Konten dari Pengguna

Mengapa Afrika Rentan Konflik?

Divya Naila Lestari

Divya Naila Lestari

Lulusan Hubungan Internasional Universitas Lampung yang memiliki minat pada bidang jurnalistik dan komunikasi. Berfokus pada penulisan artikel seputar budaya, sejarah, dan isu sosial dengan pendekatan informatif dan berbasis literasi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Divya Naila Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Unsplash

Afrika adalah salah satu benua yang ada di dunia yang berbatasan langsung dengan benua Eropa dan benua Asia. Benua ini memiliki 54 negara di dalamnya yang terbagi dalam 5 kawasan yang meliputi Afrika Barat, Afrika Timur, Afrika Utara, Afrika Tengah, dan Afrika Selatan. Benua Afrika juga dikenal sebagai benua yang memiliki daratan terluas di dunia dan memiliki kebudayaan yang masih kental di kehidupan penduduk Afrika. Musim di benua ini terbagi menjadi beberapa musim. Namun, sebagian besar daratan Afrika yang luas ini dikenal memiliki iklim tandus dan kering kerontang terlebih pada kawasan Utara dengan intensitas suhu panas yang tinggi mencapai 45° celcius, dikarenakan pada benua Afrika memiliki banyak gurun. Salah satu gurun pasir yang paling terkenal adalah gurun Sahara.

Afrika adalah satu-satunya benua yang belum memiliki negara maju, bahkan dapat dikategorikan sebagai benua yang masih dalam tahap berkembang. Walaupun demikian, Afrika juga memiliki banyak potensi alam yang sangat kaya khususnya pada bidang pertambangan yang menjadi paling unggul di dunia dari hasil bumi Afrika. Pertambangan ini meliputi petroleum dan energi gas alam dari 16 negara di Afrika. Selain itu, kekayaan pertambangan lain yang dihasilkan dari bumi Afrika adalah mineral bumi hampir setiap negara seperti logam, nikel, titanium, dan lain sebagainya. Tak mengherankan bila banyak negara lain yang bekerja sama dengan Afrika.

Karena kekayaan yang dimiliki oleh alamnya, Afrika pernah dikeruk oleh penjajah dari bangsa Eropa dan terlebih sebagian negara di Afrika dikuasai oleh kekuatan negara Prancis mulai dari tahun 1830-an, sehingga terhitung sudah lebih dari satu abad. Selain itu, hal lainnya adalah benua ini dikenal sebagai “Benua Hitam” dikarenakan bangsa Afrika memiliki warna otentik kulit hitam dibandingkan dengan warna-warna kulit di benua lainnya yang cenderung putih. Sehingga inilah yang menyebabkan Afrika mengalami “Apartheid” khususnya pada negara Afrika Selatan.

Apartheid adalah ketidakadilan yang membedakan antara rumpun kulit putih (Eropa) dan kulit hitam (Afrika). Apartheid pertama kali terjadi pada era tahun 1948 yang sebabnya adalah keinginan Nasionale Party (Partai Nasional) untuk mendominasi dan menata strateginya di Afrika Selatan. Apartheid dihilangkan pada tahun 1990-an, presiden Nelson Mandela juga memiliki peran sangat penting demi sebuah keadilan yang penyetaraan di Afrika Selatan.

Dalam perjalanan sejarah, begitu banyak sejarah yang telah ditorehkan Afrika selain dari Apartheid tersebut. Khususnya sejarah konflik perang yang terjadi di benua ini yang telah ada pada masa imperialisme dan kolonialisme. Sistem kekuasaan yang dibawa oleh bangsa penjajah Eropa menuai macam-macam aksi. Demi mempertahankan wilayahnya bangsa-bangsa kolonial terlibat perselisihan sehingga Afrika terbagi atas beberapa wilayah otoritas bangsa Eropa Barat. Namun, dominasi paling besar datang dari Prancis dan Inggris. Masing-masing bangsa imperialisme & kolonialisme juga menyebarluaskan kebijakan yang dibuat oleh negaranya untuk dipakai oleh daerah jajahannya, hal ini menimbulkan berbagai respon dan tindakan penolakan dari rakyat Afrika walaupun tidak separah penolakan dari wilayah lainnya yang ikut terkena dampak perampasan bangsa Barat.

Sumber: Unsplash

Meski semua tindakan imperialisme dan kolonialisme telah usai dan meninggalkan banyak jejak bersejarah serta warisan untuk Afrika sejak lama, nyatanya benua Afrika kerap rawan terjadinya konflik. Tak henti-hentinya pemberitaan tentang konflik, kerusuhan, peperangan di Afrika sepanjang tahun, dari adanya konflik tersebut menimbulkan banyak sekali masalah yang melanda Afrika. Masalah tersebut mencakup di semua bidang mulai ekonomi, pendidikan, hingga sosial. Sebagai benua yang rawan akan terjadinya konflik yang disebabkan karena minimnya tingkat serta kualitas pembangunan manusia yang diperoleh oleh rakyat Afrika, akhirnya berdampak pada pendidikan yang tak terkendali.

Sumber: Unsplash

Keterbatasan Afrika dalam mengelola sumber daya alamnya menyebabkan banyak pejabat-pejabat Afrika yang melakukan korupsi besar-besaran untuk memperkaya diri sehingga dampak yang ditimbulkan adalah kurangnya perhatian pada sumber daya manusia di Afrika yang kemudian menyebabkan rentan akan konflik sehingga berdampak besar akan krisis kemanusiaan di Afrika. Budaya korupsi ini sudah ada sejak masa imperialisme bangsa Eropa yang salah satunya pernah diterapkan oleh Inggris di negara Nigeria pada sistem indirect rule kemudian menyebabkan warga Nigeria mengikuti kendali pemimpin. Akibatnya budaya korupsi mengakar hingga kini.

Beberapa negara yang memiliki tingkat kerawanan konflik paling tinggi adalah Ethiopia, Nigeria, Somalia, Afrika Tengah, Sudan dan Republik Sudan Selatan, serta Republik Demokratik Kongo. Konflik di negara-negara Afrika terus menjadi perhatian dunia, sebagai antisipasinya PBB mengutus ratusan ribu angkatan bersenjata yang terbagi menjadi banyak negara, salah satu negara pengirim angkatan yang ikut berpartisipasi adalah Indonesia melalui Misi Perdamaian MONUSCO (United Nations Organization Intergrated Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo) dan MINUSCA (United Nations Multidimensional Intergrated Stabilization Mission in the Central African Republic).