Konten dari Pengguna

Dari Mendampingi Anak hingga Menulis Buku, Saya Belajar Memahami Pendidikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dionisius Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya pernah berpikir bahwa pengalaman mendampingi seorang anak hanya akan menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. Datang, mendampingi kegiatan, membantu ketika dibutuhkan, lalu pulang dan kembali melakukan hal yang sama pada hari berikutnya.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi/Dionisius Wijaya
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Dokumentasi pribadi/Dionisius Wijaya

Namun, ternyata pengalaman tersebut membawa saya ke sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya: ikut menulis sebuah buku.

Buku itu berjudul Dunia Mereka Cinta Kita: Kisah dari Orangtua dan Pendamping Anak Autis. Ketika akhirnya bisa memegang buku tersebut secara langsung dan melihat nama saya tercantum di sampulnya, ada perasaan yang sulit dijelaskan.

Bukan semata-mata karena nama saya berhasil tercetak dalam sebuah buku.

Saya justru kembali mengingat proses yang ada di baliknya.

Berawal dari Pengalaman Mendampingi Anak

Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam pendampingan anak berkebutuhan khusus, saya belajar bahwa mendampingi anak tidak sesederhana memberikan instruksi kemudian berharap semuanya langsung dilakukan.

Ada proses di dalamnya.

Ada hari ketika kegiatan berjalan cukup baik. Ada pula saat ketika kita perlu memberikan arahan berulang kali dan mencoba memahami apa yang sedang dibutuhkan anak.

Pengalaman tersebut perlahan mengubah cara saya memandang pendidikan.

Saya sedang menempuh pendidikan untuk menjadi seorang guru. Sebelumnya, saya mungkin lebih sering memikirkan profesi guru dari sisi bagaimana mengajar, membuat materi, memberikan tugas, atau menjelaskan pelajaran.

Ketika terlibat langsung dalam pendampingan anak, saya menyadari bahwa kemampuan mengajar saja tidak cukup.

Seorang pendidik juga perlu belajar memahami.

Ketika Pengalaman Berubah Menjadi Tulisan

Tidak semua pengalaman mudah dituangkan menjadi tulisan.

Ada perbedaan antara mengalami sesuatu secara langsung dengan mencoba menceritakannya kembali agar dapat dipahami orang lain.

Ketika pengalaman pendampingan tersebut akhirnya menjadi bagian dari sebuah buku, saya merasa ada kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang selama ini saya jalani.

Hal-hal yang mungkin terlihat biasa ketika dilakukan setiap hari ternyata mempunyai cerita.

Dari situ saya menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kalimat agar terdengar bagus. Menulis juga menjadi cara untuk merefleksikan pengalaman.

Saya harus kembali memikirkan apa yang sebenarnya saya pelajari.

Apa yang berubah dari diri saya?

Apa yang saya pahami setelah mendampingi anak?

Dan mengapa pengalaman tersebut layak untuk diceritakan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang membuat proses menulis menjadi lebih personal bagi saya.

Saya Belajar untuk Tidak Terburu-buru Menilai

Salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari dunia pendampingan adalah pentingnya tidak terlalu cepat memberikan penilaian terhadap seorang anak.

Setiap anak mempunyai karakter dan proses yang berbeda.

Apa yang terlihat sederhana bagi satu anak belum tentu sama mudahnya bagi anak lain. Begitu pula dengan cara berkomunikasi dan merespons suatu keadaan.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi saya sebagai calon guru.

Nantinya, ketika berada di ruang kelas, saya akan bertemu dengan banyak siswa dengan karakter yang berbeda. Tidak semuanya akan memahami materi dengan kecepatan yang sama. Tidak semuanya akan menunjukkan respons yang sama ketika belajar.

Saya tidak ingin hanya melihat siswa berdasarkan angka atau hasil akhirnya.

Saya ingin belajar melihat prosesnya juga.

Tentu saya masih harus banyak belajar untuk sampai ke sana. Namun, pengalaman mendampingi anak membuat pemikiran tersebut mulai tumbuh dalam diri saya.

Memegang Buku dengan Perasaan yang Berbeda

Ada kepuasan tersendiri ketika sebuah pengalaman yang sebelumnya hanya tersimpan dalam ingatan akhirnya berubah menjadi tulisan yang dapat dibaca orang lain.

Apalagi ketika tulisan tersebut hadir dalam bentuk buku.

Saat memegang Dunia Mereka Cinta Kita, saya tidak hanya melihat sebuah benda dengan sampul dan halaman.

Saya melihat perjalanan.

Ada pengalaman orang tua. Ada pengalaman pendamping. Ada berbagai cerita yang lahir dari interaksi dengan anak-anak.

Dan di antara cerita tersebut, ada sedikit bagian dari perjalanan saya.

Bagi sebagian orang, menerbitkan sebuah buku mungkin menjadi pencapaian akademik atau profesional. Bagi saya, maknanya lebih personal.

Buku ini menjadi pengingat bahwa pengalaman sehari-hari pun dapat mempunyai nilai ketika kita mau berhenti sebentar, memikirkannya kembali, kemudian membagikannya melalui tulisan.

Menulis Juga Menjadi Cara Belajar

Sebagai mahasiswa pendidikan, pengalaman ikut menulis buku juga memberikan pembelajaran lain bagi saya.

Selama kuliah, menulis sering berhubungan dengan tugas, makalah, laporan, atau penelitian.

Menulis pengalaman terasa berbeda.

Saya tidak hanya memikirkan teori yang benar, tetapi juga bagaimana menyampaikan pengalaman dengan jujur dan tetap menghargai orang-orang yang ada di dalam cerita.

Terlebih ketika tulisan berhubungan dengan anak berkebutuhan khusus.

Menurut saya, kita perlu berhati-hati agar cerita yang dibagikan tidak berubah menjadi sesuatu yang justru mengekspos anak. Pengalaman pendamping dapat diceritakan tanpa harus membuka identitas maupun hal-hal pribadi anak.

Yang lebih penting adalah pelajaran yang kita dapatkan dari proses tersebut.

Sebuah Bekal untuk Menjadi Guru

Buku ini mungkin akan tersimpan bersama buku-buku lain yang saya miliki.

Namun, pengalaman di balik pembuatannya kemungkinan akan terus saya bawa ketika nantinya menjadi guru.

Saya ingin mengingat bahwa setiap siswa mempunyai cerita.

Ada siswa yang cepat memahami penjelasan. Ada yang membutuhkan pengulangan. Ada yang mudah berkomunikasi. Ada pula yang membutuhkan pendekatan berbeda agar merasa nyaman dalam proses belajar.

Guru tidak selalu mengetahui apa yang sedang dihadapi seorang anak hanya dengan melihatnya dari luar.

Karena itu, bagi saya, kesabaran dan kemauan untuk memahami menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menyampaikan materi.

Saya tidak mengatakan bahwa pengalaman menjadi pendamping otomatis membuat saya sudah siap menjadi guru yang sempurna.

Justru pengalaman tersebut membuat saya semakin sadar bahwa masih banyak hal yang perlu saya pelajari.

Dari Pengalaman Menjadi Sebuah Pengingat

Ketika melihat kembali nama saya pada sampul buku Dunia Mereka Cinta Kita, saya merasa senang karena pernah menjadi bagian dari proses tersebut.

Namun, lebih dari sekadar mempunyai buku dengan nama sendiri, saya bersyukur karena pengalaman mendampingi anak ternyata meninggalkan pelajaran yang bisa saya bawa ke perjalanan berikutnya.

Dari mendampingi, saya belajar bersabar.

Dari berinteraksi, saya belajar memahami perbedaan.

Dari menulis, saya belajar merefleksikan pengalaman.

Dan dari buku ini, saya kembali diingatkan tentang guru seperti apa yang suatu hari ingin saya perjuangkan untuk menjadi.

Bagi saya, sebuah buku memang dapat selesai ketika halaman terakhir ditutup. Namun, pelajaran dari pengalaman yang dituliskan di dalamnya bisa terus berjalan jauh setelah buku itu selesai dibaca.