Desa Maju, Indonesia Kuat : Peran Strategis Mahasiswa

Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Kader IMM Fisip UMJ Universitas Muhammadiyah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Diva Muzizat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Ucap seorang revolusioner, Tan Malaka.
Kata-kata ini seharusnya menjadi tamparan keras, khususnya bagi mahasiswa mereka yang hari ini mengenyam pendidikan tertinggi di negeri ini. Namun, ironisnya, banyak yang justru terjebak dalam lomba tak berkesudahan mengejar nilai tinggi demi masa depan pribadi yang nyaman. Mereka rela membudakkan diri pada industri yang meraup keuntungan sebesar-besarnya, sambil perlahan melupakan statusnya yang pernah dibanggakan: agen perubahan.
Mahasiswa hari ini, di banyak ruang, cenderung terperangkap dalam individualisme. Orientasi mereka mengerucut pada kepentingan diri: mengejar nilai, sibuk berpindah dari satu program magang ke program magang lain, membangun portofolio untuk CV, dan memperluas jejaring hanya demi peluang kerja bergaji tinggi. Tidak salah memang, tetapi jika semua itu dilakukan dengan memunggungi rakyat, apa arti semua pengetahuan yang diperoleh dengan biaya dan harapan dari pajak masyarakat?
Mereka lupa bahwa setiap gelar sarjana adalah titipan amanah, bukan sekadar penghargaan pribadi. Lupa bahwa pendidikan bukan sekadar tiket untuk keluar dari jerat kemiskinan pribadi, tetapi tanggung jawab untuk memutus mata rantai ketertinggalan kolektif. Lupa bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga kawah candradimuka pembentukan karakter pejuang bangsa.
Di tengah derasnya arus kapitalisme global, mahasiswa justru dibutuhkan untuk kembali ke akar, melebur dengan denyut nadi rakyat di desa-desa, menyelami kehidupan yang jauh dari kemewahan, dan mempelajari masalah dari sumbernya. Sebab di sanalah letak masalah dan peluang terbesar negeri ini berada.
Desa adalah fondasi Indonesia. Dari sanalah pangan kita dihasilkan, budaya kita diwariskan, dan kekuatan sosial kita dibentuk. Namun ironisnya, desa juga sering menjadi wilayah yang tertinggal dalam peta pembangunan nasional. Akses pendidikan yang terbatas, layanan kesehatan yang minim, infrastruktur yang tertinggal, dan kesempatan ekonomi yang sempit telah memaksa banyak anak muda desa meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari penghidupan di kota.
Akibatnya, desa kehilangan sumber daya manusia terbaiknya. Petani menua tanpa regenerasi, usaha kecil terseok-seok tanpa sentuhan inovasi, dan potensi lokal terbengkalai karena tak ada yang mampu mengelolanya.
Di titik inilah mahasiswa memegang peran strategis. Mereka memiliki tiga modal yang tak dimiliki oleh kebanyakan warga desa seperti pengetahuan, jejaring, dan keterampilan mengakses informasi. Mahasiswa yang kembali ke desa bukan hanya membawa ide-ide segar, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Bayangkan jika mahasiswa pertanian kembali dan mengajarkan teknik budidaya modern yang ramah lingkungan. Atau mahasiswa teknik informatika mengembangkan platform digital untuk memasarkan produk desa langsung ke konsumen. Atau mahasiswa kesehatan yang menginisiasi layanan kesehatan berbasis teknologi sederhana, sehingga ibu hamil dan anak-anak tak lagi terabaikan.
Pembangunan desa bukan hanya soal membangun jalan dan gedung, tetapi membangun kapasitas manusia untuk mengelola potensi lokal mereka secara mandiri. Di sinilah mahasiswa bisa menjadi penghubung antara pengetahuan modern dan kearifan lokal, memastikan bahwa pembangunan tidak menghapus identitas desa, tetapi justru menguatkannya.
Jika mahasiswa enggan kembali, desa akan terus tertinggal, dan Indonesia akan terus dibangun secara timpang kuat di pusat, rapuh di akar. Sebaliknya, jika mahasiswa memilih pulang dan membangun, desa bisa menjadi motor pertumbuhan yang adil dan merata.
Namun, semua itu hanya akan menjadi wacana kosong jika kaum muda, terutama mahasiswa terus memunggungi desa. Pendidikan tinggi yang kita raih bukanlah hadiah untuk dibawa lari sejauh-jauhnya dari akar kita, melainkan amanah untuk kembali, menanam, dan memupuk perubahan di tanah kelahiran.
Desa adalah jantung Indonesia. Denyutnya menentukan sehat atau rapuhnya tubuh bangsa ini. Ketika desa lemah, kota pun tak akan kuat. Ketika desa tertinggal, Indonesia tak akan benar-benar maju. Maka, membangun desa bukan sekadar pilihan moral, tetapi sebuah keharusan strategis bagi masa depan negeri ini.
Bayangkan jika setiap mahasiswa yang lahir di desa kembali setelah menyelesaikan kuliah. Mereka membawa ilmu pengetahuan yang mutakhir, jaringan pertemanan dari berbagai daerah bahkan negara, serta perspektif global yang bisa disesuaikan dengan kearifan lokal. Dalam lima hingga sepuluh tahun, wajah desa akan berubah drastis—bukan hanya lebih modern, tetapi juga lebih mandiri.
Kita terlalu lama terjebak dalam logika “berhasil” yang diukur dari sejauh mana kita bisa meninggalkan desa. Seakan-akan desa adalah simbol keterbelakangan yang harus dihindari. Padahal, sejatinya desa adalah ladang peluang yang belum tergarap maksimal. Desa menyimpan potensi pertanian organik, energi terbarukan, wisata berbasis budaya, hingga industri kreatif yang hanya butuh sentuhan inovasi untuk meledak di pasar nasional dan global.
Mahasiswa adalah katalis perubahan itu. Bayangkan, Mahasiswa ekonomi bisa membantu BUMDes merancang model bisnis berkelanjutan., Mahasiswa teknik bisa merancang infrastruktur sederhana tapi efektif untuk mengatasi masalah air bersih atau pengelolaan sampah.
Mahasiswa komunikasi bisa membantu membangun citra dan branding desa agar menarik wisatawan, Mahasiswa pertanian bisa memperkenalkan teknik pertanian presisi untuk meningkatkan hasil panen. Semua itu bukan mimpi kosong tapi akan selamanya jadi mimpi jika tidak ada yang berani pulang.
Desa maju berarti Indonesia kuat. Desa yang berdaya akan menekan arus urbanisasi, menciptakan lapangan kerja lokal, mengurangi kesenjangan sosial, dan memperkuat ketahanan nasional. Pembangunan yang dimulai dari akar akan membuat batang bangsa ini tumbuh kokoh dan cabangnya menjulang tinggi. Maka, kepada seluruh mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di mana pun, saya ingin mengajak ”Pulanglah!!!”.
Bawalah ilmu yang kalian dapat bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk membebaskan desa dari belenggu keterbelakangan. Pulanglah bukan hanya secara fisik, tapi juga pulang dalam pikiran dan hatimelebur dengan masyarakat, memahami masalah mereka, dan bersama-sama mencari solusi. Seperti kata Soe Hok Gie: “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua tapi tidak pernah melawan ketidakadilan.” Melawan ketidakadilan itu tidak selalu dengan turun ke jalan; membangun desa juga adalah bentuk perlawanan perlawanan terhadap kemiskinan, kesenjangan, dan kelalaian negara.
Indonesia tidak akan maju hanya dengan pusat yang gemerlap. Indonesia akan maju ketika desa-desa di Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote, bisa berdiri sejajar, saling menguatkan, dan mengalirkan kekuatan ke seluruh negeri. Dan itu, saudara-saudaraku, dimulai dari kita mahasiswa yang hari ini menuntut ilmu dan besok akan menentukan arah sejarah. Karena ketika desa berdiri tegak, Indonesia akan melangkah lebih jauh. Dan ketika kaum muda kembali ke akar, pohon besar bernama bangsa ini akan berbuah kemajuan.
Muhammad Diva Muzizat
Mahasiswa Tangerang
