Kerudung Untuk Si Kecil: Menumbuhkan Iman atau Menimbulkan Tekanan?

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Progran Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Diva Zariroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi banyak orang tua Muslim, mengajarkan anak perempuan memakai kerudung sejak kecil adalah bagian dari mendidik dalam nilai-nilai agama. Orang tua tentunya berharap anak perempuan kecilnya akan tumbuh menjadi perempuan yang salihah dan selalu menjaga kesuciannya. Tapi sebenarnya, apakah si kecil sudah siap? Apakah kerudung di usia dini bisa menumbuhkan iman, ataukah justru menimbulkan tekanan yang tidak terlihat? Yuk kita bahas dari sisi agama, psikologis, dan parenting masa kini!
Anak-anak dan Pemahaman Iman
Dalam Islam, mendidik anak adalah perintah mulia. Tapi penting juga diingat bahwa Islam sangat memperhatikan tahapan usia dan perkembangan anak.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud)
Ini menunjukan bahwa ajaran Islam sangat memahami bahwa anak-anak tidak langsung dibebani kewajiban sejak dini, tapi diajak secara bertahap sesuai usia dan kemampuan berpikir mereka.
Nah, dalam psikologi pun begitu! Anak usia 2-7 tahun menurut ahli seperti Jean Piaget masih berada pada tahap “pra-operasional”, yaitu belum bisa memahami hal-hal abstrak seperti makna ibadah atau niat karena Allah.
Mengenalkan Boleh, Memaksa Jangan Dulu
Apakah boleh mengenalkan kerudung sejak kecil? Tentu saja boleh. Tapi yang perlu diingat yaitu cara mengenalkannya harus lembut dan menyenangkan. Ada beberapa tips ala parenting Islami dan psikologi yang bisa jadi solusi nih!
Contohkan dengan bahagia : Anak cenderung meniru apa yang dia lihat, bukan hanya disuruh.
Libatkan dalam permainan : Misalnya, boneka berhijab atau cerita tentang teladan Muslimah seperti Fatimah binti Rasulullah.
Gunakan bahasa ajakan, bukan paksaan seperti “Adek mau pakai kerudung cantik kayak Mama hari ini?”
Resiko Jika Terlalu Dini dan Tanpa Pemahaman
Kalau si kecil belum paham dan sudah dipaksa terus-menerus, beberapa resiko ini bisa muncul di kemudian hari:
Penolakan di usia remaja: Anak merasa “dipaksa” dan ingin lepas ketika ia bisa memilih.
Kebingungan identitas: Tidak tahu apakah dia benar-benar ingin berhijab, atau hanya takut dimarahi.
Ibadah jadi beban: Hijab dianggap aturan kaku, bukan bentuk cinta kepada Allah.
Kepercayaan diri yang rendah: Menurut fakta Psikologis, anak yang merasa ditekan sejak dini lebih beresiko mengalami kecemasan dan rendahnya rasa percaya diri (self-esteem).
Pandangan Islam: Bertahap dan Penuh Cinta
Dalam Islam, usia baligh adalah batas awal kewajiban syariat seperti halnya menutup aurat. Sebelum itu, masa anak-anak adalah masa pendidikan dan pembiasaan, bukan paksaan. Lebih penting dari sekedar “pakai atau tidak”, adalah bagaimana anak merasa dekat dengan Allah dan bangga jadi Muslimah. Iman yang tumbuh dari hati, akan bertahan sepanjang hidup.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya mendidik anak dengan cinta dan teladan yang baik agar agama terasa indah dalam hati mereka. Jadi mengenalkan hijab sejak kecil bisa jadi ladang pahala asal dilakukan dengan hikmah dan kasih sayang.
Yuk, Jadi Teladan yang Lembut
Kalau kamu adalah orang tua, guru, atau kakak yang sedang mengenalkan hijab ke si kecil, semangat ya! Ingat, iman bukan lomba cepat-cepatan, tapi perjalanan yang indah. Biarlah mereka mencintai hijab bukan karena takut, tapi karena cinta kepada Allah.
