Siap ke Layar Lebar? Menilik Kisah Ale dalam Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Tulisan dari Diyah Kusuma Adha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Judul Novel: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2025
Jumlah Halaman: 216 halaman
ISBN: 976-602-05-3132-8

Sinopsis
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna menceritakan perjalanan Ale, seorang pria berusia 37 tahun yang telah didiagnosis mengalami depresi akut oleh psikiaternya sejak tiga bulan lalu. Kehidupannya dipenuhi kesepian, pengalaman perundungan, hubungan keluarga yang buruk, serta perasaan iri terhadap teman-teman seusianya yang dianggap lebih berhasil menjalani hidup. Kondisi fisiknya yang kerap menjadi bahan penilaian orang lain turut memperburuk cara Ale memandang dirinya sendiri.
Setelah merencanakan kematiannya dengan matang, Ale hanya ingin menikmati seporsi mie ayam sebelum mengakhiri hidupnya. Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Kematian penjual mie ayam langganannya justru membawa Ale pada serangkaian kejadian tak terduga, mulai dari membantu mengangkat keranda dari jenazah bapak penjual mie ayam hingga pertemuannya dengan Murad yang kemudian membuatnya terlibat dalam kehidupan baru. Dalam perjalanannya, Ale juga bertemu dengan Mami Louisse, Bu Murni, Pak Jipren, dan sejumlah tokoh lain yang memberikan pengalaman serta sudut pandang berbeda tentang kehidupan.
Kelebihan
Salah satu kekuatan novel ini terletak pada penggambaran Ale sebagai manusia yang kompleks. Kesedihannya tidak muncul begitu saja, tetapi terbentuk dari pengalaman panjang yang membuatnya merasa tidak berharga dan kehilangan arah. Perjalanan Ale juga terasa menarik karena perubahan dalam dirinya tidak hadir melalui sebuah peristiwa besar, melainkan lewat pertemuan dengan orang-orang yang memiliki cerita hidup masing-masing.
Karakter pendukung seperti Murad, Mami Louisse, dan Bu Murni memberikan warna tersendiri. Murad, misalnya, menjadi sosok penting yang mempertemukan Ale dengan berbagai pengalaman baru. Sementara itu, pertemuannya dengan Bu Murni menghadirkan momen yang menyentuh karena mengingatkan Ale pada sosok ibunya.
Novel ini juga menyampaikan pesan kehidupan melalui beragam pengalaman dan kisah para penyintas depresi. Salah satu kutipan yang paling berkesan adalah,
“Hidup itu paradoks. Untuk bisa sembuh, kamu harus merasakan sakit dulu. Untuk bisa mengenal kedamaian, kamu harus berperang dulu. Untuk bisa mengenal apa itu bahagia, kamu harus pernah sedih dulu. Untuk bisa bangkit melawan, kamu harus jatuh kalah dulu.” (hlm. 154)
Kutipan tersebut merangkum salah satu gagasan yang terasa kuat sepanjang perjalanan Ale—bahwa rasa sakit dan kesulitan merupakan bagian dari pengalaman hidup, meskipun setiap orang memiliki cara berbeda untuk menghadapinya.
Kekurangan
Salah satu hal yang mungkin terasa menantang bagi sebagian pembaca adalah banyaknya tokoh dan cerita yang terlibat dalam perjalanan Ale. Pergantian pertemuan serta pengalaman tersebut menuntut pembaca untuk mengikuti hubungan antartokoh dan memahami peran masing-masing dalam perkembangan cerita.
Meski begitu, banyaknya tokoh juga menjadi bagian dari cara novel ini memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki persoalan dan perjuangannya sendiri. Secara pribadi, saya tidak menemukan kekurangan yang cukup mengganggu hingga mengurangi kesan terhadap keseluruhan cerita.
Penilaian Akhir
Kini, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati juga telah mencapai cetakan ke-100 dengan penjualan lebih dari 250 ribu eksemplar sejak terbit pada Februari 2025. Novel ini kemudian diadaptasi menjadi film yang disutradarai Kuntz Agus, diproduksi oleh Sinergi Pictures dan Ben Film, dengan Benidictus Siregar sebagai pemeran Ale. Film tersebut dijadwalkan tayang pada November 2026, berdasarkan informasi dari pihak produksi.
Peralihan cerita dari novel ke film menjadi menarik untuk diperhatikan. Menurut saya, tantangan terbesarnya bukan sekadar menghadirkan Ale dan perjalanan yang ia alami ke layar lebar, tetapi juga mempertahankan perkembangan emosional yang membuat pembaca terikat dengan tokoh tersebut. Pertemuan-pertemuan Ale mungkin dapat ditampilkan melalui adegan, tetapi kedalaman perubahan cara pandangnya perlu dibangun agar tidak terasa seperti rangkaian kejadian yang sekadar lewat.
Pada akhirnya, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bukan hanya cerita tentang seseorang yang ingin mati. Novel ini mengajak pembaca melihat bagaimana kehidupan orang lain dapat membuka perspektif baru, bahkan ketika seseorang merasa dirinya sudah tidak memiliki harapan. Bagi saya, kisah Ale terasa dekat, menyedihkan, dan meninggalkan kesan yang bertahan setelah halaman terakhir selesai dibaca.
Bukan karena ceritanya menawarkan jawaban atas semua persoalan hidup, melainkan karena perjalanan Ale berhasil membuat saya ikut merasakan kesedihan, keterkejutan, dan kelegaan yang hadir di sepanjang cerita. Sebelum kisahnya dibawa ke layar lebar, pertanyaan yang lebih penting mungkin bukan sekadar apakah cerita ini akan berhasil menjadi film, melainkan apakah filmnya kelak mampu mempertahankan hal yang membuat novelnya berkesan: perjalanan seorang manusia yang perlahan belajar melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Rating 9/10.

