Konten dari Pengguna

Dari Canggung Jadi Senang: Pengalaman Introvert Ikut Komunitas Bermain

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dionisius Wijaya De Jalu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Dokumentasi Komunitas Bermain Tangerang Selatan
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Dokumentasi Komunitas Bermain Tangerang Selatan

Jujur, sebelum datang ke kegiatan komunitas bermain ini, yang paling saya pikirkan bukan permainannya. Saya malah sibuk memikirkan satu hal: “Nanti saya punya teman enggak, ya?”

Saya memang termasuk orang yang introvert dan cukup pemalu. Bertemu dengan orang-orang baru bukan sesuatu yang langsung membuat saya nyaman. Biasanya ada rasa canggung dan bingung harus mulai berbicara dari mana.

Tapi kali ini saya mencoba memberanikan diri.

Saya datang ke kegiatan komunitas bermain yang dilaksanakan di Alun-Alun Pondok Aren, Tangerang Selatan. Sebelum berangkat, saya sempat membayangkan akan berdiri sendirian sambil melihat orang-orang lain bermain. Maklum, saya datang tanpa benar-benar mengenal siapa pun.

Ternyata pikiran saya salah.

Begitu sampai, orang-orang yang saya temui justru ramah. Suasananya juga tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak ada kesan bahwa saya harus langsung menjadi orang yang aktif atau banyak bicara.

Yang membuat saya semakin nyaman adalah kegiatan hari itu memang dibuat untuk bermain bersama.

Bukan permainan yang rumit atau membutuhkan peralatan canggih. Kami justru memainkan permainan yang mungkin sudah tidak terlalu sering saya temui dalam keseharian. Ada lompat tali, congklak, tak benteng, estafet suit, dan beberapa permainan lainnya.

Awalnya mungkin agak canggung. Namanya juga baru bertemu.

Tapi setelah permainan dimulai, suasananya berubah.

Saya jadi ikut tertawa, bergerak, dan berinteraksi dengan orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak saya kenal. Lucunya, saya tidak perlu memikirkan kalimat pembuka untuk mengajak bicara. Permainannya sendiri yang membuat kami akhirnya berinteraksi.

Dari situ saya berpikir, ternyata mencari teman tidak selalu harus dimulai dengan ngobrol panjang.

Kadang cukup dengan bermain bersama.

Hal sederhana itu justru membuat saya menikmati kegiatan tersebut. Saya yang awalnya datang dengan kekhawatiran tidak punya teman malah bisa mengikuti permainan dan menikmati suasananya.

Saya juga baru sadar bahwa selama ini mungkin saya terlalu sering memikirkan sesuatu sebelum mencobanya.

“Bagaimana kalau tidak ada yang mengajak bicara?”

“Bagaimana kalau saya malah sendirian?”

“Bagaimana kalau saya tidak cocok dengan mereka?”

Pertanyaan seperti itu ternyata hanya ada di kepala saya.

Kenyataannya tidak seseram itu.

Bukan berarti setelah mengikuti kegiatan tersebut saya tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat aktif dan mudah bergaul. Saya tetap seorang yang membutuhkan waktu untuk merasa nyaman dengan orang baru.

Tetapi setidaknya saya mendapatkan pengalaman bahwa menjadi introvert bukan berarti harus selalu menghindari lingkungan baru.

Saya tetap bisa datang ke tempat yang belum pernah saya datangi, bertemu orang yang belum saya kenal, kemudian menikmati kegiatan bersama mereka.

Menurut saya, bagian paling menarik dari komunitas bermain justru bukan pada jenis permainannya. Saya lebih melihat bagaimana permainan sederhana bisa menjadi jembatan bagi orang-orang yang awalnya tidak saling mengenal.

Coba saja bayangkan. Kalau hanya disuruh berdiri dan memperkenalkan diri satu per satu, mungkin saya akan lebih gugup.

Tetapi ketika diajak bermain tak benteng atau mengikuti estafet suit, suasananya menjadi jauh lebih santai.

Ada yang tertawa karena kalah, ada yang bersemangat mengejar teman, dan ada juga momen-momen kecil yang membuat kami akhirnya saling berbicara.

Dari pengalaman itu, saya jadi merasa bahwa kegiatan seperti ini masih menarik untuk anak muda. Apalagi sekarang banyak aktivitas yang bisa dilakukan melalui ponsel. Kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang, tetapi belum tentu benar-benar bertemu dan melakukan sesuatu bersama.

Saya sendiri merasa ada perbedaan ketika berinteraksi secara langsung.

Bisa tertawa bersama, bermain, dan melihat ekspresi orang lain secara langsung memberikan pengalaman yang tidak sama dengan sekadar berkomunikasi lewat layar.

Dan ternyata saya menikmati itu.

Hal yang awalnya saya takutkan justru menjadi bagian yang paling saya syukuri. Saya datang dengan pikiran, “Semoga saya punya teman.”

Saya pulang dengan pikiran yang berbeda:

“Ternyata seru juga.”

Pengalaman ini mungkin terlihat sederhana. Saya hanya datang ke sebuah komunitas dan bermain permainan bersama orang-orang baru.

Tetapi bagi saya, itu sudah menjadi satu langkah kecil untuk keluar dari rasa malu dan canggung.

Saya jadi belajar untuk tidak terlalu cepat membuat kesimpulan sebelum mencoba sesuatu. Kadang kita sudah membayangkan situasi terburuk, padahal kenyataannya bisa jauh lebih menyenangkan.

Kalau suatu saat ada kesempatan untuk mengikuti kegiatan komunitas bermain seperti ini lagi, saya tidak akan terlalu banyak berpikir seperti sebelumnya.

Saya mungkin masih malu.

Masih mungkin canggung.

Tapi sekarang saya sudah tahu satu hal: rasa canggung itu tidak selalu harus menjadi alasan untuk tidak datang.

Karena siapa tahu, dari satu keputusan sederhana untuk datang dan bermain, kita justru mendapatkan teman, pengalaman, dan cerita yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.