Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Harus Setara dan Pentingnya Edukasi Untuk Perempuan

Diyah Halimah

Diyah Halimah

mahasiswa psikologi yang menggeluti dunia jurnalistik

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diyah Halimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak mudahnya dalam melakukan perjuangan untuk menjadi setara, bukan hanya disebabkan oleh laki-laki. Beberapa perempuan juga menolak konsep kesetaraan yang ditawarkan oleh aktivis gender. Banyak alasan yang mereka kemukakan, salah satunya adalah ketakutan akan hilangnya “privilege” yang sebenarnya telah mereka salah artikan.

Pemikiran patriarkis yang masih bersemayam membuat mereka beranggapan bahwa perempuan harus mengerjakan hal-hal yang bersifat lembut saja, seperti melipat baju dan menyetrikanya. Untuk urusan kelistrikan atau hal-hal yang mengundang risiko tinggi biarlah menjadi urusan laki-laki. Tidak hanya soal itu, konsep kesetaraan yang dimaknai terlalui sempit membuat banyak orang menutup mata padanya (kesetaraan). Padahal secara definisi sangat jelas sekali bahwa kesetaraan tidak hanya ditujukan pada perempuan. Lebih dari itu kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak serta kewajiban.

Walhasil, anggapan-anggapan tentang kesetaraan gender yang demikian negatif berpengaruh terhadap tingkat partisipasi perempuan di ruang publik.

Dalam salah satu riset yang dilakukan oleh Ekonom Universitas Trisakti Profesor Tulus Tahi Hamonangan Tambunan, sekitar 60 persen responden pengusaha perempuan berwirausaha karena terpaksa. Tidak adanya dukungan dari suami dan keluarga serta faktor norma agama, tradisi, kultural, dan hukum menjadi salah satu faktor penyebab dengan poin yang tinggi, dibanding dengan faktor yang lain.

Padahal kesetaraan gender bisa meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan Indonesia sebesar US$ 135 miliar pada 2025. Apabila Indonesia gagal mengatasi kesetaraan gender, maka negara ini akan kehilangan potensi tersebut (McKinsey, 2018).

Di tingkat Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi ke-10 dalam Indeks Kesenjangan Gender. Sedangkan dalam tataran global, Indonesia berada di peringkat ke-84. Dalam hal kesetaraan gender Indonesia masih tertinggal dibanding negara berkembang lain seperti Filipina, Laos, Vietnam, dan Thailand.

Ada empat faktor yang mempengaruhi yaitu faktor pendidikan, kesehatan, politik, dan ekonomi. Faktor ekonomi menyumbang kesenjangan gender terbesar dengan poin 0,610 dari 1,00 untuk skor kesetaraan sempurna. Jebloknya angka tersebut disebabkan oleh kecilnya partisipasi perempuan di bursa kerja posisi senior, legislator, dan manajerial. Indeks yang diluncurkan World Economics Forum itu, menunjukkan hanya 22 persen dari posisi tersebut diduduki oleh perempuan.

Perempuan Juga Butuh Edukasi

Kesetaraan menjadi penting karena dengannya baik laki-laki maupun perempuan dapat menjalankan dirinya sebagai manusia yang utuh. Tidak saling menyalahkan dan merasa inferior maupun superior satu sama lain. Karena pada hakikatnya laki-laki atau perempuan tercipta dari esensi sama, diturunkan ke muka bumi untuk misi yang sama, sebagai khalifah untuk memastikan kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan bagi manusia dan alam semesta. Dari persoalan rumah tangga sampai persoalan-persoalan kemanusiaan yang lebih luas.

Adanya perempuan yang tidak setuju dengan konsep kesetaraan gender tidak bisa dilepaskan dari pengalaman kewanitaan yang berbeda-beda pada setiap diri perempuan. Dalam hal kesehatan reproduksi misalnya, perempuan sangat rentan mengalami Polycystic Ovary (PCO) dan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS). Perempuan yang menderita PCO atau PCOS akan mengalami gangguan menstruasi dan kesulitan dalam kehamilan. Sayangnya, tidak semua perempuan tahu dan mengerti akan hal ini. Mereka yang tidak mengalami masalah berarti dari sisi biologis dan sosial, cenderung mengabaikan problematika kewanitaan dan jatuh pada perilaku seksis.

Perilaku seksis atau seksisme yang dalam kamus Merriam-Webster yang diterjemahkan secara bebas sebagai “prasangka atau diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, khususnya diskriminasi terhadap perempuan”. Ia juga memahami seksisme sebagai “perilaku, kondisi, atau sikap yang membantu tumbuhnya praktek stereotip peran-peran sosial berdasarkan jenis kelamin.

Untuk itulah perlu digalakkan forum edukasi dan sharing untuk memberikan pengertian akan pentingnya kesetaraan.

Anggapan bahwa perempuan hanya boleh mengerjakan hal-hal yang bersifat lembut sebagai suatu privilege juga harus segera dihentikan dari pikiran perempuan itu sendiri. Dalam kehidupan sekarang yang sedemikian kompleks, baik laki-laki maupun perempuan dituntut bergerak dinamis dan multitasking. Meskipun pada dasarnya manusia hidup dalam bingkai sifat saling tolong menolong, namun bukankah menjadi berdikari lebih baik?

Kekhawatiran laki-laki pada perempuan yang mendukung kesetaran adalah kekhawatiran yang tidak berdasar, karena kesetaraan tidak membuat seorang perempuan melupakan kodratnya sebagai seorang ibu kelak. Kesetaraan gender hanya meminta bahwa semua manusia baik laki-laki atau perempuan harus memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil dalam hidup. Yang berarti semua manusia harus memiliki akses dan kontrol terhadap sumber daya dan manfaat yang setara, dengan kata lain secara adil, sehingga semua orang dapat mengambil manfaat dan berpartisipasi dalam pembangunan.

perempuan dan laki-laki bekerja