Bahaya Anemia pada Wanita: Tantangan Kesehatan yang Harus Diatasi

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dita Amalia Anggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anemia merupakan sebuah kondisi medis yang ditandai dengan rendahnya jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin yang kurang dari normal. Sampai saat ini, anemia menjadi salah satu masalah kesehatan yang lebih sering dialami oleh wanita, terutama di negara-negara berkembang. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, prevalensi anemia sebesar 32% dengan rata-rata usia 15-24 tahun. Hal tersebut berarti, masih banyak yang mengalami anemia, khususnya wanita di usia produktif. Jika tidak diwaspadai dan dicegah, anemia akan berdampak pada kesehatan wanita di usia-usia produktif, sehingga rentang mengalami anemia.
Perlu diketahui, anemia bukanlah penyakit, melainkan gejala dari berbagai kondisi medis. Ada beberapa jenis anemia, namun yang paling umum adalah anemia defisiensi besi. Kekurangan zat besi dalam tubuh dapat disebabkan karena pola makan yang tidak seimbang, kehilangan darah yang berlebih, atau masalah pada penyerapan zat besi dalam tubuh. Zat besi sangat penting untuk menghasilkan komponen sel darah merah atau disebut hemoglobin. Hemoglobin sendiri berfungsi untuk mengangkut oksigen dalam darah untuk disebarkan ke seluruh tubuh. Kekurangan dari zat besi inilah yang dapat menyebabkan anemia, sehingga berdampak pada kesehatan perempuan. Padahal perempuan membutuhkan asupan zat besi yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
Beberapa risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan bagi wanita mengalami anemia diantaranya adalah menstruasi, kehamilan, dan kekurangan darah. Seperti yang diketahui, perempuan mengalami mestruasi setiap bulannya yang dapat menyebabkan kekurangan zat besi karena darah yang keluar. Selain itu, kehamilan juga dapat meningkatkan kebutuhan zat besi karena darah dalam tubuh meningkat dan hemoglobin dibutuhkan untuk perkembangan janin. Dan yang terakhir, kekurangan darah dapat terjadi ketika sel darah merah pecah dan tidak dapat digantikan dengan cepat.
Anemia dapat memberikan dampak yang cukup signifikan bagi wanit, seperti meningkatkan risiko kelahiran prematur dan melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Untuk itu, perlu diketahui apa saja gejala yang dapat dialami perempuan yang mengalami anemia. Menurut Kemenkes, terdapat beberapa gejala anemia, diantaranya adalah:
1. Terlihat sangat lelah
2. Mengalami perubahan suasana hati
3. Kulit yang terlihat pucat
4. Mengalami jaundice (kulit dan mata menjadi kuning)
5. Detak jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya.
6. Mengalami sesak nafas, sindrom kaki gelisah hingga kaki dan tangan bengkak apabila mengalami anemia berat
Setelah mengetahui beberapa gejala anemia diatas, diharapkan para wanita dapat meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan. Hal ini karena anemia pada perempuan dapat berdampak panjang bagi dirinya sendiri maupun anak yang kelak akan dilahirkan.
Untuk mencegah anemia, sangat disarankan untuk memenuhi kebutuhan zat besi dengan cara makan makanan yang bergizi seimbang setiap hari. Beberapa makanan yang kaya akan zat besi seperti daging merah, sayur-sayuran berdaun hijau, dan kacang-kacangan. Selain itu, penting untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayur untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral tubuh. Dan yang paling adalah dengan rutin meminum Tablet Tambah Darah (TTD) setidaknya sekali dalam seminggu. Tablet Tambah Darah (TTD) adalah suplmen yang berisi zat besi dan asam folat yang berfungsi untuk membantu hemoglobin darah, sehingga meminum suplemen ini penting untuk membantu menjaga diri dari anemia.
Anemia pada wanita bukanlah suatu masalah yang dapat dengan mudah diabaikan. Dengan tingginya prevalensi anemia di kalangan wanita, penting untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi ini dan langkah-langkah preventif yang diperlukan. Dengan pola makan yang seimbang, suplementasi yang tepat, dan perawatan medis yang teratur, diharapkan dapat membantu mengurangi risiko anemia pada perempuan, menjaga kesehatan secara optimal, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Dita Amalia Anggraini, Mahasiswa Universitas Airlangga
