Tingkah Laku Segilintir Warganet Indonesia Hari Ini

Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB Undip
Tulisan dari Dirga Ardian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengemukakan pendapat dan memperoleh informasi merupakan dua hal yang cukup berkaitan. Ketika kita menyampaikan pendapat, ada informasi yang ingin kita sampaikan yang bisa diterima orang lain. Begitupun ketika muncul sebuah informasi, kita dapat menilai. Kini, berpendapat dan penyebarluasan informasi dipermudah dengan adanya perkembangan teknologi. Perkembangan tersebut memudahkan setiap manusia untuk melakukan dua hal tersebut tanpa terbatas ruang dan waktu.
Masyarakat Indonesia pun tidak ketinggalan dengan adanya perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi. Melalui gawai, masyarakat Indonesia mampu memperoleh informasi, beropini atau berkomentar dengan sangat mudah. Dari kemudahan inilah lantas menimbulkan pertanyaan. Apakah warganet Indonesia sudah cukup bijak dalam berpendapat dan menerima informasi di masa kini?
Warganet Indonesia dalam Angka
Menurut laporan yang dirilis oleh WeAreSocial dan Hootsuite tentang “Global Digital Report” pada tahun 2018, Indonesia dengan warganetnya yang terkenal dengan idiom “Wkwkwk” ketika mengungkapkan ekspresi tertawa di dunia maya, bertengger di posisi keempat sebagai negara dengan durasi penggunaan internet terlama dalam waktu sehari. Indonesia memiliki durasi rata-rata penggunaan internet selama 8 jam 51 menit, melampaui negara seperti Tiongkok dan Amerika Serikat yang hanya menghabiskan rata-rata durasi selama 6 jam 30 menit. Bahkan, Indonesia berada di urutan ketiga sebagai negara yang menghabiskan waktunya untuk mengakses media sosial dengan durasi 3 jam 23 menit. Capaian tersebut hanya kalah dengan Filipina dengan 3 jam 57 menit dan Brazil dengan 3 jam 39 menit.
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2017, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143,26 juta jiwa. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 54,68% dari 262 juta penduduk Indonesia sudah menggunakan internet. Lalu, apakah segala bentuk ‘prestasi’ tersebut yang diukur secara kuantitatif diikuti dengan peningkatan kualitas oleh warganet Indonesia itu sendiri?
Sayangnya, Indonesia tergolong menjadi salah satu negara yang sangat mudah percaya dengan hal-hal yang muncul di internet. Hal tersebut dibuktikan oleh data yang dikeluarkan Centre for International Governance Innovation (CIGI) IPSOS pada tahun 2017. Sebanyak 65% warganet Indonesia mudah percaya dengan berbagai hal yang muncul di internet. Tentunya, angka ini cukup memprihatinkan, mengingat di era sekarang berita hoaks bisa memberikan ancaman yang serius di tengah masyarakat Indonesia.
Perspektif Ilmu Ekonomi dan ‘Lingkaran Setan’
Kita sebagai manusia memiliki hak berupa kebebasan untuk memilih informasi yang baiknya kita terima ataupun tidak. Melalui proses berpikir, kita dapat menentukan apakah suatu informasi tergolong baik atau buruk, penting atau tidak, dan benar atau salah. Namun, bagaimana jika penerimaan informasi tidak melalui proses tersebut? Dan justru ‘ditelan’ dengan mentah-mentah.
Bila kita melihat lebih jauh lagi, terkadang ada oknum yang memanfaatkan kondisi ini. Oknum tersebut menjadi dalang dengan menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya. Lagi-lagi, jika warganet tidak cermat dalam memverifikasi kebenaran informasi yang muncul dari oknum tersebut, celakalah mereka. Apalagi jika informasi yang disampaikan berisi ujaran kebencian, hal tersebut memungkinkan segelintir warganet Indonesia akan dengan mudah naik pitam. Oknum tersebut tentu memiliki tujuan tertentu seperti melakukan propaganda atau hanya sekedar memperkeruh suasana dunia maya.
Layaknya pelaku dalam ilmu ekonomi, terdapat orang-orang yang berperan sebagai produsen, konsumen, dan distributor dalam penyebaran kabar hoaks ini. Warganet yang mudah percaya terhadap suatu informasi, akan sangat mudah mendistribusikan berita tersebut ke warganet sejenis lainnya untuk kemudian disebarkan lagi terus menerus. Tanpa disadari mereka menjadi agen distributor gratis-an kabar-kabar tersebut. Hal inilah yang akan membuat oknum tak bertanggung jawab terus mereproduksi berita hoaks untuk kemudian dikonsumsi dan didistribusikan lagi terus menerus. Kegiatan-kegiatan tersebut selanjutnya membentuk pola yang bisa kita sebut seperti ‘lingkaran setan’.
Kurang Bijak dalam Berkomentar
Kecanggihan teknologi membuat kita dengan mudah menyampaikan pesan, berpendapat, dan berkomentar dengan bebas. Bila kebebasan dalam berpendapat di dunia maya digunakan dengan seenaknya dan tidak bijak, maka akan lebih cocok menyebutnya dengan “Kebablasan Berpendapat”.
Rasa-rasanya sekarang bagian komentar di setiap postingan di dunia maya seperti menjadi ‘panggung pertunjukan’ bagi segelintir warganet yang kurang bijak. Meskipun tidak ada standar yang jelas tentang bagaimana menjadi warganet yang bijak, setidaknya kita cukup untuk tidak berkomentar negatif – seperti mencela, mengejek – bila tidak suka atau yang jelas bisa berkomentar dengan sopan dan santun. Sayangnya, masih ada saja mereka yang mencibir, menjadi ‘hakim dadakan’, hingga menyampaikan sesuatu dengan tidak sopan dalam kolom komentar.
Mari kita bernostalgia sejenak, pernahkah Anda menonton aksi Demian Aditya, seorang pesulap Indonesia yang menunjukkan kebolehannya dalam ajang pencarian bakat di Amerika Serikat? Pertunjukkannya tersebut pernah memikat jutaan pasang mata melalui video yang diunggah di sebuah platform media sosial. Banyak sekali komentar yang bertebaran dari berbagai belahan bumi mengenai aksinya itu. Ada yang memuji atau sekedar memberi semangat dan (lagi-lagi) mencaci. Ironisnya cacian tersebut ada yang datang dari warganet Indonesia. Beberapa dari mereka dengan entengnya berkomentar “Halah cuma kayak gitu,” ”Ah! ketebak itu triknya,” dan juga bermunculan komentar yang menilai bahwa istri Demian – yang saat itu mendampingi Demian – bertingkah lebay dalam bereaksi terhadap keberhasilan sang suami. Parahnya, ada saja mereka yang membeberkan rahasia di balik aksi Demian tersebut.
Menyaring Informasi dan Kesadaran Diri adalah Kunci
Menyaring dan memverifikasi kebenaran informasi dari dunia maya adalah upaya nyata agar kita terhindar dari berita bohong. Menerapkan sifat tidak mudah percaya terhadap suatu kehebohan yang muncul di dunia maya rasanya juga perlu kita terapkan. Tujuannya agar kita terhindar dan tidak mudah percaya akan berita hoaks. Ditambah lagi perlunya kesadaran dari diri sendiri untuk berpikir berkali-kali ketika melontarkan ucapan ataupun komentar dari mulut. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi setelahnya – baik untuk orang lain dan diri sendiri. Bila Anda tidak suka akan suatu hal dari orang lain, cukup diam atau tinggalkan, karena hal itu sama dengan Anda menghargai orang lain.
Guritno Mangkoesoebroto dalam bukunya yang betajuk “Ekonomi Publik”, menjelaskan bahwa informasi yang asimetris di tengah masyarakat dapat memicu terjadinya kegagalan pasar. Guna mengatasi hal itu dipelukan intervensi dari pemerintah. Peran pemerintah ini dimaksudkan agar tercipta efektivitas dan efisiensi di tengah masyarakat.
Maka dari itu, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebagai pihak yang berwenang harus menerapkan beberapa langkah tegas yang solutif guna melawan berita bohong dan menggalakkan literasi melalui media. Salah satunya adalah dengan memblokir situs-situs penuh kebohongan serta memberikan sanksi tegas. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan sosialisasi atau melakukan campaign tentang betapa pentingnya membaca dan memverifikasi sebuah informasi.
