Konten dari Pengguna

Mental Miskin: Akar Masalah Kemiskinan yang Jarang Disadari

Divania Nur Rosyda

Divania Nur Rosyda

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Malang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Divania Nur Rosyda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang bermental miskin, ingin mendapatkan uang secara instan dengan cara mengemis. Gambar: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang bermental miskin, ingin mendapatkan uang secara instan dengan cara mengemis. Gambar: Pexels

Kemiskinan telah menjadi permasalahan utama di dunia yang belum juga terselesaikan. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 25,22 juta atau 9,03% penduduk. Meskipun diklaim menurun dari tahun sebelumnya, di Indonesia sendiri masih menggunakan basis ukuran sebesar US$ 1,9 per kapita per hari, sedangkan pada ukuran internasional (World Bank), garis kemiskinan ekstrem sebesar US$ 3,2 per kapita per hari. Jika dilihat dari standar internasional, jumlah kemiskinan di Indonesia lebih banyak dari data yang ditampilkan oleh BPS.

Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari bantuan sosial, program pemberdayaan ekonomi, hingga penciptaan lapangan kerja. Namun, mengapa kemiskinan ini masih sulit sekali diselesaikan? Banyak yang tidak menyadari bahwa di balik semua itu, ada penyebab utama yang sangat mendasar, yaitu mental miskin.

Penyebab ini seringkali tidak disadari karena disepelekan dan tidak terlihat secara langsung. Padahal mental ini bisa menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk meningkatkan kualitas hidup dan juga mewariskan nilai-nilai positif pada generasi berikutnya. Kemiskinan tidak hanya soal kekurangan sumber daya, tetapi juga pola pikir yang membatasi potensi seseorang.

Dalam artikel ini, akan mempelajari lebih lanjut apa itu mental miskin, bagaimana ciri-cirinya, apa penyebabnya, bagaimana dampaknya, serta bagaimana mengatasi masalah ini. Pemahaman mendalam diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan perubahan, baik dalam diri individu maupun dalam mengatasi kemiskinan secara keseluruhan.

Apa itu mental miskin?

Mental miskin dapat didefinisikan sebagai kondisi psikologis di mana seseorang memiliki pola pikir, sikap, dan perilaku yang membatasi potensi diri untuk berkembang dan meraih kesuksesan. Berbeda dengan kemiskinan materi yang terukur secara kuantitatif, mental miskin bersifat kualitatif dan dapat ditemui pada individu dari berbagai latar belakang ekonomi.

Orang miskin dan orang kaya, keduanya dapat memiliki mental miskin. Misalnya orang yang terjebak dalam kemiskinan struktural, mungkin orang tersebut sudah bekerja keras dan memiliki mental kaya namun sekeras apapun usahanya tetap saja sulit keluar dari kemiskinan. Lain halnya pengemis, dalam banyak kasus memiliki uang banyak dari hasil meminta-minta namun terjebak dalam kemalasannya dan tidak mau bekerja. Mental miskin dapat menjadi akar masalah yang memperparah atau bahkan yang menciptakan kondisi kemiskinan. Orang yang hidup dalam kemiskinan cenderung mengembangkan mentalitas yang pasrah dan menerima keadaan apa adanya, mental miskin juga menghambat seseorang untuk keluar dari kemiskinan, meskipun ada peluang yang tersedia. Sehingga, mental miskin dan kemiskinan saling mempengaruhi.

Bagaimana ciri-ciri orang yang memiliki mental miskin?

Terdapat beberapa ciri-ciri mental miskin yang mudah dikenali sebagai berikut:

  1. Mindset Serba Instan

    Di era digital yang serba cepat dan mudah membuat banyak orang melakukan sesuatu dengan pragmatis. Pragmatis merupakan sikap mengedepankan kepraktisan dibandingkan manfaat, dengan kata lain hasil akhir lebih penting dibandingkan pross. Mereka menginginkan uang dan kesuksesan tanpa usaha atau bekerja, sehingga memilih mengambil jalan pintas, seperti bermain judol dan meminjam pinjol tanpa memikirkan apakah dapat melunasinya atau tidak. Sudah banyak kasus dimana seseorang menjadi bangkrut dan memiliki banyak hutang karena hal ini.

  2. Tidak Menghargai Waktu

    Waktu merupakan sumber daya yang sangat berharga, tetapi seringkali dibuang-buang. Seseorang bermental miskin, banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak produktif seperti menunda pekerjaan, bermain game/media sosial tanpa batas, atau bermalas-malasan tanpa tujuan jelas mengakibatkan banyak peluang yang terlewat dan sulit untuk maju.

  3. Mindset Negatif dan Pesimis

    Seseorang dengan mental miskin selalu berpikir negatif dan pesimis. Alasan mengapa sesuatu tidak mungkin berhasil lebih sering dilontarkan daripada mencari solusi. Misalnya, ketika ada peluang usaha bukannya mencoba namun malah berkata "Pasti gagal" atau "Itu hanya untuk orang yang punya modal besar". Pola pikir inilah yang menghalangi untuk maju karena tidak percaya pada kemampuan diri sendiri dan selalu takut mencoba.

  4. Tidak Mau Belajar

    Seringkali orang bermental miskin memiliki rasa ingin tahu yang rendah dan beranggapan bahwa pengetahuan yang dimiliki sudah cukup sehingga menganggap bahwa belajar tidaklah penting. Padahal setelah lulus sekolah pun, perlu untuk belajar sepanjang hayat yang berlangsung selama hidup, baik formal, non-formal, dan iformal. Menolak mempelajari ilmu, teknologi, dan keterampilan baru akan membuat kemampuan stagnan dan tertinggal dari orang lain yang terus berkembang.

  5. Ketergantungan Bantuan

    Kebiasaan ini membuat kemampuan untuk mengatasi masalah sendiri tidak terlatih. Alih-alih berusaha mandiri, lebih banyak berharap pada subsidi, bantuan sosial, atau pinjaman. Mental miskin yang dimiliki seseorang seringkali menyebabkan bantuan pemerintah menjadi salah sasaran, hal ini dikarenakan hak orang yang benar-benar butuh diambil oleh orang yang merasa miskin.

  6. Pola konsumtif yang tidak sehat

    Ciri terakhir mental miskin yaitu gaya hidup yang boros dan konsumtif dengan membeli barang-barang yang tidak diperlukan, meskipun keuangan sebenarnya terbatas. Contohnya, memaksakan membeli ponsel mahal hanya untuk gengsi. Padahal uang yang dimiliki dapat untuk menjalankan usaha, menabung, berinvestasi, ataupun hal lain yang lebih bermanfaat.

Lalu apakah penyebabnya?

Mental miskin tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari berbagai faktor yang saling berkaitan.

  1. Faktor Lingkungan Keluarga

    Keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Orang tua yang selalu memberikan segala sesuatu tanpa mengajarkan usaha, ataupun tidak mencontohkan kerja keras dan disiplin, akan membuat anak tumbuh dengan mental yang lemah, sulit berusaha sendiri, dan cenderung bergantung pada orang lain. Maka dari itu, orang tua memberikan peran yang paling krusial bagi anak agar tidak bermental miskin.

  2. Faktor Lingkungan Sosial

    Terdapat satu contoh yang akhir-akhir ini terjadi, di media sosial banyak influencer yang membuat konten bagi-bagi, kemudian banyak orang yang berkomentar meminta-minta pada orang tersebut. Fenomena ini memperlihatkan orang berlomba-lomba untuk mendapatkan uang atau barang gratis tanpa usaha. Meskipun terlihat sebagai hal yang positif karena membantu orang lain, pola pikir yang terbentuk adalah kebiasaan menunggu diberi alih-alih berusaha sendiri. Sehingga hal ini membawa dampak yang negatif terutama pada anak-anak yang menonton.

  3. Faktor Budaya

    Beberapa budaya atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat seringkali membentuk cara berpikir dan perilaku. Misalnya terdapat budaya pasrah pada keadaan, dimana seseorang menganggap bahwa kemiskinan adalah takdir yang tidak dapat diubah, sehingga mengurangi motivasi untuk berusaha. Salah satu budaya nyata yaitu yang terjadi di India, adanya eksploitasi yang didukung sistem kasta dan suku menyebabkan sejumlah kelompok sosial seperti Dalit menjadi miskin.

  4. Faktor Pendidikan

    Pendidikan yang tidak memadai, baik secara kualitas maupun aksesibilitas, membatasi paparan terhadap ide-ide baru dan cara pandang yang lebih luas. Tanpa pemahaman yang baik tentang pengelolaan uang, kewirausahaan, dan pengembangan diri, dan lainnya, seseorang akan lebih mudah terjebak dalam mindset yang membatasi diri.

Apa dampaknya?

Dampak dari mental miskin sangatlah luas dan dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan pribadi maupun sosial seseorang.

  1. Hambatan dalam Meraih Kesuksesan

    Mental miskin yang tidak diatasi dapat membuat seseorang enggan memulai dan mudah menyerah, sehingga menghambat potensi yang dimilikinya, sulit mendapatkan pekerjaan yang baik, sulit meningkatkan pendapatan, dan sulit keluar dari lingkaran kemiskinan.

  2. Hubungan Sosial yang Buruk

    Sifat negatif, pesimis, rendah diri, dan iri seringkali membuat orang bermental miskin sulit membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Mereka cenderung lebih suka menyendiri atau bahkan menyalahkan orang lain atas masalah mereka, serta bersosial hanya jika meminta pertolongan saja. Dengan semua sifat yang kurang baik tersebut, akan dijauhi oleh orang lain.

  3. Masalah Kesehatan Mental

    Ketika seseorang merasa terjebak dalam keadaan yang tidak berubah, perasaan putus asa dan tidak memiliki harapan masa depan, misalnya terjerat judol, akan berdampak buruk pada kesehatan mental. Kecemasan, stress, dan depresi adalah beberapa masalah kesehatan mental yang akan dialami. Hal ini dikarenakan tekanan yang terus menerus dan kurangnya dukungan dari sosial.

Bagaimana cara mengatasinya?

Mengatasi mental miskin membutuhkan pola pikir dan tindakan konsisten, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan:

  1. Pola Pikir Growth Mindset

    Growth mindset atau pola pikir berkembang menekankan bahwa kemampuan dan potensi seseorang dapat berkembang dan ditingkatkan melalui upaya, latihan, dan pengalaman. Dapat dimulai dari mengganti pikiran "Aku tidak bisa" menjadi "Aku belum bisa". Lihat setiap kegagalan sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai akhir dari segalanya.

  2. Mengelola Waktu

    Manajemen waktu yang baik adalah kunci untuk keluar dari mental miskin. Prioristaskan aktivitas yang membawa perubahan, dan kurangi kegiatan yang tidak produktif. Evaluasi penggunaan waktu secara berkala dan melakukan penyesuaian secara perlahan dan tidak terburu-buru.

  3. Pendidikan dan Pengembangan Diri

    Kedua hal ini merupakan investasi jangka panjang yang paling penting dilakukan. Alokasikan waktu dan biaya untuk meningkatkannya, seperti mengikuti kursus, membeli buku, mengambil sertifikasi, melanjutkan pendidikan, dan hal lain yang relevan dengan karir.

  4. Konsisten

    Hal paling utama dan sulit dalam mengatasi mental miskin yaitu melakukannya dengan konsisten. Menghilangkan mental miskin tidaklah mudah dan memerlukan proses jangka panjang yang membutuhkan komitmen. Mulai dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari dengan konsisten. Selain itu, catat perkembangan untuk memantau kemajuan dan perkembangan.

Mental miskin bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Dengan kesadaran dan tekad yang kuat, setiap individu memiliki kesempatan untuk mengubah pola pikir dan kehidupannya. Perubahan ini memang tidak mudah dan membutuhkan waktu, namun merupakan investasi terbaik untuk masa depan. Ketika semakin banyak orang berhasil melakukan transformasi dari mental miskin menjadi mental kaya, dampak positifnya akan terasa pada diri sendiri maupun level masyarakat yang lebih luas.