Konten dari Pengguna

Menjaga Talenta Tetap Bertahan: Pelajaran Retensi dari Satu Kelompok Kuliah

Dita Ariani

Dita Ariani

college student and administrative staff

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dita Ariani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Gustavo Fring / Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Gustavo Fring / Pexels

Pendahuluan

Dalam dunia kerja, merekrut talenta hanyalah separuh perjuangan. Separuh lainnya, yang sering diabaikan, adalah membuat talenta itu mau bertahan. Organisasi yang rajin merekrut tetapi lalai merawat akan terus kehilangan orang-orang terbaiknya. Kehilangan karyawan berarti kehilangan biaya seleksi dan pelatihan, juga pengetahuan yang ikut pergi bersama mereka. Allen, Bryant, dan Vardaman (2010) menegaskan bahwa strategi retensi yang efektif perlu didasarkan pada bukti dan pemahaman tentang apa yang sebenarnya membuat karyawan bertahan, bukan sekadar anggapan umum.

Upaya menjaga karyawan berprestasi agar tetap berkomitmen pada organisasi disebut retensi talenta (talent retention). Prinsipnya sederhana: orang bertahan ketika merasa dikenali, dihargai, diberi peran yang tepat, dan melihat masa depan di tempatnya berada.

Prinsip ini dapat diamati dalam skala kecil, yaitu kelompok kuliah kami yang beranggotakan empat orang. Kelompok adalah miniatur organisasi, lengkap dengan pembagian peran, tenggat, dan dinamika kerja sama. Jika anggota tidak merasa dihargai, semangatnya menurun, sama seperti karyawan yang mulai berpikir untuk pindah. Artikel ini menganalisis talenta keempat anggota kelompok kami dan mengaitkannya dengan teori retensi talenta.

Analisis Talenta Anggota Kelompok

Fransiskus unggul dalam analisis data dan sangat teliti. Ia mudah menemukan kesalahan kecil yang luput dari perhatian kami. Kelemahannya, ia jarang menyampaikan ide di forum diskusi, padahal gagasannya sering matang. Risiko retensinya adalah merasa kontribusinya tidak terlihat.

Gading adalah komunikator yang luwes dan mudah memimpin diskusi. Ia mencairkan suasana dan menyatukan pendapat yang berbeda. Namun, ia kurang tuntas pada detail sehingga hasil kerjanya kerap membutuhkan penyempurnaan. Risikonya adalah merasa jenuh bila terus dikoreksi tanpa diapresiasi kekuatannya.

Dafa kreatif dalam merancang konsep dan visual. Ide-idenya membuat hasil kerja kami lebih menarik. Kendalanya, ia sering terlambat memenuhi tenggat. Risikonya, ia bisa merasa dihakimi hanya karena soal waktu, padahal kreativitasnya bernilai besar.

Vito disiplin dan pengatur waktu yang baik. Ia menjaga ritme kerja kelompok agar sesuai jadwal. Ia hanya perlu lebih berani mengambil inisiatif. Risikonya, ia merasa perannya sebatas pelaksana dan tidak berkembang.

Pembahasan: Retensi Talenta dalam Teori dan Praktik

Literatur manajemen sumber daya manusia menunjukkan bahwa retensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kesesuaian peran dengan kompetensi (person-job fit), pengakuan dan pemenuhan kebutuhan psikologis, peluang berkembang, serta lingkungan kerja yang aman dan melibatkan. Faktor-faktor ini tercermin jelas dalam kelompok kami.

1. Kesesuaian peran. Hasil meta-analisis Kristof-Brown, Zimmerman, dan Johnson (2005) menunjukkan bahwa kesesuaian antara individu dan pekerjaannya berhubungan dengan kepuasan kerja, komitmen organisasi, dan rendahnya niat untuk keluar. Pendekatan berbasis kekuatan (Buckingham & Clifton, 2001) juga menekankan bahwa orang berkembang paling pesat ketika kekuatan alaminya dimanfaatkan, bukan ketika waktunya habis untuk memperbaiki kelemahan. Dalam kelompok kami, Fransiskus paling tepat memegang analisis data dan pemeriksaan akhir. Gading cocok sebagai koordinator dan juru bicara. Dafa berperan di konsep dan desain, dan Vito sebagai pengatur jadwal. Penempatan seperti ini membuat tiap anggota merasa berharga.

2. Pengakuan dan kebutuhan psikologis. Herzberg, Mausner, dan Snyderman (1959) dalam teori dua faktor menempatkan pengakuan dan prestasi sebagai motivator yang mendorong kepuasan kerja. Teori determinasi diri juga menyebut tiga kebutuhan dasar manusia, yaitu kompetensi, otonomi, dan keterhubungan (Deci & Ryan, 2000). Apresiasi sederhana, seperti menyebut kontribusi seseorang di depan kelompok, sudah memenuhi kebutuhan akan kompetensi dan keterhubungan. Bagi Fransiskus dan Dafa, pengakuan atas ketelitian dan kreativitas mereka sama pentingnya dengan koreksi atas kekurangan.

3. Peluang berkembang. Retensi tidak cukup dengan menempatkan orang di peran yang nyaman. Orang juga perlu tumbuh. Kram (1985) menunjukkan bahwa relasi mentoring memberi dukungan karier sekaligus dukungan psikososial bagi pihak yang dibimbing. Gading perlu belajar ketuntasan, Dafa perlu mengelola waktu, sementara Fransiskus dan Vito perlu didorong untuk lebih berani bersuara dan berinisiatif. Dalam organisasi, hal ini sejalan dengan pelatihan dan jalur karier yang membuat karyawan melihat masa depan di tempatnya bekerja.

4. Lingkungan yang aman dan melibatkan. Edmondson (1999) menunjukkan bahwa keamanan psikologis, yaitu keyakinan bahwa seseorang tidak akan dipermalukan karena berpendapat atau berbuat salah, mendorong pembelajaran dalam tim. Kahn (1990) menjelaskan bahwa orang melibatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan ketika merasa aman, bermakna, dan tersedia secara psikologis. Bila kelompok hanya mengkritik kekurangan, anggota seperti Fransiskus akan semakin enggan bicara. Budaya saling mendukung membuat perbedaan sifat menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.

Rekomendasi

Berdasarkan analisis tersebut, beberapa langkah berikut dapat diterapkan, baik dalam kelompok maupun organisasi:

  1. Petakan kekuatan dan tempatkan orang sesuai perannya. Ini langkah awal retensi yang paling murah dan berdampak.

  2. Terapkan peer mentoring. Gading dapat membantu Fransiskus melatih keberanian berbicara, sementara Fransiskus membantu Gading meningkatkan ketelitian. Vito dapat menjadi teman belajar manajemen waktu bagi Dafa, dan Dafa membantu Vito mengembangkan gagasan dan inisiatif.

  3. Berikan apresiasi rutin dan spesifik. Sebut kontribusi nyata seseorang, bukan sekadar pujian umum.

  4. Beri ruang inisiatif secara bertahap. Misalnya, Vito diberi tanggung jawab memimpin satu bagian pekerjaan, dan Fransiskus diminta mempresentasikan hasil analisisnya.

  5. Sepakati tenggat bersama dan lakukan evaluasi berkala. Tenggat yang disepakati lebih mudah dipatuhi, sehingga keterlambatan dapat ditangani tanpa menekan kreativitas.

Kesimpulan

Retensi talenta bukan soal menahan orang agar tidak pergi, melainkan menciptakan alasan bagi mereka untuk ingin tinggal. Pengalaman kelompok kecil kami menunjukkan bahwa setiap orang membawa kekuatan dan kekurangannya sendiri, dan organisasi yang bijak mengelola keduanya: menempatkan orang sesuai kekuatannya, menghargai kontribusinya, dan membantunya berkembang. Jika kelompok beranggotakan empat orang saja sudah memerlukan pendekatan seperti ini, organisasi besar tentu lebih membutuhkannya. Talenta yang dikenali, dihargai, dan dikembangkan akan bertahan, dan organisasi yang menjaganya akan tumbuh kuat.

Daftar Pustaka

Allen, D. G., Bryant, P. C., & Vardaman, J. M. (2010). Retaining talent: Replacing misconceptions with evidence-based strategies. Academy of Management Perspectives, 24(2), 48–64.

Buckingham, M., & Clifton, D. O. (2001). Now, discover your strengths. New York: The Free Press.

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The "what" and "why" of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.

Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383.

Herzberg, F., Mausner, B., & Snyderman, B. B. (1959). The motivation to work (2nd ed.). New York: John Wiley & Sons.

Kahn, W. A. (1990). Psychological conditions of personal engagement and disengagement at work. Academy of Management Journal, 33(4), 692–724.

Kram, K. E. (1985). Mentoring at work: Developmental relationships in organizational life. Glenview, IL: Scott, Foresman.

Kristof-Brown, A. L., Zimmerman, R. D., & Johnson, E. C. (2005). Consequences of individuals' fit at work: A meta-analysis of person–job, person–organization, person–group, and person–supervisor fit. Personnel Psychology, 58(2), 281–342.

Ditulis oleh :

  • Dafa Maulana Ahsan

  • Dimas Vito Wibowo

  • Fransiskus Rohbiditus Nehe

  • Gading Ayu Pramesti

Mahasiswa Program Studi Manajemen Program Sarjana, Universitas Pamulang

Dosen Pengampu : Siska Yunanti, S.E., M.M.

Mata Kuliah : Talent Manajemen