangan pernah anggap remeh spesies mokondo ini. Mereka bukan sekadar aib keluarga, melainkan epidemi sosial. Indonesia emas yang diagung-agungkan tahun 2045 nanti? Bisa saja hanya menjadi karangan bunga di pusara harapan, sebab generasi emas sudah habis dijarah—oleh mokondo, atau lebih tragis lagi, generasi itu sendiri berubah menjadi mokondo.
Layaknya zombie yang muak jadi manusia, lalu menularkan gigitan busuknya kepada siapa pun yang terlalu lemah untuk melawan.
Nietzsche pernah menulis: “Siapa pun yang bertarung melawan monster harus berhati-hati agar dia sendiri tidak menjadi monster. Dan jika kau menatap jurang terlalu lama, jurang itu pun menatap balik kepadamu.”
Bukankah itulah risiko kita? Membiarkan mokondo berkeliaran tanpa perlawanan hanya membuat kita yang normal perlahan meniru langkahnya.
Dan di sudut yang lebih jauh, suara Socrates menggema: “Hidup yang tak pernah diperiksa, tak layak dijalani.” Lelaki mokondo adalah cermin betapa banyak orang memilih hidup tanpa perenungan, tanpa memeriksa diri, tanpa bertanya: apakah aku sedang hidup sebagai manusia, atau hanya sekadar menumpang sebagai parasit?
Lelaki mokondo tidak lahir tiba-tiba. Ia produk kelalaian bersama. Ia benalu yang tumbuh di tanah subur dari kemunafikan masyarakat: kita suka menutup mata, asal bukan anak kita; kita suka membiarkan, asal tidak merugikan dompet kita. Dan akhirnya, virus itu beranak-pinak, berjalan bebas di antara kita, dengan wajah santai seakan mereka makhluk normal.
Mokondo selalu ada, karena kita selalu memberi ruang. Pertanyaannya bukan lagi mengapa mereka lahir, tapi kapan kita berhenti melahirkan mereka.
