Konten dari Pengguna

Film Danur: The Last Chapter, Saat Risa Harus Merelakan Riri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diyah Kusuma Adha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah bertahun-tahun mengikuti perjalanan Risa dan Peter Cs, film Danur: The Last Chapter seharusnya menjadi sebuah perpisahan yang meninggalkan kesan. Namun, bagi saya, film ini justru terasa seperti pertemuan kembali dengan sesuatu yang sudah akrab, tetapi datang dengan beberapa perubahan yang membuat rasanya sedikit berbeda.

Film garapan Awi Suryadi ini kembali menghadirkan Prilly Latuconsina sebagai Risa Saraswati. Kali ini, Risa sudah tumbuh dewasa dan berusaha menjalani hidup tanpa berhubungan dengan dunia gaib. Situasi berubah ketika sang adik, Riri (Zee Asadel) akan menikah dan mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa yang mengharuskan Risa kembali berhadapan dengan dunia yang selama ini berusaha ia tinggalkan.

Adegan dalam Film Danur: The Last Chapter. (Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Adegan dalam Film Danur: The Last Chapter. (Dok. Pribadi)

Bagi saya, pertumbuhan Riri menjadi salah satu bagian yang menarik. Ia tidak lagi hadir sebagai sosok anak kecil seperti dalam series sebelumnya, melainkan sebagai perempuan dewasa yang sedang memasuki fase kehidupan baru. Sayangnya, perkembangan tersebut belum sepenuhnya terasa luwes. Beberapa adegan membuat karakter Riri terasa sedikit kaku, sehingga emosi yang seharusnya kuat terkadang tidak sampai dengan maksimal.

Hal yang justru lebih terasa bagi saya adalah hubungan antara Riri dan Risa. Konflik keduanya bukan sekadar persoalan kakak-adik, melainkan tentang seseorang yang berusaha melindungi orang yang dicintainya. Namun, perlindungan tersebut justru dianggap sebagai gangguan.

Risa sebenarnya berusaha menyelamatkan Riri dari sesuatu yang berada di luar kendali sang adik. Dari sudut pandang Riri, apa yang dilakukan kakaknya justru membuat keadaan semakin rumit. Di titik ini, saya merasa kasihan kepada keduanya. Risa tidak sepenuhnya salah karena ia tahu ada sesuatu yang tidak bisa dilihat Riri, sementara Riri juga tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Konflik semacam ini memiliki potensi emosional yang besar. Sayangnya, bagi saya, konflik yang dibangun dalam film Danur: The Last Chapter ini belum terasa cukup kuat untuk meninggalkan kesan yang mendalam. Beberapa bagian berjalan cukup lambat dan membuat ketegangan yang sudah dibangun terasa sedikit turun.

Meski begitu, sisi horornya tetap memiliki identitas Danur. Saya justru menikmati sinematografinya yang banyak menggunakan suasana gelap dengan tone yang cenderung hangat. Musik juga menjadi salah satu elemen yang saya sukai. Kehadiran lagu “Boneka Abdi” terasa seperti identitas yang sulit dipisahkan dari dunia Danur. Lagu tersebut bukan hanya menjadi pengiring, tetapi juga mengingatkan penonton pada hubungan Risa dengan Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen. Rasa familiar itulah yang membuat film ini tetap terasa seperti Danur, meskipun banyak hal di dalamnya telah berubah.

Namun, perubahan pemeran anak-anak menjadi tantangan tersendiri bagi penonton lama. Peter Cs dalam film sebelumnya telanjur melekat dengan wajah dan karakter mereka masing-masing. Dalam film ini, karakter tersebut tetap dipertahankan sebagai anak-anak, tetapi dimainkan oleh pemeran yang berbeda. Secara cerita, pergantian tersebut dapat dipahami karena pemeran sebelumnya sudah beranjak dewasa. Akan tetapi, secara emosional, saya tetap lebih terikat dengan Peter Cs versi lama.

Di sisi lain, Prilly Latuconsina masih menjadi salah satu kekuatan film ini. Sebagai Risa yang sudah dewasa, Prilly mampu membawa rasa lelah, takut, sekaligus keinginan untuk melindungi adiknya. Ia membuat perjalanan Risa terasa seperti sebuah fase kehidupan yang benar-benar sudah berubah, bukan sekadar pengulangan dari film sebelumnya.

Menariknya, kedewasaan Riri juga membawa Danur: The Last Chapter pada persoalan budaya yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah tradisi langkahan ketika Riri menikah lebih dulu daripada Risa. Bagi saya, adegan tersebut bukan hanya menjadi bagian dari rangkaian pernikahan, tetapi juga memberikan sentuhan budaya Sunda-Jawa pada cerita. Tradisi ini membuat persoalan Risa yang harus merelakan adiknya menikah lebih dulu terasa lebih personal.

Adegan tersebut juga membuat saya kembali melihat hubungan Risa dan Riri dari sisi yang berbeda. Ada rasa sedih ketika seorang adik melangkahi kakaknya, tetapi di saat yang sama ada kelegaan karena Risa tetap berusaha mengikhlaskan kebahagiaan adiknya. Apalagi, perjalanan Risa sendiri tidak mudah dalam urusan hubungan dan kehidupan pribadinya. Karena itu, momen langkahan terasa seperti simbol bahwa Riri benar-benar sedang memasuki kehidupan baru, sementara Risa harus belajar melepaskan.

Pada akhirnya, Danur: The Last Chapter tetap menjadi tontonan yang menyenangkan bagi saya, terutama karena film ini membawa kembali dunia Risa dan Peter Cs yang sudah dikenal sejak lama.

Official Poster 2 Danur: The Last Chapter. (Dok. MD Pictures)

Pergantian beberapa pemeran juga membuat kedekatan emosional saya dengan karakter lama sedikit berkurang. Dengan nilai 8.2/10, Danur: The Last Chapter tetap layak ditonton, terutama bagi penonton yang sudah mengikuti seri Danur sejak awal. Film ini mungkin tidak memberikan pengalaman yang sama seperti Danur yang dulu, tetapi masih menawarkan horor, hubungan kakak-adik, serta sentuhan budaya yang membuatnya punya identitas sendiri.

Bagi saya, Danur: The Last Chapter bukan sekadar cerita tentang hantu. Ini juga tentang Risa yang akhirnya harus menerima bahwa Riri telah tumbuh dewasa, dan bahwa melindungi seseorang terkadang berarti belajar melepaskannya.