People Pleaser: Mengapa Kita Takut Mengecewakan Orang Lain?

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Diza Cantika Kirana Chandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah budaya sosial yang menjunjung keramahan dan keharmonisan, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menyenangkan orang lain adalah sebuah keharusan. Dari sinilah muncul fenomena people pleaser, istilah psikologis yang merujuk pada kecenderungan seseorang untuk terus-menerus mengutamakan kebutuhan dan perasaan orang lain, bahkan dengan mengorbankan diri sendiri.
Sekilas, sikap ini tampak positif. Namun di baliknya, tersimpan tekanan psikologis yang sering kali tidak disadari.
Apa Itu People Pleaser?
Dalam psikologi, people pleasing bukan sekadar sikap baik atau empati, melainkan pola perilaku yang didorong oleh ketakutan akan penolakan, konflik, atau kekecewaan orang lain. Seorang people pleaser cenderung sulit mengatakan “tidak”, merasa bersalah ketika menolak permintaan, dan mengaitkan harga diri dengan penerimaan sosial.
Menurut American Psychological Association (APA), kebutuhan berlebihan akan persetujuan sosial dapat berkaitan dengan kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, dan pola hubungan yang tidak seimbang.
Akar Ketakutan Mengecewakan
Ketakutan mengecewakan orang lain sering kali berakar pada pengalaman masa lalu. Pola asuh yang menekankan kepatuhan, tuntutan untuk selalu “menjadi anak baik”, atau lingkungan yang menghukum perbedaan pendapat dapat membentuk keyakinan bahwa konflik adalah sesuatu yang harus dihindari.
Dalam jurnal Journal of Social and Clinical Psychology, dijelaskan bahwa individu yang terbiasa mendapatkan validasi eksternal sejak dini lebih rentan mengembangkan perilaku people pleasing ketika dewasa, terutama dalam hubungan sosial dan profesional.
Media Sosial dan Tekanan Sosial Baru
Di era media sosial, kecenderungan people pleaser semakin diperkuat. Budaya likes, komentar positif, dan citra diri yang ditampilkan secara daring menciptakan standar sosial baru tentang penerimaan. Banyak orang merasa harus selalu tampil menyenangkan, setuju, dan tidak kontroversial demi menjaga citra.
Dikutip dari BBC Worklife, para psikolog menyebut bahwa tekanan untuk disukai di ruang digital dapat memperburuk kecenderungan people pleasing dan memicu kelelahan emosional.
Dampak Psikologis yang Sering Diabaikan
Meski bertujuan menjaga hubungan, perilaku people pleasing justru berpotensi merugikan kesehatan mental. Individu dapat mengalami stres kronis, kelelahan emosional, kecemasan, hingga kehilangan identitas diri karena terlalu sering mengabaikan kebutuhan pribadi.
Selain itu, hubungan yang dibangun atas dasar pengorbanan sepihak cenderung tidak sehat dan rawan menimbulkan rasa frustrasi tersembunyi.
Antara Empati dan Mengorbankan Diri
Penting untuk membedakan empati dengan people pleasing. Empati memungkinkan seseorang memahami dan peduli terhadap orang lain, tanpa harus meniadakan batas diri. Sebaliknya, people pleasing sering kali membuat seseorang merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain.
Dikutip dari Kompas.com;, para psikolog menegaskan bahwa kemampuan menetapkan batas (boundaries) merupakan keterampilan penting dalam menjaga kesehatan mental dan hubungan yang sehat.
Belajar Berkata Tidak
Mengurangi kecenderungan people pleasing bukan berarti menjadi egois. Justru, mengatakan “tidak” secara asertif merupakan bentuk kejujuran terhadap diri sendiri dan orang lain. Dengan batas yang jelas, hubungan sosial dapat terbangun secara lebih seimbang dan autentik.
World Health Organization (WHO) juga menekankan pentingnya keterampilan sosial asertif sebagai bagian dari kesehatan mental yang baik.
People pleaser bukanlah label, melainkan pola perilaku yang dapat dipahami dan diubah. Ketakutan mengecewakan orang lain sering kali berangkat dari kebutuhan untuk diterima. Namun, kesehatan mental menuntut keseimbangan antara kepedulian terhadap orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri. Dengan mengenali batas dan berani bersikap asertif, hubungan sosial dapat menjadi ruang yang aman—bukan sumber kelelahan emosional.
