Konten dari Pengguna

Tren Mikrodrama AI: Aktor Pun Menganggur Jadi Pedagang Sayur Ganteng

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dj Wiguna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Artificial intelligence menginvasi dunia sinema mikrodrama sehingga lapangan kerja para aktor lenyap. Ini kisah klasik kalahnya manusia ketika teknologi berjumpa dengan kepentingan komersial. Adakah profesi yang sepenuhnya aman dari AI?

Ilustrasi pergserean dari aktor manusia ke aktor sintetis buatan AI (Dibuat dengan AI Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pergserean dari aktor manusia ke aktor sintetis buatan AI (Dibuat dengan AI Gemini)

Indonesia punya Imam Bawang dan Dani Ikan yang sedang viral. China juga punya Xu Peng Daun Bawang, pedagang ganteng yang ramai dibahas di media sosial. Tampan mungkin relatif, tapi seberapa rupawan Xu Peng mungkin tidak diragukan lagi, sebab ia sebenarnya bintang utama sejumlah drama pendek.

Saat menjajakan daun bawang, Xu Peng bukan CEO yang sedang menyamar di pasar. Pun bukan terlahir kembali ketika terlihat berjualan jus buah dan penganan di kampung halamannya di Shandong, China. Kesehariannya dari hampir 15 jam per hari di lokasi syuting berubah total setelah tawaran akting mikrodrama mengering.

Mikrodrama adalah serial drama pendek berdurasinya sekitar satu hingga tiga menit per episode yang menjadi tren konten yang populer. Saking besarnya minat penonton yang bisa dengan cepat menghabiskan satu judul, ada tuntutan syuting yang panjang agar sebuah judul baru mikrodrama segera selesai yang tidak lagi bisa diimbangi aktor. Rumah produksi China kini mulai beralih sepenuhnya ke generative artificial intelligence yang mampu menghasilkan drama baru dalam hitungan hari.

Xu Peng tidak sendirian. Aktor Hannah Lowery di Los Angeles, Amerika Serikat, juga kehilangan kontrak membintangi mikrodrama tentang atlet ski seluncur indah juga mendadak dibatalkan. Produser melepas semua aktor manusia dan beralih ke aktor sintetis buatan AI.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026 ada 275 ribu judul mikrodrama buatan AI yang dirilis di China.

Laporan China Netcasting Association dan Communication University of China menyebut pada triwulan pertama 2026, ada sekitar 122 ribu mikrodrama berbasis AI atau lebih dari 95 persen judul yang dirilis. Lalu pada triwulan kedua 2026, jumlah mikrodrama AI naik lagi jadi 153 ribu judul. Namun proporsi drama AI sebenarnya menurun jadi tinggal 64 persen saja sehingga menunjukkan drama dengan aktor manusia masih punya tempat di pasar.

Sejak awal sebenarnya data menunjukkan performa drama dengan aktor manusia sebenarnya lebih tinggi jumlah penontonnya daripada yang beraktor sintetis. Namun data itu tidak menghentikan produser mengutamakan AI sehingga aktor seperti Xu Peng terpaksa mudik dan jadi pedagang pasar tumpah.

Berkah dan musibah masuknya artificial intelligence ke dunia sinema

Ilustrasi aktor sintetis (Phil Shaw / Unsplash)

Perdebatan sejauh mana implementasi AI akan menghilangkan pekerjaan manusia memasuki babak baru seiring kecerdasan buatan generatif yang tadinya cuma alat bantu produksi konten mulai mencaplok pekerjaan manusia seperti dijumpai di pembuatan mikrodrama.

Sineas Hollywood Ben Affleck dalam beberapa kesempatan menyatakan AI tidak akan menggantikan aktor manusia. Pendiri perusahaan AI rintisan InterPositive ini meyakini AI justru berkah karena menghemat biaya produksi untuk proses pascaproduksi seperti memperbaiki kesalahan dan kekurangan saat syuting.

Namun keyakinan Affleck bahwa AI membawa berkah itu berbeda dengan realitas yang mulai terjadi di industri hiburan. Industri sinema di China, misalnya, mulai membahas kemungkinan menggantikan semua figuran bahkan aktor pendukung dengan AI sehingga hanya menyisakan pemeran utama.

Bahkan AI jadi musibah nyata di sektor produksi mikrodrama. Tak hanya aktor manusia, rupa-rupa pekerjaan pendukung di lokasi syuting malah lenyap sepenuhnya. Kru syuting, penata rias, kostum, hingga katering hilang dari daftar anggaran.

Kondisi ini mengingatkan saya pada kritik pemikir postmodern Jean Baudrillard terhadap perkembangan teknologi. Ketika berjumpa dengan kepentingan kapital, kata Baudrillard, seringkali teknologi berkembang melenceng dari ideal ke arah komersial. Teknologi dioptimalisasi untuk menarik konsumen agar membelanjakan uang sebanyak mungkin ketimbang membuat kehidupan manusia lebih baik atau memajukan sains.

Ketika berjumpa dengan kepentingan kapital seringkali teknologi berkembang melenceng dari ideal ke arah komersial - Pemikir Postmodern Jean Baudrillard

AI yang tadinya suplemen kreativitas manusia seperti digambarkan Ben Affleck justru menginvasi proses kreatif pekerja seni untuk optimalisasi target model bisnis. Kecerdasan buatan dalam produksi mikrodrama tidak semata menghasilkan aktor sintetis, tetapi sudah dipakai sejak penyusunan ide yang bukan lagi rapat kreatif antara produser, penulis skenario, dan sutradara.

Ide judul mikrodrama baru berasal dari olahan algoritma dan perhitungan AI yang membaca tren dan data konsumen untuk menemukan tema drama yang punya peluang besar mencapai sukses. Skenario pun disusun oleh AI berdasarkan hasil pembacaan terhadap perilaku penonton dengan merumuskan pola cerita yang paling berhasil mengaduk emosi penonton dan bikin mereka rela membayar buat tahu akhir cerita yang sebenarnya sudah bisa ditebak: akhir tragis nan kejam bagi tokoh antagonis.

Produksi mikrodrama bukan lagi proses kreatif tetapi luaran algoritma untuk membuat penonton kecanduan tanpa terlalu memperhatikan kualitas visual dan cerita. SkyReels, platform AI untuk membuat mikrodrama mengklaim drama Office Game yang diproduksi pada 2025 hanya membutuhkan waktu 11 hari untuk membuatnya. Hasilnya, 78 persen penonton bertahan menonton hingga pamungkas episode ke-40.

Jadi benarkah artificial intelligence tidak akan merampas pekerjaan manusia?

Ilustrasi pekerja kreatif (Lisanto 李奕良 / Unsplash)

Ada semacam dogma di era AI yang disampaikan CEO NVIDIA Jensen Huang yang banyak diucap ulang oleh banyak orang seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka: "Mereka yang tidak memakai AI akan kehilangan pekerjaan digantikan oleh mereka yang menggunakan AI."

Nyatanya, hilangnya pekerjaan bukan akibat persaingan antara mereka yang melek AI dan yang tidak. Peluang kerja raib karena para pemilik modal dan para eksekutif pengambil keputusan memilih mengganti manusia dengan AI dengan tujuan efisiensi waktu dan biaya.

Pergeseran produksi mikrodrama menunjukkan jika implementasi AI diserahkan kepada mekanisme pasar dan pelaku bisnis dibebaskan tanpa batasan, maka lenyapnya pekerjaan manusia bukan cuma kecemasan tanpa dasar. Pembatasan pemanfaatan AI di dunia sinema agar tidak menghilangkan kerja manusia yang sejauh ini cukup berhasil adalah saat sineas berserikat.

"Mereka yang tidak memakai AI akan kehilangan pekerjaan digantikan oleh mereka yang menggunakan AI" - CEO NVIDIA Jensen Huang

Asosiasi aktor Amerika Serikat, SAG-AFTRA, menggelar mogok kerja massal selama lebih dari tiga bulan pada 2023 dengan salah satu tuntutan terkait AI. Mereka berhasil menyeret perusahaan perfilman ke meja perundingan untuk memformulasi kontrak bahwa industri tidak akan semena-mena memakai AI tanpa ada justifikasi jelas mengapa aktor sintetis menggantikan manusia sepenuhnya.

Belajar dari kasus mikrodrama, apakah Indonesia sudah siap menghadapinya? Apakah karyawan dan pekerja kreatif sudah berserikat dan berasosiasi untuk punya posisi tawar yang memadai di hadapan para pemilik modal? Apakah pemerintah sudah punya regulasi agar manusia tidak bisa langsung dibuang ketika kerjanya bisa digantikan oleh AI?

Apakah sebagian besar dari kita akan bernasib seperti Xu Peng? Ijazah sekolah drama dan jam terbang aktingnya di televisi dikalahkan oleh barisan prompt yang disodorkan ke AI.