Sepekan Tanpa Riuh

Editor Penerbit Daarut Tauhiid (MQS). Novelis dan penulis lepas di Kota Bandung.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama hampir sepekan ini, aku seperti berjalan pelan di tengah dunia yang berlari.
Di luar sana, gema tawa Lebaran berpendar. Pesan-pesan berseliweran, ucapan saling bersahut, foto-foto kebahagiaan memenuhi ruang maya yang selalu riuh. Tapi aku tidak ikut larut di dalamnya. Tidak ada ucapan yang kuketik, tidak ada kabar yang kukirim. Ponselku lebih sering tergeletak diam. Seolah ia pun mengerti bahwa kali ini, aku tidak sedang ingin menjadi bagian dari arus.
Bukan karena aku menjauh. Bukan karena aku ingin menghilang.
Aku hanya sedang berhenti.
Berhenti dengan cara yang sederhana. Nyaris tak terlihat, bahkan mungkin tak berarti bagi siapa pun selain diriku sendiri. Jeda kecil yang sengaja kubentangkan di tengah hidup yang biasanya penuh tuntutan untuk terus bergerak, terus merespons, terus menjadi sesuatu.
Jeda ini… kosong.
Tidak kuisi dengan pertanyaan. Tidak pula kugantikan dengan pencarian jawaban. Ia tidak seperti malam-malam panjang yang biasanya dipenuhi kegelisahan. Tidak juga seperti kesunyian yang meminta untuk dipahami. Jeda ini lebih mirip rinai hujan yang jatuh pelan. Tanpa tergesa, tanpa tujuan yang harus dimengerti.
Aku hanya menatapnya.
Membiarkan waktu mengalir tanpa kuukur, tanpa kuhitung. Tidak ada keinginan untuk tahu kapan semua ini akan selesai. Seperti seseorang yang duduk di tepi jendela, melihat hujan turun, tanpa bertanya kapan langit akan kembali cerah.
Dan anehnya, di dalam kekosongan itu, aku tidak merasa kehilangan apa pun.
Barangkali bagi sebagian orang, ini tampak seperti kemewahan yang sia-sia, atau bahkan kemalasan yang disamarkan. Di zaman ketika setiap detik seolah harus produktif, jeda seperti ini bisa terlihat absurd. Membiarkan waktu lewat begitu saja, tanpa makna yang bisa dipamerkan, tanpa hasil yang bisa dihitung.
Tapi justru di situlah aku menemukannya.
Ruang yang tidak menuntutku menjadi apa-apa. Waktu yang tidak meminta penjelasan.
Aku hanya ada.
Dan mungkin, selama ini, aku terlalu sering lupa bagaimana rasanya sekadar ada. Tanpa peran, tanpa ekspektasi, tanpa kebutuhan untuk menjawab dunia.
Di antara detik-detik yang mengalir itu, aku mulai menyadari sesuatu yang halus. Waktu terasa semakin singkat bukan karena benar-benar berlari lebih cepat, tapi karena aku terlalu jarang benar-benar hadir di dalamnya.
Kini, di jeda yang kosong ini, aku mencoba kembali hadir.
Tidak untuk menemukan sesuatu. Tidak untuk memperbaiki apa pun.
Hanya untuk merasakan. Bahwa waktu masih ada, dan aku masih di dalamnya.
