Konten dari Pengguna

Menu Presiden Prabowo: Bakso, Nasi Bakar, Kopi Hambalang, & Falsafah Hidup Jawa

Dirgayuza Setiawan

Dirgayuza Setiawanverified-green

Special Assistant to President Prabowo. Indonesia evangelist. University of Oxford & University of Melbourne alumnus. Co-founder Akademi Kader Bangsa IB schools network.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dirgayuza Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya bersama Chef on board. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Saya bersama Chef on board. Foto: Dok. Istimewa

Sebagian besar orang mengenal Presiden Prabowo Subianto dari (cuplikan) pidato-pidatonya. Saya termasuk yang beruntung bisa mengenal Presiden RI ke 8 dari sekian kali makan bersamanya.

Kalau anda bertanya pada orang-orang yang sering makan bersama Presiden, mereka pasti bilang ada tiga menu khas di meja makan beliau: Kopi Hambalang, bakso, dan nasi bakar.

Kopi Hambalang sudah cukup sering dibahas. Kopi racikan rahasia Presiden. Inilah kopi yang membuat beliau semangat saat berpidato.

Dua menu lainnya: Bakso dan nasi bakar, juga hampir selalu hadir di meja makan Istana, dan di penerbangan dalam dan luar negeri bersama Presiden.

Chef on board sedang menyiapkan makanan. Foto: Dok. Istimewa

Di darat ada koki pribadi serta koki langganan Presiden yang menyiapkannya. Di udara, ada yang disiapkan tim chef on board Garuda Indonesia. Salah satunya Chef Yudi Mulyadi, koki asli Cimahpar, Bogor yang telah menjadi chef di Garuda Indonesia sejak 2012.

Untuk penerbangan jarak jauh, Chef Yudi dan tim seringkali harus masak bakso dan nasi bakar di pesawat, saat pesawat sedang terbang. Bagi saya masak di rumah saja susah, tentunya masak di pesawat yang sedang terbang lebih susah. Kalau ada bahan yang kurang, kita tidak bisa tiba-tiba beli bahan di warung.

Misalkan, daun pembungkus nasi bakar tidak bisa sembarang daun. Chef Yudi harus bawa daun yang tepat, dengan jumlah yang cukup, dari Indonesia. Karena lidah orang Indonesia khas, hampir seluruh bahan masakan baku harus dibawa dari Indonesia. Fun fact, di setiap penerbangan jarak jauh Presiden, area crew rest tidak dipakai untuk istirahat kru karena dipakai untuk simpan sembako.

Namun sesungguhnya, menurut saya, menu paling menarik dalam setiap sesi makan bersama Presiden Prabowo tidak pernah tercantum di buku menu atau terlihat di meja makan.

Menu itu adalah pelajaran hidup

Chef on board sedang menyiapkan makanan. Foto: Dok. Istimewa

“Chef” dari menu yang satu ini bukan koki Istana atau koki pribadi Presiden. “Chef-nya” adalah R.M. Margono Djojohadikusumo. Pendiri Bank Negara Indonesia. Anggota BPUPKI. Kakek Presiden Prabowo.

Dari beliau, dan dari guru-guru yang ditemuinya sepanjang hidup, Presiden Prabowo menyerap banyak falsafah Jawa yang kemudian menjadi fondasi cara berpikirnya, dan fondasi caranya membuat keputusan.

Hampir tidak ada sesi makan bersama yang saya lalui bersama Presiden Prabowo tanpa pulang membawa pelajaran baru.

Salah satu pelajaran yang paling sering muncul adalah becik ketitik ala ketara— yang baik akan terlihat, yang buruk akan terungkap. Saat menghadapi fitnah atau tuduhan yang tidak benar, Presiden sering mengingatkan bahwa kebenaran memiliki cara untuk menemukan jalannya sendiri, walau tidak cepat apalagi instan.

Lalu, sabdo pandito ratu. Ucapan seorang pemimpin adalah janji. Karena itu, ia selalu mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dengan janji-janji yang kita disampaikan kepada publik.

Prinsip berikutnya adalah rame ing gawe, sepi ing pamrih. Banyaklah bekerja, sedikitlah menuntut imbalan. Mungkin inilah salah satu prinsip yang paling sering saya dengar darinya. Fokuslah pada pekerjaan, bukan pada mendapatkan pujian.

Presiden juga sering mengingatkan ojo dumeh. Jangan sombong karena jabatan, kekuasaan, atau keberhasilan. Sebab keadaan dapat berubah kapan saja.

Berpasangan dengan ojo dumeh adalah ojo ngoyo. Jangan memaksakan kehendak di luar kemampuan. Ambisi penting, tetapi harus disertai perhitungan kemampuan yang matang.

Dalam soal kepemimpinan, tidak ada ajaran yang lebih sering ia kutip daripada ing ngarsa sung tulada. Pemimpin harus di depan memberi teladan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memberi perintah. Ia harus menjadi contoh.

Tentang kekayaan, Presiden sering mengingatkan kita agar sugih tanpo bondo. Kaya tanpa harta. Kekayaan sejati bukan terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada nilai, prinsip, kehormatan, dan pengabdian.

Dalam perjuangan politik, saya berkali-kali mendengar falsafah menang tanpo ngasorake. Kemenangan yang terbaik adalah kemenangan yang tetap menjaga martabat semua pihak.

Dan pada akhirnya, kuliah kepemimpinan di meja makan Presiden selalu bermuara pada satu ukuran sederhana yang sering Presiden kutip dari Cak Nur, mantan Gubernur Jawa Timur: yen wong cilik iso gumuyu. Jika rakyat kecil bisa tersenyum, berarti kita berada di jalan yang benar.

**************

Bakso yang akan dihidangkan. Foto: Dok. Istimewa

Mungkin inilah mengapa setiap porsi bakso, nasi bakar dan setiap cangkir kopi Hambalang selalu terasa lebih istimewa ketika tersaji di meja Presiden.

Karena yang sesungguhnya mengenyangkan kita yang berkesempatan makan bersama Presiden Prabowo bukan hanya makanannya. Melainkan juga bekal ilmu yang menyertainya.

Bekal ilmu bagaimana seorang pemimpin sepatutnya memandang dan menjalani hidup: bekerja tanpa pamrih, memegang janji, rendah hati, berani memperjuangkan kebenaran, menghormati lawan, hidup sederhana, memberi teladan, dan mengukur keberhasilannya dari senyum rakyat kecil.

Nasi Bakar. Foto: Dok. Istimewa
Chef on board sedang menyiapkan makanan. Foto: Dok. Istimewa
Chef on board sedang menyiapkan makanan. Foto: Dok. Istimewa