UI/UX Bukan Sekadar Desain: Keterampilan Penting Mahasiswa Sistem Informasi

Mahasiswa Sistem Informasi di Universitas Pamulang yang juga berprofesi sebagai freelancer. Aktif mengembangkan diri di bidang data science, machine learning, dan teknologi jaringan. Berkomitmen menciptakan inovasi digital yang bermanfaat.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Reesca Dio Bralyanto Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Masih banyak mahasiswa Sistem Informasi yang menganggap UI/UX hanya soal desain tampilan agar aplikasi terlihat menarik. Akibatnya, pembelajaran UI/UX sering dipandang kurang penting dibanding coding, database, atau networking. Padahal, di dunia industri, banyak produk digital gagal bukan karena sistemnya tidak berjalan, tetapi karena pengguna merasa aplikasi tersebut sulit dipahami dan tidak nyaman digunakan.

Dalam disiplin Sistem Informasi, mahasiswa memang dilatih berpikir sistematis melalui pendekatan seperti System Development Life Cycle (SDLC). Namun, realitas industri menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah sistem tidak hanya ditentukan oleh kualitas kode, tetapi juga oleh pengalaman pengguna saat memakai sistem tersebut.
Laporan dari Project Management Institute (PMI) dan IEEE bahkan menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan proyek perangkat lunak berasal dari buruknya pemahaman terhadap kebutuhan pengguna. Artinya, aplikasi secanggih apa pun tetap bisa gagal jika tidak sesuai dengan cara manusia berpikir dan bekerja.
Di sinilah UI (User Interface) dan UX (User Experience) menjadi penting bagi mahasiswa Sistem Informasi. UI/UX bukan sekadar urusan estetika visual, melainkan bagian dari proses analisis untuk memahami bagaimana pengguna berinteraksi dengan sistem.
Dalam dunia industri, UX juga dianggap sebagai investasi bisnis yang terukur. Riset Forrester Research menyebutkan bahwa setiap 1 dolar yang diinvestasikan pada UX dapat menghasilkan keuntungan berkali-kali lipat karena mampu meningkatkan kenyamanan pengguna, mengurangi kesalahan penggunaan, serta meningkatkan loyalitas pengguna terhadap produk digital.
Bagi mahasiswa Sistem Informasi, pemahaman UI/UX membantu dalam menyelaraskan kebutuhan bisnis dengan perilaku pengguna. Saat mempelajari database, mahasiswa belajar bagaimana sistem menyimpan data. Namun dalam UX, mahasiswa belajar bagaimana manusia mencari, memahami, dan menggunakan data tersebut secara efisien.
Contohnya dapat dilihat pada aplikasi kampus atau layanan digital yang sebenarnya memiliki fitur lengkap, tetapi justru membingungkan pengguna karena navigasinya rumit. Masalah seperti ini sering terjadi bukan karena sistemnya rusak, melainkan karena pengembang kurang memahami pengalaman pengguna.
Selain itu, industri digital saat ini juga membutuhkan talenta yang tidak hanya mampu membuat program, tetapi mampu menyelesaikan masalah nyata. Mahasiswa Sistem Informasi yang memahami UX Research, usability testing, atau user journey memiliki nilai tambah karena mampu menjembatani kebutuhan bisnis, teknologi, dan manusia sekaligus.
Di era kecerdasan buatan (AI) saat ini, kemampuan menulis kode perlahan mulai terbantu oleh teknologi. Namun, kemampuan memahami perilaku manusia, membangun empati terhadap pengguna, dan merancang pengalaman digital yang nyaman tetap menjadi keterampilan yang sulit tergantikan.
Karena itu, sudah saatnya mahasiswa Sistem Informasi memandang UI/UX bukan hanya sebagai pelengkap desain, tetapi sebagai bagian penting dari proses membangun sistem yang benar-benar bermanfaat bagi manusia.
