Menelusuri Ikon Tertua KyaKya: Klenteng hingga Barbershop Legendaris

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Dita Amalia Anggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Surabaya dikenal sebagai salah satu kota metropolitan yang ada di Indonesia. Industri, perniagaan, modernitas, serta deretan gedung-gedung tinggi seolah menjadi gambaran pertama yang muncul apabila seseorang mendengar kata Surabaya. Tidak mengherankan apabila Surabaya menjadi salah satu kota yang padat penduduk, memiliki infrastruktur yang memadai, dan menjadi pusat perekonomian. Di tengah hiruk pikuk industrialisasi dan modernisasi yang melesat, Surabaya tidak luput untuk memberi ruang bagi sejarah dan budaya yang mereka miliki untuk hidup dan berkembang.
Selain maju dalam bidang industri, Surabaya juga menjadi tempat di mana berbagai budaya, etnis, dan tradisi berpadu membentuk harmoni. Kota ini menyimpang sudut-sudut keindahan melalui jejak sejarah dan budaya yang terus dikembangkan oleh pemerintah daerahnya. Kita tahu bahwa masyarakat Surabaya terdiri dari berbagai etnis, mulai dari Tionghoa, Melayu, Arab, hingga etnis nusantara seperti Jawa, Madura, Batak dan lainnya. Namun, satu hal yang langsung terlintas dalam benak penulis ketika mendengar nama Surabaya salah satunya adalah keberadaan masyarakat keturunan Tionghoa.
Keberadaan masyarakat keturunan Tionghoa di Surabaya bukan hanya terlihat melalui pusat perdagangan atau jejak kuliner saja, tetapi juga melalui kawasan-kawasan budaya yang menjadi identitas kota. Salah satunya adalah kawasan Kya-Kya yang terletak di Surabaya Utara. Ketika penulis mendapatkan kesempatan untuk melakukan Praktik Kuliah Lapangan (PKL) di daerah Kya-Kya, pengalaman ini menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana keragaman, tradisi, dan toleransi tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mengena Kya-Kya Lebih Dekat
Memasuki wilayah Kya-Kya, kita akan disambut oleh gerbang megah berwarna merah dan emas dengan dua patung gagah di sisi kanan dan kiri. Kedua patung tersebut seakan mengucapkan selamat datang bagi setiap pengunjung yang memasuki salah satu kawasan pecinan tertua di Surabaya. Di sepanjang koridor, toko-toko berjejer rapi di kanan dan kiri, lampion naga tergantung panjang di atas kepala, dan berbagai ornamen khas Tionghoa yang menghiasi setiap sudut. Bagi penulis yang baru pertama kali melihat langsung, pemandangan ini terasa begitu memanjakan mata.
Sebagai bagian dari kawasan Pecinan lama di Surabaya, Kya-Kya menyimpang sejarah panjang yang telah hidup sejak masa kolonial. Pada masanya, wilayah ini menjadi pusat perdagangan dan interaksi masyarakat Tionghoa sejak masa kolonial. Kawasan Pecinan kembang Jepun ini dahulu bernama Handelstraat dalam bahasa Belanda yang berasal dari kata Handel berarti perdagangan dan Straat yang berarti jalan. Sejak tahun 1800-an, kawasan ini telah menjadi pusat niaga yang menyatu dengan Jalan Panggung di mana pedagang dari Tionghoa, Arab, dan Melayu melakukan aktivitas perdagangan yang membuat kawasan ini berkembang pesat. Menyadari pentingnya nilai sejarah tersebut, pemerintah menetapkan kawasan ini sebagai Lingkungan Kawasan Pecinan atau Chinesche Kamp sebagai bagian dari Cagar Budaya pada tahun 2014.
Semakin melangkah lebih jauh, penulis tertarik pada dua tempat bersejarah yang ada di kawasan ini. Di balik keramaian modern dan deretan kuliner yang kini meramaikan Kya-Kya, masih berdiri dua bangunan tua yang menjadi saksi bisu perjalanan komunitas Tionghoa di Surabaya. Bangunan tersebut adalah Klenteng Hong Tiek Hian dan Barbershop Shin Hua. Kedua bangunan tersebut mengunci pandangan penulis untuk menyaksikan bangunan yang menjadi ikon tertua yang ada di kawasan Kya-Kya.
Klenteng Hong Tiek Hian dan Barbershop Shin Hua
Rasa tertarik penulis pertama kali tertuju pada Barbershop Shin Hua. Dari tampak depan, bangunannya didominasi oleh warna hijau dan putih dengan papan nama yang menggunakan bahasa Mandarin. Tempat potong rambut ini telah berdiri sejak tahun 1911, menjadikannya salah satu barbershop tertua yang masih bertahan hingga kini. Pendiri dari tempat ini adalah Tan Shin Tjo yang merupakan perantau dari Hokkiu, Tiongkok. Saat ini, usaha tersebut dikelola oleh generasi kedua, yakni Eddy Koestanto dan Tejo. Barbershop ini bahkan diakui sebagai barbershop tertua di Surabaya atau bahkan di Indonesia oleh Presiden Jokowi.
Sayangnya, saat kunjungan dalam rangka Praktik Kuliah Lapangan (PKL), tempat potong rambut ini dalam keadaan tutup. Meskipun demikian, berdiri di depan bangunan yang telah berusia lebih dari satu abad ini, telah menghadirkan perasaan kagum tersendiri. Dinding-dindingnya yang masih kokoh dan terawat dengan baik seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kota Surabaya.
Dari titik tersebut, penulis melanjutkan langkah menyusuri ujung lorong Jalan Kembang Jepun. Seorang pria yang memiliki toko bangunan di sepanjang jalan dengan ramah mengarahkan kami pada salah satu klenteng. Klenteng itu bernama Hong Tiek Tien. Dilansir dari Tourism Surabaya, Klenteng Hong Tiek Hian merupakan klenteng tertua yang ada di Surabaya. Klenteng ini konon dibangun oleh tentara Tar-Tar pada zaman Kaisar Khu Bilai Kha, pada periode awal pendirian Kerajaan Majapahit. Usianya yang telah melampaui ratusan tahun menjadikan tempat ini bukan hanya tempat beribadah untuk umat Konghucu, tetapi sekaligus menjadi bagian dari saksi sejarah perkembangan Surabaya.
Saat melangkah memasuki area klenteng, suasana tenang langsung terasa. Wangi dupa menyapa lembut, tampak lampion-lampion bergantung indah, dan senyuman hangat menyambut kedatangan kami. Pengelola klenteng memperbolehkan kami untuk berkeliling dan melihat bagian dalam klenteng. Lilin-lilin menyala dengan cahaya temaram, asap dupa menguar memenuhi ruangan, dan ornamen-ornamen khas Tionghoa tertata rapi di setiap sudut. Sambutan ramah dan terbuka tersebut membuat hati kami terasa hangat. Bagi penulis, ini adalah momen pertama yang begitu berkesan dan penuh makna.
Dari pengalaman tersebut, penulis melihat bahwa toleransi dalam umat beragama di Surabaya masih sangat terasa. Ia tampak nyata melalui sikap saling menghargai, keterbukaan, dan keramahan yang diberikan kepada siapapun yang datang tanpa memandang latar belakang. Klenteng ini menjadi bukti mengenai keberagaman yang akan selalu hidup harmonis dalam ruang kota yang sama.
Melalui kunjungan ke Barbershop Shin Hua dan Klenteng Hong Tiek Hian, penulis menyadari bahwa kawasan Kya-Kya selain terkenal dengan pusat kulinernya, harus pula dikenal sebagai wujud toleransi yang hidup di Surabaya. Sejarah, budaya, dan toleransi berpadu membentuk identitas melalui nilai-nilai yang kuat hingga hari ini. Pengalaman PKL di Kya-Kya ini menjadi pengingat bahwa Surabaya sebagai kota metropolitan tetap memiliki dan menjaga ruang bagi keberagaman untuk tumbuh dan terawat. Keindahan kota ini bukan hanya dilihat dari gedung-gedung menjulang nan gemerlap, tetapi juga dari gedung-gedung tua dan kokoh yang menjadi saksi sejarah dan peradaban dari kota ini.
