“Vincerò! Merdeka!”: Sukarno, Pavarotti, dan Syiar Indonesia

Special Assistant to President Prabowo. Indonesia evangelist. University of Oxford & University of Melbourne alumnus. Co-founder Akademi Kader Bangsa IB schools network.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dirgayuza Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali Luciano Pavarotti mengakhiri Nessun Dorma dengan pekikan “Vincerò!”—aku akan menang—ketahuilah bahwa orang yang menemukannya juga pernah membantu kemerdekaan Indonesia didengar dan diakui dunia.
Namanya John Coast, warga Inggris yang dikenal sebagai press attaché Presiden Sukarno.
Setiap 17 Agustus, kita mengenang Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan Sukarno dan Mohammad Hatta. Namun, menyatakan kemerdekaan belum otomatis membuat sebuah negara diakui dunia.
Belanda berusaha meyakinkan masyarakat internasional bahwa Indonesia bukan negara merdeka, melainkan wilayah kolonial yang sedang memberontak. Karena itu, perjuangan Indonesia tidak hanya berlangsung dengan senjata, tetapi juga melalui diplomasi, pemberitaan, dan perebutan opini dunia.
Dalam perjuangan itulah Republik dibantu John Coast.
Jika diterjemahkan ke dalam pemerintahan sekarang, fungsinya memiliki kemiripan dengan tugas Badan Komunikasi Pemerintah.
Coast bukan menteri dan struktur pemerintahan ketika itu berbeda. Namun, tugasnya sangat penting: membantu suara Republik menembus batas negara.
Coast adalah mantan perwira Inggris yang seusai Perang Dunia II bekerja pada bagian pers perwakilan Inggris di Bangkok. Ketika banyak negara Barat masih melihat Indonesia melalui kacamata Belanda, Coast justru percaya bahwa Indonesia berhak menentukan nasibnya sendiri.
Ia meninggalkan pekerjaannya dan memilih membantu Republik.
Pada 1948, ANRI mencatat kerja Coast menjelaskan posisi Indonesia kepada wartawan asing, menyampaikan laporan kepada pemerintah, serta membangun jaringan komunikasi dengan dunia luar.
Puncak perjuangannya berlangsung pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949. Coast membantu Mohammad Hatta dan menangani hubungan pers pemerintah Indonesia.
Ia membantu dunia memahami bahwa Indonesia bukan gerakan separatis yang meminta kemerdekaan. Indonesia adalah bangsa yang telah merdeka dan menuntut pengakuan atas kemerdekaan yang dipertahankannya dengan darah.
KMB akhirnya menghasilkan pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949.
Setelah revolusi, Coast menetap di Bali. Dengan dukungan Presiden Sukarno, ia membawa rombongan Dancers of Bali dari Peliatan berkeliling Amerika dan Eropa. Jika sebelumnya ia memperkenalkan perjuangan politik Indonesia, kini ia memperkenalkan kebudayaan Indonesia.
Coast kemudian kembali ke London dan menjadi impresario internasional. Ia menemukan dan membantu membuka jalan bagi seorang tenor muda Italia yang belum dikenal luas: Luciano Pavarotti.
Pavarotti akhirnya menjadi salah satu penyanyi opera terbesar sepanjang masa. Namun, di belakang perjalanan awalnya terdapat orang yang sebelumnya ikut membantu Indonesia memperoleh pengakuan dunia.
Itulah mata rantainya: Sukarno, kemerdekaan Indonesia, John Coast, dan Pavarotti.
Tugas menyiarkan Indonesia kepada dunia belum selesai. Dahulu, kita membutuhkan pengakuan bahwa Indonesia merdeka. Hari ini, kita perlu membuat dunia mengenal siapa Indonesia dan ke mana bangsa ini sedang bergerak.
Republik ini belum sempurna. Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Namun, ada begitu banyak kebaikan yang layak disampaikan.
Lebih dari 290 juta manusia dengan ratusan suku, bahasa, dan tradisi mampu hidup bersama dalam satu rumah bernama Indonesia. Kita ramah, tidak ingin menguasai bangsa lain, dan ingin bekerja sama dengan siapa pun untuk menciptakan kemajuan serta perdamaian.
Jika kita tidak menceritakan Indonesia, orang lain akan menceritakannya dari sudut pandang mereka.
Karena itu, kita membutuhkan lebih banyak “John Coast” masa kini: orang-orang yang mampu membawa kemajuan, kebudayaan, dan kebaikan Indonesia menembus batas dunia.
Catatan Dirgayuza, 17 Agustus 2026.
