Konten dari Pengguna

Curhat, Diary, dan Media Sosial dalam Perspektif Psikodiagnostik

Diva Aulia Putri

Diva Aulia Putri

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diva Aulia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://unsplash.com/photos/a-person-sitting-at-a-table-with-a-book-and-pen-tYfvS2ru5lw
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/photos/a-person-sitting-at-a-table-with-a-book-and-pen-tYfvS2ru5lw

Di era digital seperti sekarang, menuliskan perasaan di media sosial sudah menjadi hal yang sangat biasa. Mulai dari membuat notes di Instagram, menulis tweet galau di X, curhat di TikTok, sampai membagikan isi pikiran di close friends. Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa lebih lega setelah menuangkan emosinya melalui tulisan di media sosial.

Pernahkah kamu menulis sesuatu saat sedang sedih, lalu beberapa jam kemudian merasa lebih tenang? Atau mungkin pernah mengunggah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak ditujukan kepada siapa pun secara spesifik, tetapi berharap ada seseorang yang memahami perasaanmu? Fenomena seperti ini ternyata cukup umum terjadi.

Fenomena ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kebiasaan menulis diary atau buku harian yang sudah ada sejak lama. Bedanya, jika dulu perasaan biasanya ditulis secara pribadi dan disimpan rapat, sekarang banyak orang justru membagikannya secara terbuka di internet. Jika diary generasi sebelumnya disimpan di laci kamar, diary generasi sekarang mungkin tersimpan dalam bentuk tweet, caption Instagram, notes, atau unggahan di TikTok.

Dalam perspektif psikologi, terutama psikodiagnostik, tulisan pribadi seperti diary, autobiografi, maupun unggahan media sosial ternyata dapat memberikan gambaran tertentu mengenai kondisi psikologis seseorang. Namun, tentu saja psikolog tidak langsung menyimpulkan kepribadian seseorang hanya dari satu postingan saja.

Menurut Rachmat Mulyono dalam buku Psikodiagnostik: Suatu Pengantar, salah satu metode dalam psikodiagnostik adalah analisis dokumen pribadi. Dokumen pribadi ini bisa berupa buku harian, surat pribadi, autobiografi, hingga catatan kehidupan seseorang. Melalui tulisan-tulisan tersebut, psikolog dapat memperoleh tambahan informasi untuk memahami dinamika psikologis individu secara lebih mendalam.

Buku tersebut juga menjelaskan bahwa diary atau buku harian sering menjadi tempat seseorang mencurahkan hal-hal yang dianggap penting, emosional, bahkan rahasia. Karena itu, tulisan pribadi dapat membantu menggambarkan perasaan, pengalaman, maupun cara seseorang memandang dirinya sendiri dan lingkungannya.

Jika dikaitkan dengan kehidupan sekarang, media sosial sebenarnya juga dapat menjadi bentuk ekspresi diri. Caption panjang, tweet emosional, atau unggahan yang dibuat ketika seseorang sedang sedih, marah, kecewa, maupun kesepian sering kali menjadi cara individu meluapkan emosinya. Dari sini, psikolog bisa melihat pola tertentu, misalnya bagaimana seseorang mengekspresikan emosi, bagaimana ia menghadapi masalah, atau bagaimana relasinya dengan orang lain.

Menariknya, bukan hanya isi tulisan yang dapat memberikan informasi. Kadang-kadang pola menulis seseorang juga bisa menjadi petunjuk. Apakah seseorang hanya menulis ketika sedang sedih? Apakah ia sering menuliskan perasaan kesepian? Apakah tulisannya lebih banyak berisi harapan, kemarahan, atau penyesalan? Dalam psikodiagnostik, pola seperti ini dapat menjadi informasi tambahan yang membantu memahami pengalaman subjektif individu.

Namun, penting dipahami bahwa psikodiagnostik tidak bekerja sesederhana "lihat postingan lalu langsung menilai." Dalam psikodiagnostik, psikolog tetap membutuhkan proses yang lebih mendalam, seperti wawancara, observasi, hingga asesmen psikologi agar dapat memahami kondisi individu secara lebih akurat.

Hal ini penting karena tidak semua tulisan di media sosial benar-benar menggambarkan kondisi asli seseorang. Dalam buku Psikodiagnostik: Suatu Pengantar juga dijelaskan bahwa tulisan pribadi belum tentu sepenuhnya jujur. Terkadang seseorang bisa saja menyembunyikan kelemahannya, menampilkan dirinya sebaik mungkin, atau justru melebih-lebihkan emosinya.

Fenomena ini juga sering terlihat di media sosial. Ada orang yang terlihat sangat bahagia di Instagram, padahal sebenarnya sedang mengalami tekanan emosional. Sebaliknya, ada juga yang sering terlihat galau di media sosial tetapi sebenarnya hanya menjadikan internet sebagai tempat berekspresi.

Bahkan, tidak jarang seseorang memiliki "dua versi diri". Versi yang tampil di media sosial dan versi yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, psikolog tidak hanya melihat isi tulisan, tetapi juga konteks, pola perilaku, kondisi emosional, dan hubungan interpersonal individu. Dalam psikodiagnostik, satu perilaku atau satu postingan tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk memberi label tertentu pada seseorang.

Menariknya, budaya menulis perasaan di media sosial juga menunjukkan bahwa generasi sekarang semakin terbuka dalam mengekspresikan emosi. Di satu sisi, hal ini bisa membantu individu merasa lebih lega dan merasa tidak sendirian. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang menarik, "apakah kita benar-benar sedang mengekspresikan emosi, atau justru sedang mencari validasi dari orang lain?"

Pertanyaan tersebut tidak selalu memiliki jawaban yang pasti. Sebab setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika membagikan cerita atau perasaannya. Ada yang ingin didengar, ada yang ingin mencari dukungan, ada yang ingin mendokumentasikan perjalanan hidupnya, dan ada pula yang hanya ingin meluapkan emosi sesaat.

Pada akhirnya, curhat melalui tulisan, diary, maupun media sosial bukanlah sesuatu yang salah. Justru, tulisan sering menjadi cara seseorang memahami dirinya sendiri. Dalam perspektif psikodiagnostik, tulisan dapat membantu memberikan gambaran mengenai dinamika psikologis individu, tetapi tetap perlu dipahami secara hati-hati dan tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai seseorang. Di balik setiap tulisan yang kita baca, sering kali ada cerita, emosi, dan pengalaman hidup yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di layar.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Oleh: Diva Aulia Putri, Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.