Konten dari Pengguna

Panggilan Alam yang Tak Pernah Usai

Suhendri Cahya Purnama

Suhendri Cahya Purnama

Editor Penerbit Daarut Tauhiid (MQS). Novelis dan penulis lepas di Kota Bandung.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dok. pribadi
zoom-in-whitePerbesar
dok. pribadi

Gunung selalu punya cara memanggil. Bukan dengan suara keras, bukan pula dengan peta yang terhampar di meja. Ia memanggil dengan sesuatu yang lebih hening… dengan ingatan.

Kadang, di sela hari yang sibuk dan halaman-halaman cerita yang kutulis,

tiba-tiba saja aku kembali menjadi pemuda itu. Pemuda yang berjalan bersama enam sahabat lainnya. Bertujuh orang, dengan ransel yang lebih ringan dari mimpi, dan mimpi yang lebih ringan dari langkah kaki.

Kami menyibak belukar hutan yang hanya mengenal bahasa angin dan daun. Tak ada klakson, tak ada jadwal, tak ada target yang dikejar selain puncak yang entah seberapa tinggi rasanya.

Hanya suara alam.

Daun yang berdesir. Burung yang bersahut. Ranting patah di bawah sepatu. Dan sesekali tawa kami yang memecah kesunyian hutan seperti anak-anak yang baru menemukan dunia.

Malam-malam kami lalui di bawah langit yang terlalu luas untuk ditatap sendirian. Tenda kecil berdiri seperti titik-titik kecil di samudra gelap. Api unggun menyala,

dan suara alam menjadi musik pengantar tidur.

Ada gemericik air yang jatuh dari air terjun. Ada aliran sungai yang kami lintasi dengan celana digulung hingga lutut. Ada dingin yang menggigit, dan kehangatan yang entah datang dari mana… mungkin dari kebersamaan, mungkin dari rasa hidup yang begitu terasa.

Kami pernah menyusuri pesisir pantai. Mendirikan tenda di tepiannya, menunggu matahari terbit seperti menunggu rahasia alam dibuka perlahan.

Langit berubah warna. Laut memantulkan cahaya pagi. Dan kami hanya duduk,

diam, menyadari bahwa dunia ini terlalu indah untuk dimiliki sendirian.

Kami juga pernah melepas matahari tenggelam tanpa tergesa pulang. Karena saat itu waktu terasa longgar, seperti jalan panjang yang tak pernah meminta kita berlari.

Uang kami tak seberapa. Tak ada simpanan menggunung. Tak ada rencana masa depan yang disusun dalam tabel-tabel ambisi.

Namun ada sesuatu yang jauh lebih mahal dari itu semua.

Hati yang merdeka.

Sebagian orang menjalani masa muda dengan target dan pencapaian duniawi. Aku tidak menyalahkan mereka. Setiap orang punya jalannya sendiri menuju makna.

Tetapi masa mudaku berjalan dengan cara yang lain. Mengalir mengikuti panggilan alam.

Dan anehnya, panggilan itu tidak pernah benar-benar pergi.

Kini langkah kaki mungkin tak lagi sering menyusuri hutan. Ransel mungkin lebih lama tergantung di sudut rumah. Namun suara itu masih ada.

Ia menyublim.

Menjelma menjadi kata-kata. Menjadi napas dalam cerita-cerita yang kutulis. Menjadi nyawa dalam tokoh-tokoh yang berjalan di halaman novelku.

Setiap hutan yang kutulis, setiap angin gunung yang kubayangkan, setiap matahari terbit dalam cerita... sebenarnya adalah jejak dari perjalanan lama itu.

Jejak dari masa ketika dunia terasa luas dan hidup terasa sederhana.

Untuk semua sahabat yang pernah berjalan bersamaku waktu itu, yang pernah tertawa di jalur pendakian, yang pernah berbagi mie instan di bawah langit malam, yang pernah diam memandang matahari terbit di tepi laut…

Aku hanya ingin mengatakan:

Terima kasih.

Karena tanpa kalian, mungkin gunung hanya akan menjadi pemandangan. Bukan kenangan.

Kini kita mungkin telah mendekati paruh usia. Langkah tidak lagi secepat dulu. Pundak tak lagi sekuat dulu.

Namun aku berharap satu hal tetap tinggal di dalam diri kita.

Bahwa suatu tempat di dalam hati kita masih ada suara yang lembut memanggil… suara angin gunung, suara ombak pantai, suara alam yang dulu kita ikuti tanpa ragu.

Semoga panggilan itu masih terus mengalun indah dalam hidup kita.