Dimsum Bond : Resep Baru Diversifikasi Pembiayaan Pemerintah

Mahasiswa di Politeknik Keuangan Negara STAN
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Diva Alyssa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tak kenal dengan "dimsum"? Kudapan kecil khas Tiongkok yang menggoda selera. Namun, di dunia keuangan internasional, istilah ini punya makna yang jauh berbeda. Dimsum bond adalah “menu” investasi berdenominasi yuan yang disajikan di luar daratan Tiongkok, menawarkan cita rasa peluang baru bagi negara dan pelaku pasar global.
Dimsum bond merupakan instrumen keuangan berupa obligasi yang diterbitkan di Hongkong dan menggunakan renminbi offshore (CNH) sebagai denominasi, sehingga memudahkan perusahaan mengakses pembiayaan dalam mata uang Tiongkok di luar pasar daratan. Dimsum bond dibuat supaya perusahaan dari mana saja bisa meminjam uang dari investor internasional dalam mata uang yuan, tanpa harus terbitkan obligasi di pasar Tiongkok daratan yang aturannya lebih kompleks.
Sebelumnya pemerintah Indonesia telah menerbitkan 3 surat utang non-dolar AS, yaitu samurai bond, euro bond dan yang terbaru adalah kangaroo bond. Langkah ini mencerminkan upaya diversifikasi sumber pembiayaan sekaligus basis investor.
Saat ini, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap nilai dolar AS dan ketidakpastian pasar obligasi internasional mendorong negara-negara, termasuk Indonesia, beralih atau melakukan diversifikasi pembiayaan. Pemerintah Indonesia berencana untuk menerbitkan dimsum bond pada kuartal IV 2025.
Rencana penerbitan ini dilakukan sebagai upaya diversifikasi pembiayaan untuk mengurangi cost of fund, memperluas basis investor dan mengelola portofolio secara optimal. Mari kita bedah, bagaimana diversifikasi ini dapat berdampak baik untuk keuangan negara.
Mengurangi Cost of Fund
Cost of fund merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan ataupun pemerintah (untuk obligasi negara) kepada pemberi dana atau investor yang membeli obligasi negara.
Berdasarkan grafik MacroMicro (China/US 10Y Bond Yield Spread vs. USD/CNH), sejak 2012, yield obligasi pemerintah Tiongkok tenor 10 tahun umumnya berada di atas yield obligasi AS, sehingga spread positif. Kondisi ini berarti obligasi Tiongkok menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan dengan AS, yang biasanya membuat investor asing lebih tertarik membeli obligasi berdenominasi renminbi. Namun, sejak sekitar 2022, spread tersebut menurun tajam bahkan masuk wilayah negatif. Artinya, yield obligasi AS lebih tinggi daripada Tiongkok.
Penurunan spread ini bertepatan dengan pelemahan CNH terhadap USD, yang menandakan arus modal cenderung keluar dari Tiongkok menuju AS. Dalam penerbitan utang internasional, ketika spread rendah atau negatif, pemerintah Tiongkok (atau pihak yang menerbitkan obligasi dalam CNH seperti dimsum bond) berpotensi menawarkan kupon yang relatif lebih rendah dibanding instrumen USD, sehingga cost of fund menjadi lebih murah.
Kalau pemerintah Indonesia menerbitkan obligasi dalam CNH, pada saat membayar bunga atau pokok, nilai CNH relatif lebih murah kalau diukur dalam USD atau rupiah (selama tren pelemahan CNH berlanjut). Jadi bukan hanya kupon rendah, kursnya pun tidak memberatkan selama CNH lemah. Namun, hal ini tidak bisa dipandang sebelah mata, karena jika CNH menguat signifikan, maka beban pembayarannya justru dapat meningkat. Oleh karena itu, dalam penerbitan dimsum bond diperlukan pertimbangan yang matang.
Memperluas Basis Investor
Memperluas basis investor artinya menambah variasi kelompok pembeli surat utang negara, baik dari sisi lokasi geografis, jenis institusi, maupun mata uang yang digunakan, sehingga permintaan terhadap surat utang tidak bergantung pada satu segmen pasar saja.
Penerbitan dimsum bond membuka peluang untuk menjangkau ekosistem investor yang berbeda, seperti investor yang aktif di Hongkong, Macau, Singapura hingga negara-negara yang menyimpan sebagian cadangannya dalam mata uang yuan.
Bagi Indonesia, dampaknya bukan sekadar menambah jumlah pembeli, tetapi juga memperkuat stabilitas pembiayaan. Ketika pasar obligasi USD sedang tertekan akibat kenaikan suku bunga The Fed, investor CNH dapat menjadi penyeimbang permintaan. Dengan begitu, pemerintah tetap memiliki ruang untuk mendapatkan pendanaan dengan biaya yang kompetitif. Pada saat yang sama, langkah ini memperkuat reputasi Indonesia di pasar internasional sebagai penerbit yang mampu mengakses berbagai pusat keuangan dunia. Hal ini menjadi sinyal positif yang kerap diperhatikan oleh lembaga pemeringkat dan investor global.
Mengelola Portofolio Secara Optimal
Menata komposisi seluruh instrumen utang harus dilakukan dengan optimal, baik dalam jenis kupon, pasar penerbitan, profil jatuh tempo, maupun mata uang. Saat ini, utang pemerintah Indonesia didominasi oleh USD, JPY, dan EUR. Menambahkan CNH berarti diversifikasi mata uang, dapat membantu mengurangi risiko jika satu mata uang melemah atau suku bunganya naik tajam.
Jika hanya fokus pada satu mata uang misal USD, ketika USD menguat atau suku bunga melonjak, maka akan menyebabkan biaya utang bertambah dan memperberat kewajiban membayarnya. Tetapi, ketika terdapat diversifikasi lain, misalnya CNH, maka guncangan di satu mata uang bisa ditahan oleh yang lain.
Ketika yield CNH sedang lebih rendah dibanding USD, menerbitkan dimsum bond menurunkan cost of fund rata-rata portofolio. Pasar CNH kadang lebih “ramah” pada tenor tertentu (misalnya 3–5 tahun). Pemerintah bisa menyusun tangga jatuh tempo (maturity ladder) yang rapi (tidak menumpuk di satu tahun) sehingga risiko refinancing berkurang. Dengan begitu, portofolio utang tetap terjaga.
Penerbitan dimsum bond menjadi langkah strategis bagi Pemerintah Indonesia dalam memperkuat fondasi pembiayaan negara. Melalui instrumen ini, pemerintah tidak hanya berpotensi memperoleh biaya dana yang lebih rendah, tetapi juga mampu memperluas basis investor dengan menjangkau pasar yuan lepas pantai dan institusi keuangan Asia. Selain itu, diversifikasi mata uang melalui dimsum bond dapat membantu mengelola portofolio utang secara lebih optimal.
Meskipun demikian, sejumlah risiko tetap harus diperhatikan, seperti risiko nilai tukar apabila CNH menguat signifikan terhadap rupiah, risiko suku bunga global yang dapat memengaruhi tingkat kupon, serta risiko pembiayaan kembali jika jatuh tempo tidak diatur dengan baik. Oleh karena itu, penerbitan dimsum bond sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan yang terukur, dengan perhitungan matang agar manfaatnya bagi stabilitas fiskal dan kredibilitas pasar dapat lebih besar dibanding potensi risikonya.
