Dari Sampah Jadi Subur: Kulit Buah sebagai Pupuk Cair Ramah Lingkungan

Saya mahasiswi aktif di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Diyah Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap hari, limbah dapur menumpuk dan sebagian besarnya berasal dari kulit buah yang tidak dimanfaatkan. Padahal, limbah organik seperti kulit nanas, kulit jeruk, dan kulit buah naga ternyata menyimpan potensi besar sebagai bahan baku pupuk organik cair (POC). Penelitian menunjukkan bahwa fermentasi kulit buah dapat menghasilkan POC yang kaya unsur hara dan bermanfaat bagi tanaman.
Dua jenis campuran digunakan kulit nanas dengan buah naga dan kulit nanas dengan kulit jeruk. Setelah proses fermentasi selama enam minggu, hasil menunjukkan bahwa campuran kulit nanas dan buah naga menghasilkan volume cairan lebih besar, mencapai 8.960 ml, dibandingkan campuran dengan kulit jeruk yang hanya 6.551 ml. Perbedaan ini berkaitan erat dengan tingginya kadar air pada buah naga yang mencapai 90%, sehingga mempercepat dekomposisi bahan organik.

Tidak hanya volume, kandungan unsur hara juga dianalisis. Campuran kulit nanas dan buah naga memiliki kandungan nitrogen (N) yang tinggi, bahkan melebihi standar mutu pupuk organik cair nasional. Nitrogen adalah unsur penting bagi pertumbuhan tanaman karena berperan dalam pembentukan daun, batang, dan klorofil.
Di sisi lain, kandungan fosfor (P) dan kalium (K) dalam kedua jenis pupuk masih di bawah standar, meskipun fosfor dalam campuran nanas dan jeruk menunjukkan peningkatan signifikan, hingga 8–10 kali dibanding nilai standar. pH larutan masih tergolong asam (sekitar 3,6–3,7), tetapi hal ini dapat disesuaikan dengan penambahan kapur saat aplikasi.
Kelebihan pupuk organik cair terletak pada bentuknya yang mudah diserap oleh tanaman, baik melalui akar maupun daun. Penggunaan melalui penyemprotan pada daun bahkan terbukti lebih efisien dalam beberapa studi. Selain itu, POC juga lebih cepat memberikan efek terhadap tanaman karena kandungan nutrisinya sudah dalam bentuk terurai. Ini menjadikannya solusi praktis dan cepat, terutama untuk pertanian skala kecil atau urban farming.
Penelitian lainnya mendukung temuan ini yang menunjukkan bahwa POC dari kulit nanas dapat meningkatkan tinggi tanaman kacang panjang secara signifikan. Sementara itu, pupuk cair dari kulit pisang efektif mendukung pertumbuhan tanaman kailan dalam sistem hidroponik. Fakta ini memperkuat bahwa berbagai jenis kulit buah memiliki manfaat agronomis nyata.
Selain aspek pertanian, pemanfaatan kulit buah sebagai pupuk juga berdampak positif terhadap lingkungan. Limbah organik yang biasa menimbulkan bau dan mencemari lingkungan kini dapat diolah menjadi produk bermanfaat.
Proses fermentasi cukup sederhana dan bisa dilakukan di rumah, dengan bahan tambahan seperti gula pasir dan EM4 sebagai aktivator mikroorganisme. Dalam waktu dua minggu saja, POC sudah bisa dipanen dan digunakan. Melalui pendekatan ini, pemanfaatan limbah dapur menjadi langkah nyata untuk mengurangi volume sampah, mendukung pertanian organik, dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Referensi:
Marjenah, dkk. (2017). Pemanfaatan limbah kulit buah sebagai bahan baku pupuk organik cair: Studi fermentasi kulit nanas, jeruk, dan buah naga. Universitas Mulawarman.
Sofyan, dkk. (2021). Pengaruh pupuk organik cair dari kulit nanas terhadap pertumbuhan tanaman kacang panjang. Jurnal Pertanian Berkelanjutan.
Bioma. (2023). Pemanfaatan pupuk organik cair dari kulit pisang dalam sistem hidroponik. Jurnal Bioma.
