Ketika Guru Ikut Menari: Membangun Kedekatan Emosional dengan Peserta Didik

Saya Mahasiswa Universitas Pamulang, Jurusan Pendidikan Ekonomi di Tangerang Selatan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dionisius Wijaya De Jalu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di dalam dunia pendidikan, guru sering kali dipandang sebagai sosok yang bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Namun, menjadi seorang guru tidak hanya tentang seberapa banyak materi yang mampu disampaikan. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana seorang guru mampu membangun hubungan yang baik dengan peserta didik.

Bagi saya sebagai calon guru, kedekatan emosional menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan. Siswa bukan hanya datang ke sekolah dengan buku dan tugas, tetapi juga membawa perasaan, pengalaman, dan kondisi emosional yang berbeda-beda. Karena itu, menciptakan suasana belajar yang nyaman dapat menjadi bagian dari proses pendidikan itu sendiri.
Salah satu hal sederhana yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan bersama di luar pembelajaran akademik. Misalnya, guru ikut menari atau dance bersama peserta didik. Sekilas kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana dan tidak berhubungan langsung dengan pelajaran. Namun, dari kegiatan seperti inilah interaksi antara guru dan siswa dapat terbangun secara lebih santai.
Ketika guru bersedia ikut terlibat dalam kegiatan yang disukai siswa, batas antara guru sebagai pengajar dan siswa sebagai peserta didik dapat menjadi lebih cair tanpa menghilangkan rasa hormat. Guru menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya hadir ketika harus menjelaskan materi atau memberikan tugas, tetapi juga bersedia hadir dalam momen-momen yang membuat siswa merasa senang.
Pendekatan seperti ini dapat menjadi bagian dari pendekatan sosial dan emosional dalam pendidikan. Hubungan yang baik antara guru dan peserta didik dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif. Siswa dapat merasa lebih dihargai dan memiliki ruang untuk berinteraksi dengan gurunya secara lebih terbuka.
Namun, kedekatan emosional bukan berarti guru harus selalu menjadi teman bagi siswa atau menghilangkan batas profesional. Justru seorang guru perlu memahami batas tersebut. Guru tetap memiliki tanggung jawab untuk membimbing, memberikan arahan, dan menjaga sikap sebagai pendidik. Kedekatan yang dibangun seharusnya menjadi sarana untuk menciptakan kepercayaan, bukan menghilangkan peran guru.
Bagi calon guru, kemampuan memahami peserta didik menjadi sesuatu yang perlu terus dilatih. Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Ada siswa yang mudah berkomunikasi, ada yang lebih pendiam, dan ada pula yang membutuhkan pendekatan yang berbeda agar dapat merasa nyaman di lingkungan sekolah.
Karena itu, pendidikan masa depan seharusnya tidak hanya berbicara mengenai teknologi, kurikulum, atau kemampuan akademik. Pendidikan juga membutuhkan guru yang mampu memahami manusia yang berada di balik setiap nilai dan tugas yang diberikan.
Menari bersama mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Bernyanyi bersama mungkin hanya menjadi kegiatan sederhana di sela pembelajaran. Namun, bagi seorang siswa, pengalaman kecil seperti itu dapat menjadi bagian dari kenangan tentang guru yang membuat mereka merasa diterima dan dihargai.
Pada akhirnya, menjadi guru bukan hanya tentang mengajarkan apa yang diketahui, tetapi juga tentang bagaimana membuat peserta didik merasa bahwa proses belajar adalah sesuatu yang aman dan menyenangkan. Guru masa depan tidak harus kehilangan wibawa untuk menjadi dekat dengan siswanya. Justru dengan kedekatan yang sehat, empati, dan pendekatan emosional yang tepat, guru dapat membangun ruang belajar yang lebih manusiawi.
