Kisah Pilot Presiden RI: Pilot & Instruktur 777 Perempuan Termuda di Dunia

Special Assistant to President Prabowo. Indonesia evangelist. University of Oxford & University of Melbourne alumnus. Co-founder Akademi Kader Bangsa IB schools network.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dirgayuza Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semakin lama saya ikut Presiden Prabowo, semakin banyak saya mengenal para outliers. Mungkin karena Presiden selalu mengingatkan,
“Kita harus terus temukan, beri kesempatan, dan apresiasi orang-orang terbaik, cinta merah putih, berapa pun usianya.”
Indeed, President Prabowo is passionate about attracting, celebrating, and working with outliers—especially young outliers.
Itulah sebabnya ia mengajukan pendirian SMA TN di 1988, dan sekarang sebagai Presiden ia mendirikan SMA Unggul Garuda, serta jalankan Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD). Sesuai UU Sisdiknas, pendidikan istimewa untuk yang punya bakat dan kecerdasan istimewa.
Against all odds, outliers (“pribadi unggul” dalam bahasa Paman Sab) adalah orang-orang berhasil yang berani melawan angin dan berhasil terbang tinggi. Di antaranya, ada para penerbang perempuan andalan Presiden yang kisahnya mau saya ceritakan sekarang.
Pertama, adalah para pilot Garuda Indonesia penerbang 777 yang membawa Presiden ke tujuan jauh di luar negeri. Salah satunya Captain Tania Citra.
Garuda berdiri 31 Maret 1950. Hari ini, setelah 76 tahun Garuda ada—26 Mei 2026 jam 00.08 WIB—Tania jadi pilot perempuan pertama Garuda Indonesia yang menerbangkan Presiden yang sedang menjabat. Sekarang usianya 31 tahun.
Dua tahun lalu, ketika ia berusia 29 tahun, Tania jadi pilot perempuan 777 termuda di dunia. Selain bertugas dalam penerbangan misi kepresidenan dan komersial, sekarang ia juga merupakan instruktur perempuan 777 termuda di dunia.
Selain Tania, terdapat juga para pilot Skadron Udara 17 penerbang 737 yang membawa Presiden ke tujuan dalam negeri dan dekat luar negeri.
Salah satunya Captain Ajeng Mahessa. Usianya 30 tahun. Sekarang ia adalah pilot 737 kepresidenan termuda di dunia. Ia juga merupakan seorang Paskibraka Nasional pada tahun 2011.
Kemudian, terdapat para pilot Skadron Udara 2 penerbang CN yang membawa Presiden ke kota serta pulau kecil, dan terbang berbagai misi kemanusiaan ke daerah dengan runway pendek.
Salah satunya Captain Yustikasari Diana Putri (Tika). Usianya 27 tahun. Lulusan TN 24.
Ada juga para pilot Skadron Udara 31 penerbang C130 Hercules yang membawa perlengkapan Presiden dan menjadi tulang punggung logistik operasi rehabilitasi Sumatera.
Salah satunya Captain Gini Setya Rahayu. Usianya 24 tahun. Kelahiran 2001. Lulusan SMA TN 27.
Kisah outliers seperti mereka jarang sekali kita temukan di ruang media kita. Mungkin karena sifat kita, orang Indonesia, yang “semakin berisi semakin merunduk”. Punya prestasi tingkat dunia, tapi disimpan untuk diri sendiri.
Mungkin juga karena media kita—dengan berbagai keterbatasan dan tuntutan mengejar breaking news—tidak sempat menemukan mereka dan menulis tentang mereka.
“Apa yang tidak ditulis, tidak pernah ada,” ujar co-proklamator bangsa kita Muhammad Hatta.
Saya punya dua anak perempuan. Saya menulis dan membagikan catatan ini karena saya merasa kisah para outliers—seperti Capt. Tania, Capt. Ajeng, Capt. Tika, dan Capt. Gini—harus lebih banyak diceritakan di ruang kelas dan ruang media agar dapat menjadi konsumsi harian serta inspirasi bagi anak-anak perempuan Indonesia.
Di balik sukses mereka, ada ribuan jam belajar, bekerja, dan mengumpulkan tekad agar bisa, secara literal, melawan hukum gravitasi dan berhasil terbang tinggi di langit Nusantara dan dunia. Berhasil di dunia yang mayoritas pikir reserved untuk laki-laki saja.
Untuk maju, Indonesia butuh outliers seperti mereka yang tidak hanya berhasil dalam tugas utama mereka, tetapi juga berhasil menumbuhkan harapan, membangun cita-cita, dan mencetak ribuan outliers lainnya di berbagai bidang.
Saya percaya kita, yang memiliki gawai, punya kewajiban untuk menulis dan berbagi kisah-kisah yang merawat harapan—agar kans bangsa kita jadi bangsa maju lebih besar.
