Trauma Dumping dalam Kacamata Psikodiagnostik: Curhat atau Ledakan Emosi?

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Diva Aulia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Jangan judge aku ya, tapi…”
“Aku mau share sedikit kondisi aku beberapa hari ini.”

Baru-baru ini muncul istilah trauma dumping menjadi fenomena yang semakin sering muncul di media sosial seiring meningkatnya budaya oversharing di era digital. Kalimat-kalimat di atas rasanya sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika dulu curhat biasanya dilakukan kepada teman dekat, sekarang cerita pribadi, pengalaman emosional, hingga trauma dapat dengan mudah dibagikan di TikTok, X, dan Instagram kepada banyak orang. Dalam perspektif psikologi, fenomena ini juga dapat dipahami melalui psikodiagnostik untuk melihat kondisi emosional individu secara lebih mendalam.
Perilaku curhat seperti ini membuat batas antara ruang pribadi dan ruang publik menjadi semakin tipis. Tidak sedikit orang yang akhirnya terbiasa membagikan pengalaman emosionalnya secara terbuka di internet. Bahkan, konten seperti story time trauma atau curhat emosional sering mendapatkan banyak perhatian, empati, simpati, dan dukungan dari netizen. Karena sering muncul di media sosial, perilaku seperti ini akhirnya dianggap sebagai hal yang normal. Namun, tidak semua bentuk curhat termasuk komunikasi emosional yang sehat.
Apa itu trauma dumping?
Belakangan, muncul istilah trauma dumping. Istilah trauma dumping ini dibahas oleh Dr. Kate Truitt, seorang psikolog klinis dan neuroscientist terkemuka, yang menjelaskan dalam video Youtube pribadinya yang berjudul “What Is Trauma Dumping & Why Do We Do It with Dr. Kate Truitt”, dijelaskan bahwa trauma dumping bukan sekadar curhat biasa, tetapi kondisi ketika seseorang membagikan emosi atau pengalaman traumatis secara berlebihan hingga membuat orang lain merasa kewalahan secara emosional. Hal ini sering terjadi karena individu merasa sangat membutuhkan tempat untuk meluapkan emosinya, tetapi tidak menyadari batas emosional lawan bicara.
Selain itu, video lainnya yang berjudul “How to Set Boundaries During Trauma Dumping with Dr. Kate Truitt” juga dijelaskan bahwa trauma dumping dapat berkaitan dengan kebutuhan validasi emosional dan kesulitan mengatur emosi. Karena itu, penting bagi seseorang untuk memahami batas emosional dalam komunikasi, terutama di era digital ketika proses oversharing menjadi semakin mudah dilakukan.
Bagaimana perspektif psikodiagnostik terhadap trauma dumping?
Fenomena ini sebenarnya bisa dilihat dari perspektif psikodiagnostik. Dalam psikologi, psikodiagnostik adalah proses untuk memahami kondisi psikologis seseorang melalui wawancara, observasi, dan asesmen psikologi. Jadi, psikolog tidak langsung menilai seseorang “ada gangguan” hanya karena sering oversharing atau terlalu banyak curhat di media sosial.
Justru, dari sudut pandang psikodiagnostik, perilaku trauma dumping bisa menjadi petunjuk untuk memahami kondisi emosional individu secara lebih dalam. Psikolog akan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi dibalik perilaku tersebut. Misalnya, apakah individu tersebut sedang mengalami stres yang berat? Apakah ia merasa kesepian? Apakah ia tidak memiliki support system? Atau mungkin ia kesulitan mengatur emosinya sendiri?
Dalam proses psikodiagnostik, hal-hal seperti ini biasanya digali melalui wawancara psikologis. Lewat wawancara, psikolog dapat memahami bagaimana seseorang menghadapi masalah hidupnya, bagaimana cara ia mengekspresikan emosi, serta bagaimana hubungan interpersonalnya dengan orang lain. Selain wawancara, observasi juga menjadi bagian penting dalam psikodiagnostik. Psikolog bisa memperhatikan bagaimana ekspresi emosi individu ketika bercerita, apakah emosinya tampak meledak-ledak, apakah ia sulit mengontrol perasaan, atau apakah ia terlihat sangat membutuhkan validasi dari orang lain.
Bahkan, perilaku sederhana seperti terlalu sering membagikan masalah pribadi di media sosial bisa memberikan informasi penting mengenai kondisi psikologis seseorang. Dalam psikodiagnostik, perilaku yang terlihat di permukaan biasanya tidak langsung dinilai begitu saja, tetapi dipahami sebagai bagian dari dinamika psikologis individu.
Trauma dumping juga bisa berkaitan dengan regulasi emosi. Dalam video Youtube American Psychological Association (APA) bersama James Gross, dijelaskan bahwa regulasi emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengelola dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang tepat. Ketika seseorang merasa sangat sedih, stres, atau tertekan tetapi kesulitan mengelola emosinya, mereka mungkin meluapkannya secara spontan kepada orang lain atau media sosial.
Selain regulasi emosi, psikolog juga dapat melihat bagaimana pola coping stress individu. Ada orang yang mampu menghadapi masalah dengan cara yang sehat, tetapi ada juga yang melampiaskannya secara impulsif kepada lingkungan sekitar. Karena itu, trauma dumping tidak selalu berarti seseorang memiliki gangguan mental, tetapi bisa menjadi tanda bahwa individu sedang mengalami tekanan emosional atau kesulitan coping.
Dalam beberapa kasus, psikolog juga bisa menggunakan asesmen psikologi atau skala psikologi misalnya untuk melihat tingkat stres, kecemasan, maupun kemampuan regulasi emosi individu. Jadi, fokus psikodiagnostik bukan sekadar menilai perilaku “curhat berlebihan”, tetapi memahami kondisi psikologis yang melatarbelakangi perilaku tersebut.
Di sisi lain, trauma dumping juga bisa berdampak pada orang yang mendengarkannya tentunya. Mengapa demikian? karena tidak semua orang siap menerima cerita berat setiap saat. Jika terjadi terus-menerus, pendengar bisa merasa lelah secara emosional, kewalahan, bahkan ikut mengalami stres.
Karena itu, penting untuk memahami bahwa curhat bukanlah sesuatu yang salah. Justru dengan membagikan perasaan dapat membantu seseorang merasa lebih lega dan merasa tidak sendirian. Namun, di era digital seperti sekarang, penting juga untuk memahami batas emosional dalam komunikasi. Karena terkadang yang kita butuhkan bukan hanya tempat untuk meluapkan emosi, tetapi juga cara yang lebih sehat untuk mengelola emosi tersebut.
Pada akhirnya, fenomena trauma dumping menunjukkan bahwa kesehatan mental semakin sering dibicarakan secara terbuka di media sosial dan tentunya ini menjadi suatu awal yang positif. Namun, dari perspektif psikodiagnostik, penting untuk memahami bahwa setiap perilaku memiliki dinamika psikologis yang lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Karena itu, memahami emosi dan cara mengekspresikannya secara sehat menjadi hal penting di era digital saat ini.
