Konten dari Pengguna

22 Tahun Lalu: Prabowo & Prof Mubyarto Bicara Indonesia Bangkit atau Bangkrut

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dirgayuza Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prabowo di University Center UGM pada 15 Januari 2004 lalu. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Prabowo di University Center UGM pada 15 Januari 2004 lalu. Foto: Dok. Istimewa

Di panggung itu duduk dua tokoh dengan latar belakang yang sangat berbeda: Prof. Mubyarto, Guru Besar UGM dan bapak Ekonomi Pancasila, serta Prabowo Subianto. Dua puluh dua tahun lalu, foto ini menjadi bukti UGM menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan.

Kampus menjadi tempat bertukar pikiran, bahkan ketika kita tidak sepakat dan mungkin tidak akan pernah sepakat dengan gagasan atau penyampaian para pembicaranya.

Yang menarik, tema seminar hari itu berbunyi: “Meneropong Indonesia Pasca 2004: Bangkit atau Bangkrut.”

Tema yang mirip, jika tidak identik, dengan tema yang diusung banyak mahasiswa yang sedang gundah gulana hari ini.

Dua puluh dua tahun telah berlalu.

Namun ternyata pertanyaannya ternyata masih sama. Bagaimana Indonesia bisa benar-benar bangkit?

Prof. Mubyarto sepanjang hidupnya memperjuangkan gagasan yang ia sebut Ekonomi Pancasila.

Menurut beliau, pembangunan tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi. Pembangunan harus berpihak kepada rakyat kecil. Negara perlu hadir untuk melindungi petani, nelayan, koperasi, UMKM, dan memastikan hasil pembangunan dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat.

Gagasan itu ia tuangkan dalam sejumlah karya penting seperti buku Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat Indonesia, Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia, Ekonomi Pertanian, serta Membangun Sistem Ekonomi.

Di panggung yang sama, Prabowo berbicara mengenai swasembada pangan, ketahanan nasional, industrialisasi, koperasi, dan pentingnya negara memiliki kemampuan melindungi kepentingan rakyat.

Bahasa yang digunakan boleh tidak persis sama. Namun benang merahnya sama. Bahwa negara tidak boleh membiarkan rakyat menghadapi persoalannya sendirian.

Dua dekade kemudian, banyak isu yang mereka diskusikan di panggung itu justru kembali menjadi agenda nasional. Bedanya, yang dulu gagasan, sekarang sebagian sudah banyak yang terealisasi.

Ketahanan pangan, hilirisasi industri, koperasi desa, pembangunan rumah rakyat, investasi pada pendidikan dan kesehatan, hingga pengurangan kemiskinan kembali menjadi perdebatan dan fokus utama dalam kebijakan publik Indonesia.

Tentu, gagasan-gagasan tersebut tidak pernah lepas dari kritik.

Seperti halnya pemikiran Prof. Mubyarto dahulu, maupun berbagai kebijakan Presiden Prabowo hari ini, selalu ada perbedaan pandangan mengenai seberapa besar negara seharusnya berperan dalam pembangunan.

Tetapi melihat foto ini, saya merasa satu hal. Sejarah sering kali menunjukkan bahwa persoalan bangsa boleh berubah bentuk, tetapi pertanyaan besarnya tetap sama: Bagaimana memastikan pembangunan benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mungkin karena itulah, foto sederhana di UGM ini terasa jauh lebih bermakna daripada sekadar dokumentasi sebuah seminar.

Ia adalah potret sebuah percakapan dan dialektika putera puteri bangsa yang peduli dengan bangsanya, yang masih terus berlangsung hingga hari ini.

Catatan Dirgayuza, 27 Juni 2026 - Di sela-sela Sarasehan Kebangsaan: Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia 26-28 Juni 2026.