Resensi Film Na Willa: Di Antara Hangatnya Rumah dan Dunia yang Ingin Dikenal

Mahasiswi Universitas Sebelas Maret yang tertarik pada dunia menulis dan media. Senang menulis tentang berbagai hal, mulai dari film, buku, hingga cerita di sekitar.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Diyah Kusuma Adha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Resensi film Na Willa
Sutradara: Ryan Adriandhy
Produser: Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari
Pemeran: Luisa Adreena (sebagai Na Willa), Irma Novita Rihi (Mak), Junior Liem (Pak), Freya Mikhayla (Farida), Mbok Tun (Mbok)
Rumah Produksi: Visinema Pictures
Tanggal Rilis: 18 Maret 2026
Genre: Drama Keluarga
Rumah semestinya menjadi tempat pertama bagi seorang anak untuk mengenal rasa aman. Namun, ketika rasa ingin tahu membawanya keluar, dunia tidak selalu menyambut dengan kehangatan yang sama. Persoalan inilah yang menjadi salah satu daya tarik Na Willa, film garapan Ryan Adriandhy yang diadaptasi dari novel populer Na Willa: Serial Catatan Kemarin karya Reda Gaudiamo. Berlatar di Surabaya pada era 1960-an, film ini menghadirkan pengalaman masa kanak-kanak melalui sosok Willa, seorang anak yang penuh rasa ingin tahu dan dekat dengan keluarganya, tetapi perlahan berhadapan dengan dunia yang lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Kekuatan film Na Willa tidak semata-mata terletak pada kisah masa kecil yang hangat, melainkan pada bagaimana film tersebut mampu memperlihatkan hubungan antara kasih sayang, perlindungan, dan kebebasan seorang anak. Willa tumbuh dalam keluarga yang penuh perhatian, tetapi kehangatan tersebut tak lantas membuat kehidupannya bebas dari persoalan. Justru melalui hubungan Willa dengan tokoh Mak, film ini memperlihatkan bagaimana seorang ibu yang berusaha melindungi anaknya terkadang dapat menghadirkan persoalan baru ketika rasa takut orang dewasa mulai mengambil alih.
Mak bukanlah sosok ibu yang digambarkan sebagai penghalang keinginan anak. Kekhawatirannya terhadap Willa berangkat dari kasih sayangnya, terutama setelah kecelakaan yang menimpa Bud,
teman Willa. Pengalaman tersebut membuat perlindungan Mak berubah menjadi pembatasan. Bagi Mak, peristiwa tersebut menjadi pengalaman traumatis baginya dan juga Willa. Sejak saat itu, perlindungan Mak terhadap Willa menjadi semakin kuat. Ia membatasi aktivitas Willa, termasuk ketika Willa ingin bermain dan bersekolah bersama teman-temannya.
Film ini semakin menarik ketika beberapa adegan memperlihatkan bahwa hubungan antara orang tua dan anak dibangun bukan hanya melalui kehadiran, melainkan juga melalui kepercayaan. Kebohongan Mak mengenai kepulangan Pak menjadi salah satu momen yang memperlihatkan kerumitan tersebut. Mak mungkin bermaksud melindungi Willa dari kenyataan yang menyakitkan. Namun, bagi Willa kebohongan itu justru mengguncang kepercayaannya. Film tidak menjadikan persoalan ini sebagai konflik hitam-putih. Mak tetap hadir sebagai sosok ibu yang menyayangi anaknya, sementara Willa diperlihatkan sebagai anak yang mampu merasakan kekecewaan dan mempertanyakan tindakan orang dewasa.
Di samping persoalan cerita, film Na Willa memiliki kekuatan pada cara membangun dunia visualnya. Warna-warna hangat, properti, busana, dan lingkungan yang mendukung suasana era 1960-an membantu menghadirkan pengalaman masa lalu tanpa menjadikannya sekadar dekorasi. Latar tersebut terasa berkaitan dengan cara Willa memandang lingkungan di sekitarnya. Elemen artistik berupa gambaran bunga yang muncul dalam perjalanan menuju sekolah misalnya, mampu memberikan sentuhan imajinatif yang memperkaya pengalaman visual film.
Penggunaan elemen tersebut menjadi menarik karena dunia dalam Na Willa tidak hanya ditampilkan sebagaimana adanya, tetapi juga melalui kemungkinan cara pandang seorang anak. Lingkungan sehari-hari dapat menjadi sesuatu yang memunculkan rasa takjub. Pendekatan ini memperkuat nuansa nostalgia film, meskipun nostalgia yang dihadirkan tidak sepenuhnya berisi kenangan manis. Di balik rumah yang hangat dan pengalaman bermain, terdapat pula perundungan, rasa takut, serta kenyataan sosial yang tidak selalu menyenangkan.
Pada akhirnya, Na Willa menawarkan gambaran masa kanak-kanak yang tidak berhenti pada kelucuan dan kehangatan keluarga. Film ini memperlihatkan bagaimana seorang anak mengenal dunia melalui rasa ingin tahu, menghadapi perlakuan yang tidak adil, dan belajar memahami hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Di sisi lain, orang dewasa juga dituntut untuk belajar bahwa melindungi anak bukan berarti menutup seluruh kemungkinan pengalaman yang mungkin dihadapinya.
Meski ritme cerita dan beberapa dialog masih terasa kurang kuat, Na Willa memiliki daya tarik tersendiri melalui visual yang hangat, karakter Willa yang hidup, serta persoalan keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film ini tidak hanya menghadirkan nostalgia masa kecil, tetapi juga memperlihatkan bahwa dunia yang ingin dikenal seorang anak tidak selalu bebas dari ketidakadilan.
Melalui visual yang hangat, karakter Willa yang kuat, dan persoalan hubungan keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Na Willa mengajak penonton memandang masa kecil tak hanya dapat menjadi ruang penuh keajaiban, tetapi juga ruang tempat seorang anak mulai berhadapan dengan perbedaan dan ketidakadilan. Karena itu, rumah yang aman bukanlah rumah yang selamanya menjauhkan anak dari dunia, melainkan tempat yang membekalinya untuk mengenal dunia tanpa kehilangan kesempatan untuk pulang.
Bagi saya, Na Willa layak ditonton terutama bagi penonton yang menyukai film dengan cerita sederhana, visual yang imajinatif, dan kehangatan yang tidak sepenuhnya bebas dari persoalan. Film ini mengingatkan bahwa masa kecil bukan hanya tentang kelucuan dan kebahagiaan, melainkan juga tentang bagaimana seseorang mulai mengenal dunia—dan menemukan keberanian untuk menghadapinya.
