Lawan Tambang Rawat Tani Gerakan Rakyat untuk Pegunungan Karst Gombong Selatan

Mahasiswa S-1 Pendidikan Sejarah UNNES. Tergabung dalam Komunitas History Study Club (HSC)
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rahul Diva Laksana Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pegunungan Karst merupakan salah bentang alam yang memiliki banyak potensi ekonomi dan sumber daya alam yang melimpah. Disisi Selatan Kabupaten Kebumen terdapat pegunungan karst yang membentang luas dan menjadi penopang ketahanan pangan masyarakat beberapa dusun terutama dusun Jeblosan Desa Sikayu. Mayoritas masyarakat disini bermata pencaharian rata-rata adalah petani dan peternak, banyak warga yang masih menggantungkan hidup dengan berinteraksi dengan alam.
Namun, keberlangsungan ekosistem karst di wilayah ini pernah terancam serius. Rencana eksploitasi sumber daya alam, termasuk pembangunan industri ekstraktif seperti pabrik semen, berpotensi merusak keseimbangan lingkungan. Jika kerusakan terjadi, dampaknya tidak hanya pada hilangnya fungsi ekologis karst sebagai penyimpan air dan penyangga keanekaragaman hayati, tetapi juga pada hilangnya sumber penghidupan utama bagi warga. Bagi masyarakat Dusun Jeblosan dan sekitarnya, kerusakan karst berarti terancamnya ketahanan pangan dan hancurnya hubungan harmonis yang selama ini terjalin antara manusia dan alam.
Karst Gombong Selatan: Sumber Kehidupan di Selatan Kabupaten
Di sisi selatan Kabupaten Kebumen, membentang pegunungan karst yang menjadi salah satu bentang alam terpenting di Jawa Tengah. Tebing-tebing kapur yang menjulang, gua-gua yang menyimpan aliran sungai bawah tanah, serta vegetasi khas yang tumbuh di atas tanah tipis menjadikan kawasan ini unik sekaligus vital. Keindahan geologisnya berpadu dengan fungsi ekologis yang tak tergantikan: menjadi penyimpan air alami, pengatur tata air, dan penopang keanekaragaman hayati.
Bagi masyarakat di tiga dusun yang berada di sekitarnya terutama Dusun Jeblosan, Desa Sikayu karst bukan sekadar pemandangan, melainkan sumber penghidupan. Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan peternak. Kesuburan lahan di lembah-lembah karst mendukung pertanian padi, jagung, dan palawija, sementara padang rumput alaminya menjadi sumber pakan ternak. Air yang meresap dan tersimpan di pori-pori batu kapur menjadi pasokan penting untuk mengairi sawah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan saat musim kemarau.
Interaksi warga dengan alam berlangsung secara turun-temurun, membentuk kearifan lokal dalam mengelola sumber daya. Mereka paham kapan harus menanam dan memanen, bagaimana menjaga sumber air, dan di mana kawasan yang tidak boleh diganggu demi menjaga keseimbangan ekosistem. Bagi warga Jeblosan, tanah karst adalah bagian dari identitas mereka sebuah warisan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.
Selain bernilai ekonomi, kawasan karst Kebumen memiliki fungsi ekologis yang krusial bagi wilayah yang lebih luas. Pegunungan ini berperan sebagai daerah resapan air yang mengisi sumber-sumber mata air di desa-desa sekitar. Kehilangannya akan berdampak pada berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya risiko kekeringan, dan hilangnya habitat berbagai flora dan fauna endemik. Dengan kata lain, keberadaan karst adalah fondasi tak terlihat yang menopang kehidupan manusia dan alam di selatan Kebumen.
Bayang-Bayang Industri Ekstraktif di Pegunungan Karst
Di tengah peran vitalnya bagi kehidupan masyarakat, Pegunungan Karst Gombong Selatan pernah menghadapi ancaman nyata dari rencana pembangunan industri ekstraktif, khususnya penambangan dan pabrik semen. Kekayaan batu gamping yang dimilikinya dinilai bernilai tinggi bagi industri konstruksi. Sejumlah pihak melihatnya sebagai ladang keuntungan, namun bagi warga lokal, rencana tersebut adalah bayang-bayang yang mengancam masa depan.
Eksploitasi karst skala besar akan merusak struktur alami batuan kapur yang berfungsi sebagai penyimpan air. Sekali lapisan karst dibongkar, kemampuan kawasan ini menyerap dan menyimpan air hilang secara permanen. Dampaknya bukan hanya terasa di sekitar lokasi, tetapi juga di desa-desa yang bergantung pada aliran air dari sumber-sumber pegunungan. Kehilangan fungsi ini berarti mengundang bencana ekologis seperti kekeringan, tanah longsor, dan hilangnya habitat satwa liar.
Ancaman itu tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga sosial. Bagi masyarakat yang hidup dari pertanian dan peternakan, hilangnya lahan produktif berarti kehilangan sumber nafkah. Masuknya industri besar kerap menghadirkan relasi yang timpang: perusahaan menguasai lahan luas, sementara warga kehilangan akses atas tanah dan air. Perbedaan sikap terhadap proyek tersebut kerap memicu ketegangan bahkan konflik horizontal di tengah masyarakat.
Risiko jangka panjang dari kerusakan karst jauh melampaui keuntungan sesaat dari penambangan. Kehancuran ekosistem karst berarti menghancurkan fondasi ketahanan pangan dan ketersediaan air yang telah menopang wilayah ini selama ratusan tahun. Bagi warga Jeblosan dan sekitarnya, ancaman tersebut bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan hidup dan identitas mereka sebagai masyarakat yang menyatu dengan alam.
Komunitas Penolak Tambang untuk Menyelamatkan Karst
Ancaman itu akhirnya memicu salah satu gerakan lingkungan terbesar di Gombong Selatan dalam satu dekade terakhir. Hampir sepuluh tahun sudah berlalu sejak warga Dusun Jeblosan di Desa Sikayu pertama kali turun ke lahan dengan cangkul di tangan dan bibit pohon di pundak. Kini, di tahun 2025, beberapa pohon jati yang mereka tanam sudah menjulang, menjadi penanda bisu dari sebuah perjuangan panjang. Di bawah rimbun dedaunan itu, masih hidup cerita tentang bagaimana sekelompok petani, pelajar, buruh, dan aktivis lingkungan bersatu menolak rencana tambang semen yang mengancam Pegunungan Karst Gombong Selatan.
Kisah itu berawal pada akhir 2015. Saat kabar rencana penambangan batu gamping mulai beredar, keresahan cepat menyebar. Warga khawatir sumber air yang menghidupi sawah dan ternak akan hilang, dan bentang alam karst yang selama ini menjadi penopang kehidupan akan hancur. Dari pertemuan-pertemuan kecil di balai desa hingga rapat lintas dusun, lahirlah Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong (Perpag), komunitas yang memutuskan untuk melawan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan aksi kolektif menjaga alam.
Puncak perlawanan terjadi pada 27 November 2016. Hari itu, Perpag menggelar aksi tanam pohon kedua mereka setelah aksi pertama pada Desember 2015—di lahan seluas 32 hektar yang merupakan bagian dari Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gombong Selatan. Sebanyak 27 ribu bibit jati, akasia, dan tanaman tumpangsari ditanam bersama-sama. Aksi ini menyusul kemenangan warga ketika Komisi Amdal Semarang membatalkan dokumen Amdal dan mengembalikan status KBAK sebagai kawasan Eco-Karst yang wajib dilindungi.
Namun perjuangan belum usai. Hingga kini, bayang-bayang industri ekstraktif masih mengintai. Setidaknya, masyarakat kini lebih siap menghadapi ancaman, berbekal pengalaman masa lalu dan tumbuhnya jaringan solidaritas baru seperti Sentral Perjuangan Tani (SEJUTA)—sebuah komunitas yang ibarat tunas muda, ikut menjaga keberlangsungan karst sekaligus memperkuat perjuangan di sektor pertanian. Dengan keyakinan bahwa pegunungan karst adalah warisan yang harus dijaga, mereka melangkah bersama lintas generasi
Penolakan tambang semen di Pegunungan Karst Gombong Selatan menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan tidak hanya soal menjaga keindahan alam, tetapi juga mempertahankan sistem penopang kehidupan yang bersifat strategis. Keberhasilan warga Jeblosan menghentikan rencana industri ekstraktif membuktikan bahwa masyarakat lokal memiliki kapasitas menjadi aktor utama dalam pengelolaan sumber daya alam, asalkan didukung oleh pengetahuan ekologis, solidaritas, dan legitimasi hukum. Namun, potensi konflik antara kepentingan ekonomi skala besar dan keberlanjutan ekosistem masih akan terus muncul, terutama ketika kebijakan pembangunan tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, kasus ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan, ketersediaan air, dan kelestarian lingkungan di kawasan karst hanya dapat dijamin melalui tata kelola yang berpihak pada keberlanjutan, bukan sekadar keuntungan jangka pendek.
