Konten dari Pengguna

Asap Beracun di Balik Gurihnya Tahu: Bahaya Limbah Plastik sebagai Bahan Bakar

Diyah Safitri

Diyah Safitri

Saya mahasiswi aktif di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diyah Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Produksi tahu skala rumahan masih menjadi mata pencaharian penting bagi banyak masyarakat Indonesia. Namun, di balik cita rasa gurih tahu yang dikonsumsi sehari-hari, terdapat praktik berbahaya yang mengancam kesehatan dan lingkungan: penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar tungku produksi. Di beberapa wilayah seperti Desa Tropodo, Sidoarjo, praktik ini dilakukan untuk menghemat biaya energi. Plastik yang dibakar secara terbuka, terutama tanpa sistem pembakaran tertutup, menghasilkan senyawa toksik seperti dioksin, furan, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), serta logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan kromium (Cr).

limbah plastik yang menumpuk (sumber: dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
limbah plastik yang menumpuk (sumber: dokumentasi pribadi)

Plastik jenis PVC (polivinil klorida), misalnya, mengandung unsur klorin yang saat dibakar pada suhu 200–600 °C dapat menghasilkan senyawa dioksin dan furan. Kedua senyawa ini bersifat sangat toksik, persisten di lingkungan, dan mudah terakumulasi dalam jaringan lemak manusia dan hewan. Selain itu, pembakaran plastik juga menghasilkan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), partikel halus seperti PM2.5, serta logam berat seperti timbal, kadmium, dan kromium. Senyawa-senyawa ini terbukti meningkatkan risiko gangguan pernapasan, kanker, serta kerusakan saraf dan organ vital.

Temuan dari IPEN dan Nexus3 Foundation (2019) menunjukkan bahwa telur ayam kampung di sekitar pabrik tahu di Tropodo mengandung dioksin sebesar 200 ng TEQ G-1 lemak, atau 93 kali lebih tinggi dari batas aman WHO sebesar 2,5 ng TEQ G-1 lemak. Fakta ini menguatkan bahwa senyawa beracun dari pembakaran plastik tidak hanya mencemari udara, tetapi juga masuk ke rantai makanan. Abu sisa pembakaran (bottom ash) yang mengandung logam berat berpotensi mencemari tanah dan air sumur, menambah panjang daftar ancaman terhadap kesehatan masyarakat sekitar.

Dampak dari praktik ini bukan hanya soal teknis atau ekonomi, tetapi menyangkut masalah serius dalam kimia lingkungan. Jejak senyawa toksik hasil pembakaran plastik dapat bertahan lama di lingkungan dan tubuh makhluk hidup. Oleh karena itu, sangat penting untuk menghentikan penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar produksi pangan. Pemerintah perlu menerapkan regulasi yang ketat, menyediakan sumber energi alternatif yang aman, serta meningkatkan edukasi kepada pelaku industri rumahan agar tidak lagi menggunakan bahan bakar berbahaya ini.