Konten dari Pengguna

Aspek Operasional dalam Studi Kelayakan Bisnis: Kenapa Gerai Viral Tutup?

Dita Ariani

Dita Ariani

Mahasiswa prodi S1 Manajemen - Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dita Ariani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Usaha/Bisnis. Foto : Surya Travel/Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Usaha/Bisnis. Foto : Surya Travel/Pexels

Beberapa waktu lalu, kita pasti pernah melihat lini masa media sosial dipenuhi antrean panjang sebuah gerai makanan yang mendadak viral. Orang-orang rela berdiri berjam-jam demi mendapatkan satu porsi hidangan yang sedang hits. Namun, coba perhatikan gerai yang sama beberapa bulan kemudian. Mulai sepi, ulasan di internet berubah jadi buruk, hingga akhirnya tutup diam-diam.

Fenomena semacam ini sebenarnya cukup sering terjadi, dan penyebabnya tidak selalu karena rasa yang menurun atau tren yang bergeser. Banyak kasus menunjukkan bahwa gerai tersebut sebenarnya tidak pernah benar-benar siap menghadapi lonjakan permintaan sejak awal. Dapur yang hanya dirancang untuk skala kecil dipaksa melayani ratusan pesanan setiap hari, antrean menjadi tidak terkendali, waktu tunggu semakin lama, dan konsistensi rasa mulai berantakan. Pelanggan yang datang dengan ekspektasi tinggi pun akhirnya kecewa, dan reputasi yang susah payah dibangun runtuh dalam waktu singkat.

Inilah yang dimaksud dengan aspek teknis dan operasional dalam studi kelayakan bisnis. Secara sederhana, aspek ini menjawab satu pertanyaan mendasar: "Jika bisnis ini benar-benar berjalan, bahkan tumbuh lebih besar dari perkiraan apakah bisnis tersebut mampu berjalan secara konsisten setiap hari?"

Hal-Hal yang Perlu Dipertimbangkan dengan Matang

Pemilihan lokasi. Faktor ini bukan sekadar soal keramaian tempat. Tidak jarang ditemukan usaha yang berdiri di lokasi terlihat strategis, namun ternyata jauh dari pemasok bahan baku atau suku cadang. Setiap kali membutuhkan pasokan, harus menempuh jarak yang jauh terlebih dahulu. Akibatnya, waktu terbuang dan biaya operasional membengkak.

Kapasitas produksi. Hal ini kerap diabaikan oleh pelaku usaha yang baru memulai, sebagaimana terlihat pada kasus gerai viral tadi. Semangat di awal usaha memang penting, tetapi perlu juga diperhitungkan: apabila permintaan meningkat drastis, apakah peralatan dan tempat usaha mampu mengimbanginya? Atau justru akan kewalahan begitu popularitasnya melonjak tiba-tiba?

Teknologi dan peralatan. Tidak selalu harus mahal dan canggih, yang terpenting adalah sesuai dengan kebutuhan. Tidak sedikit usaha kecil yang memaksakan diri membeli mesin berskala industri, padahal pesanannya masih puluhan per hari. Hasilnya, mesin tersebut tidak terpakai secara optimal dan modal justru tertahan pada peralatan yang kurang efisien.

Bahan baku dan pemasok. Ini juga sering menjadi titik lemah suatu usaha. Memiliki produk yang baik namun pasokan bahan baku tidak stabil membuat bisnis menjadi rentan.

Tata letak kerja. Terdengar sederhana, namun coba perhatikan dapur restoran yang alurnya tidak tertata staf harus bolak-balik jauh untuk mengambil bahan, sehingga proses memasak menjadi lebih lama dan pelanggan menunggu lebih lama dari seharusnya. Padahal hal ini semata soal tata letak yang tidak direncanakan sejak awal.

Tenaga kerja. Terakhir, perlu diperhitungkan pula siapa yang akan menjalankan seluruh proses tersebut, bagaimana keterampilan yang dibutuhkan, dan apakah jumlahnya memadai untuk menopang operasional harian, terutama saat permintaan melonjak tak terduga.

Mengapa Aspek Ini Sangat Penting?

Aspek ini dapat diibaratkan sebagai fondasi sebuah bangunan. Desainnya bisa saja terlihat menarik namun jika fondasinya tidak kokoh, lambat laun bangunan tersebut akan goyah juga. Kasus gerai viral yang akhirnya tutup diam-diam menjadi contoh nyata bahwa bisnis yang sebenarnya memiliki potensi besar bisa saja gagal bukan karena idenya buruk, melainkan karena tidak siap secara operasional saat harus berkembang lebih besar dari yang direncanakan.

Oleh karena itu, ketika menyusun rencana bisnis, strategi pemasaran atau proyeksi keuntungan saja tidak cukup. Perlu ada gambaran nyata mengenai bagaimana proses kerja akan berjalan sehari-hari, serta apakah hal tersebut realistis untuk dijalankan dengan sumber daya yang tersedia termasuk ketika bisnis tersebut mendadak menjadi sangat diminati.