Dibalik Film My Annoying Brother: Haruskah Disabilitas Selalu Hebat?

Seorang Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Diva Tazkiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Film My Annoying Brother(2016) mengisahkan Doo-Young (Do Kyung Soo), seorang atlet judo nasional yang kehilangan penglihatannya secara permanen akibat cedera saat bertanding. Kehidupan Doo-Young semakin berat karena ia juga yatim piatu. Kondisi ini dimanfaatkan oleh sang kakak, Doo-Shik (Jo Jung Suk), seorang narapidana yang mengajukan pembebasan bersyarat dengan dalih ingin merawat adiknya yang buta. Setelah bebas, Doo-Shik justru tidak menjalankan perannya dengan baik dan kerap bersikap cuek terhadap adiknya. Untungnya, Doo-Young mendapat dukungan moral dari pelatih judonya, Soo-Hyun (Park Shin Hye), yang terus memotivasinya untuk bangkit.
Meskipun hubungan Doo-Young dan Doo-Shik awalnya penuh pertengkaran, keduanya sebenarnya menyimpan rasa sayang satu sama lain. Lambat laun, Doo-Shik mulai berubah dan berusaha membantu adiknya beradaptasi dengan kondisinya. Namun, kebersamaan mereka diuji saat Doo-Shik diketahui mengidap kanker stadium akhir. Meski kesehatannya menurun drastis, Doo-Shik tetap bertekad menggunakan sisa hidupnya untuk mendukung Doo-Young mencapai impian bertanding pada ajang paralimpiade.

Apa Itu Supercrip Model?
Teori Supercrip Model memandang penyandang disabilitas sebagai individu yang memiliki kemampuan luar biasa karena dianggap mampu mengatasi keterbatasan fisiknya. Dalam kerangka ini, disabilitas bukan dilihat sebagai bagian dari keberagaman manusia yang perlu diterima, melainkan sebagai hambatan yang harus ditaklukkan melalui perjuangan pribadi. Model ini menekankan pada narasi pencapaian, di mana keberhasilan individu disabilitas sering kali ditonjolkan sebagai kisah inspiratif.
Konsekuensinya, penyandang disabilitas seolah dituntut untuk memiliki prestasi agar mendapat pengakuan dan dihargai oleh masyarakat. Semakin berat kondisi disabilitas yang dimiliki dan semakin besar pencapaiannya, maka individu tersebut semakin dicitrakan sebagai supercrip. Hal ini dapat menciptakan tekanan sosial yang tidak adil, karena tidak semua penyandang disabilitas memiliki akses, kesempatan, atau keinginan untuk memenuhi standar pencapaian tersebut.
Representasi Doo-Young Sebagai “Supercrip”
Dalam film My Annoying Brother, Doo-Young dgambarkan mengalami tekanan mental dan kehilangan arah setelah kehilangan penglihatannya secara permanen setelah mengalami cedera dalam pertandingan judo. Ia merasa hidupnya hancur dan menunjukkan tanda-tanda depresi seperti menutup diri dari lingkungan sekitar dan menolak bantuan dari orang lain. Gambaran ini mencerminkan pola umum dalam representasi disabilitas di media, di mana kehilangan fungsi fisik terutama bagi atlet yang merasa berada diposisi titik terendah dalam kehidupan seseorang.
Seiring berjalannya cerita, Doo-young perlahan mulai bangkit dan kembali berlatih judo, bahkan dipersiapkan untuk berlaga di ajang paralimpiade. Perubahan drastis ini memperlihatkan dirinya sebagai sosok yang mampu melampaui batasan fisik, sesuai dengan gambaran dalam supercrip model. Ia digambarkan tidak hanya mampu kembali menjalani hidup, tetapi juga berprestasi tinggi dan menjadi inspirasi. Sayangnya, narasi semacam ini juga menunjukkan bahwa nilai seorang penyandang disabilitas baru dianggap penting jika mereka bisa membuktikan diri dengan pencapaian luar biasa. Hal ini menegaskan kembali pandangan bahwa disabilitas adalah hambatan yang harus ditaklukkan, bukan kondisi yang dapat dijalani secara setara dalam masyarakat inklusif.
Kesimpulan
Film My Annoying Brother menghadirkan cerita yang menyentuh tentang hubungan keluarga dan perjuangan hidup melalui karakter Doo-young yang mengalami disabilitas. Film ini memang berhasil memberikan inspirasi dan motivasi, namun cara menggambarkan disabilitasnya mengikuti pola yang disebut supercrip model yaitu menampilkan penyandang disabilitas sebagai sosok luar biasa karena bisa meraih prestasi besar meski memiliki keterbatasan. Meski terdengar positif, pendekatan ini sebenarnya bisa jadi masalah karena seolah-olah penyandang disabilitas baru "berharga" kalau bisa mencapai sesuatu yang hebat. Padahal, banyak penyandang disabilitas lain yang hidup normal tanpa harus jadi inspirasi bagi orang lain, dan itu juga sama berharganya.
