Konten dari Pengguna

Ketika Film Tumbuh dari Desa: Pengalaman Mengikuti Bedah Buku Sinema Gerilya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dionisius Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film selama ini sering kali identik dengan layar lebar, industri hiburan, dan perkembangan teknologi yang semakin maju. Namun, di balik itu, ada cerita lain yang menarik untuk dilihat, yaitu bagaimana budaya perfilman dapat tumbuh dari lingkungan masyarakat, termasuk dari wilayah pedesaan.

Dokumentasi : AMIKRAF CORNER #1 Foto Poster Kegiatan AMIKRAF CORNER #1
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi : AMIKRAF CORNER #1 Foto Poster Kegiatan AMIKRAF CORNER #1

Hal tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian saya ketika mengikuti kegiatan AMIKRAF CORNER #1, sebuah kegiatan bedah buku yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom. Buku yang dibahas dalam kegiatan tersebut berjudul Sinema Gerilya: Terbentuknya Budaya Perfilman Pedesaan Banyumas Raya.

Bagi saya, mengikuti kegiatan bedah buku seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda. Biasanya, ketika membaca sebuah buku, kita hanya memahami isi tulisan melalui halaman demi halaman. Dalam kegiatan bedah buku, saya mendapatkan kesempatan untuk melihat sebuah karya dari sudut pandang yang lebih luas melalui pembahasan yang disampaikan dalam acara.

Saya tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena tema yang diangkat cukup unik. Ketika berbicara tentang perfilman, yang sering terlintas dalam pikiran adalah produksi film di kota besar dengan berbagai fasilitas dan industri yang sudah berkembang. Namun, buku Sinema Gerilya membawa perhatian kepada perkembangan budaya perfilman di wilayah pedesaan Banyumas Raya.

Hal ini membuat saya berpikir bahwa perkembangan budaya tidak selalu hanya berasal dari pusat kota. Masyarakat di daerah juga dapat memiliki pengalaman, kreativitas, dan cerita yang berkembang melalui lingkungan mereka sendiri.

Bagi saya, film bukan hanya tentang sebuah tontonan. Film juga dapat menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan cerita dan melihat kehidupan di sekitarnya. Ketika sebuah budaya perfilman tumbuh di lingkungan masyarakat, ada pengalaman dan cerita lokal yang ikut mendapatkan ruang untuk dikenal.

Mengikuti bedah buku tersebut juga membuat saya semakin menyadari pentingnya membaca dan mengikuti kegiatan yang memberikan wawasan baru. Sebagai mahasiswa, kegiatan seperti ini menjadi kesempatan untuk keluar sejenak dari rutinitas perkuliahan dan melihat topik dari perspektif yang berbeda.

Menariknya, kegiatan tersebut dilakukan secara daring. Meskipun tidak berada dalam satu ruangan secara langsung dengan peserta lainnya, saya tetap dapat mengikuti pembahasan melalui Zoom. Bagi saya, perkembangan teknologi memberikan kemudahan untuk mengikuti kegiatan akademik dan diskusi tanpa harus datang langsung ke lokasi.

Namun, yang paling saya bawa dari pengalaman ini bukan hanya tentang buku yang dibahas. Saya belajar bahwa sebuah karya dapat membuka cara pandang baru terhadap sesuatu yang sebelumnya mungkin jarang kita pikirkan.

Selama ini, desa sering kali lebih banyak dilihat dari sisi kehidupan masyarakat, pertanian, tradisi, atau lingkungan. Melalui tema Sinema Gerilya, saya mendapatkan gambaran bahwa desa juga dapat menjadi ruang tumbuhnya budaya perfilman.

Hal tersebut menurut saya menarik untuk diperhatikan, terutama bagi generasi muda. Kita hidup di zaman ketika membuat dan menyebarkan karya semakin mudah dilakukan. Dengan kreativitas dan keberanian untuk mencoba, cerita dari lingkungan sekitar juga dapat menjadi sesuatu yang bernilai.

Saya sendiri merasa kegiatan seperti bedah buku memiliki manfaat karena memberikan kesempatan untuk mendengar pembahasan dari orang-orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidangnya. Selain menambah wawasan, kegiatan semacam ini juga membuat saya terdorong untuk lebih banyak membaca dan mengikuti diskusi yang membahas berbagai persoalan di masyarakat.

Pada akhirnya, pengalaman mengikuti AMIKRAF CORNER #1 mengingatkan saya bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan melalui ruang kelas. Sebuah buku, diskusi, maupun kegiatan daring dapat menjadi pintu untuk mengenal sudut pandang baru.

Sinema Gerilya juga memberikan satu hal menarik untuk direnungkan: cerita dan budaya dapat tumbuh dari mana saja. Tidak selalu harus dimulai dari kota besar. Dari desa pun, masyarakat dapat memiliki cerita dan pengalaman yang layak untuk dilihat, dibicarakan, dan dipelajari.

Bagi saya, mengikuti bedah buku ini bukan sekadar mengisi waktu dengan kegiatan daring. Ada wawasan baru yang saya dapatkan dan sebuah pengalaman yang membuat saya semakin tertarik untuk terus mengikuti kegiatan yang dapat memperluas cara pandang.