K3 Bukan Sekadar Aturan, tetapi Kebiasaan yang Perlu Dibangun

Perkenalkan saya Mahasiswa S1 Jurusan Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang, Tangerang Selatan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dionisius Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Keselamatan sering kali baru menjadi perhatian setelah terjadi kecelakaan. Selama aktivitas berjalan normal, risiko yang ada di sekitar kita terkadang dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, kecelakaan dapat muncul dari hal-hal yang terlihat sederhana.

Lantai yang licin, kabel listrik yang tidak tertata, penggunaan alat tanpa memperhatikan prosedur, posisi kerja yang tidak tepat, hingga kebiasaan terburu-buru dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan.
Di sinilah Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 menjadi penting.
K3 sering dikaitkan dengan pabrik, proyek konstruksi, atau pekerjaan yang menggunakan alat berat. Padahal, prinsip keselamatan sebenarnya relevan untuk berbagai lingkungan, termasuk perkantoran, sekolah, kampus, laboratorium, dan tempat umum.
Menurut saya, persoalan K3 bukan hanya mengenai keberadaan aturan. Tantangan yang lebih besar justru bagaimana keselamatan dapat menjadi kebiasaan.
Kecelakaan Tidak Selalu Berawal dari Risiko Besar
Ketika mendengar istilah kecelakaan kerja, mungkin yang terbayang adalah kejadian besar di lokasi konstruksi atau industri.
Kenyataannya, risiko bisa ditemukan dalam aktivitas yang jauh lebih sederhana.
Seseorang dapat terpeleset karena lantai basah. Kabel yang melintang di jalur orang berjalan dapat membuat seseorang tersandung. Peralatan listrik yang tidak digunakan dengan benar juga dapat menimbulkan bahaya.
Hal-hal seperti ini terlihat kecil sampai akhirnya menimbulkan masalah.
Karena itu, salah satu hal penting dalam K3 adalah kemampuan mengenali bahaya sebelum terjadi kecelakaan.
Tidak semua risiko harus menunggu sampai menimbulkan korban untuk diperbaiki.
Keselamatan Bukan Hanya Tanggung Jawab Petugas K3
Ada anggapan bahwa urusan keselamatan merupakan tanggung jawab petugas tertentu.
Padahal, budaya keselamatan akan sulit terbentuk apabila hanya beberapa orang yang memperhatikannya.
Pekerja, pengelola tempat kerja, mahasiswa, guru, hingga masyarakat mempunyai peran sesuai dengan lingkungan dan aktivitas masing-masing.
Contohnya sederhana.
Ketika melihat lantai basah, seseorang dapat memberi peringatan atau segera melaporkannya. Barang tidak diletakkan sembarangan di jalur evakuasi. Peralatan digunakan sesuai fungsinya. Ketika melakukan pekerjaan yang memang membutuhkan alat pelindung diri, perlengkapannya digunakan dengan benar.
Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi justru menjadi bagian dari pencegahan.
Indonesia sendiri memiliki dasar hukum mengenai keselamatan kerja melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Aturan tersebut antara lain mengatur syarat keselamatan untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan, memberikan pertolongan pada kecelakaan, menyediakan jalan penyelamatan, serta memberikan alat perlindungan diri kepada pekerja.
Artinya, keselamatan bukan sekadar imbauan tambahan dalam aktivitas kerja.
Mengapa Pelatihan K3 Tetap Dibutuhkan?
Memiliki aturan belum tentu membuat seseorang memahami risiko.
Di sinilah pelatihan dan edukasi K3 mempunyai peran.
Pelatihan dapat membantu seseorang belajar mengenali potensi bahaya, memahami tindakan pencegahan, mengetahui prosedur ketika terjadi keadaan darurat, dan membangun kesadaran terhadap lingkungan sekitar.
Namun, pelatihan seharusnya tidak berhenti pada sertifikat atau kegiatan seminar.
Pengetahuan yang diperoleh akan lebih bermanfaat ketika diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa jalur evakuasi tidak boleh terhalang. Namun, pengetahuan tersebut tidak berarti banyak apabila barang tetap diletakkan di depan pintu darurat.
Begitu pula dengan alat pelindung diri. Mengetahui fungsinya berbeda dengan benar-benar menggunakannya ketika pekerjaan mengharuskan.
Karena itu, menurut saya keberhasilan edukasi K3 justru terlihat setelah kegiatan pelatihan selesai.
K3 Juga Penting di Lingkungan Pendidikan
Pembahasan mengenai K3 juga menarik jika dibawa ke lingkungan pendidikan.
Sekolah memang berbeda dengan pabrik atau lokasi konstruksi, tetapi bukan berarti lingkungan pendidikan bebas dari risiko.
Ada ruang kelas, tangga, lapangan, laboratorium, instalasi listrik, kantin, fasilitas olahraga, dan berbagai sarana lain yang digunakan setiap hari.
Guru dan tenaga kependidikan juga berinteraksi dengan banyak peserta didik.
Karena itu, kesadaran mengenai keselamatan menjadi penting.
Misalnya, guru perlu mengetahui jalur evakuasi ketika terjadi keadaan darurat. Kondisi ruang kelas perlu diperhatikan agar tidak membahayakan siswa. Aktivitas praktikum membutuhkan prosedur yang sesuai. Fasilitas sekolah juga perlu dijaga agar tetap aman digunakan.
K3 dalam pendidikan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang rumit.
Membiasakan siswa menjaga ruang tetap aman, tidak berlari di tempat yang berisiko, menggunakan peralatan sesuai fungsi, hingga memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat merupakan bentuk pendidikan keselamatan.
Keselamatan Juga Berkaitan dengan Produktivitas
K3 bukan hanya berbicara mengenai menghindari kecelakaan.
Lingkungan yang aman dan sehat juga berhubungan dengan keberlangsungan aktivitas kerja.
Ketika terjadi kecelakaan, dampaknya dapat menyentuh banyak hal. Aktivitas dapat terganggu, seseorang mungkin tidak dapat bekerja untuk sementara waktu, fasilitas bisa mengalami kerusakan, dan organisasi dapat menghadapi biaya tambahan.
Sebaliknya, upaya pencegahan membantu menciptakan lingkungan yang lebih tertata.
Hal ini membuat K3 juga mempunyai sisi ekonomi.
Pencegahan kecelakaan dapat membantu mengurangi kerugian yang sebenarnya bisa dihindari. Bagi organisasi, keselamatan bukan hanya persoalan memenuhi aturan, tetapi juga bagian dari pengelolaan sumber daya manusia dan kegiatan operasional.
Tantangannya adalah Kebiasaan
Peralatan keselamatan dapat dibeli.
Prosedur dapat ditulis.
Poster keselamatan dapat ditempel.
Pelatihan juga dapat diselenggarakan.
Namun, semua itu belum tentu menciptakan lingkungan yang aman apabila orang-orang di dalamnya tidak mempunyai kebiasaan untuk memperhatikan keselamatan.
Menurut saya, bagian inilah yang menjadi tantangan terbesar.
Budaya K3 dibangun melalui tindakan yang dilakukan berulang kali. Memeriksa kondisi sebelum bekerja, mengikuti prosedur, menggunakan perlengkapan yang sesuai, melaporkan bahaya, dan tidak menganggap remeh risiko merupakan contoh sederhana.
Keselamatan akhirnya bukan lagi sesuatu yang dilakukan karena takut mendapatkan teguran.
Keselamatan menjadi bagian dari cara seseorang melakukan pekerjaan.
Membangun Kesadaran Sebelum Terlambat
Tidak ada orang yang berangkat bekerja, belajar, atau melakukan aktivitas dengan keinginan mengalami kecelakaan.
Karena itu, pencegahan seharusnya dilakukan sebelum kejadian muncul.
K3 mengajarkan cara berpikir sederhana tetapi penting: mengenali bahaya, memahami risikonya, kemudian melakukan tindakan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Pelatihan dan seminar K3 dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan pemahaman tersebut. Namun, tujuan akhirnya tetap berada pada penerapan.
Pada akhirnya, lingkungan yang aman tidak tercipta hanya karena mempunyai banyak aturan keselamatan.
Lingkungan yang aman terbentuk ketika orang-orang di dalamnya mempunyai kesadaran bahwa keselamatan adalah bagian dari aktivitas sehari-hari, bukan sesuatu yang baru dipikirkan setelah kecelakaan terjadi.
