Evaluasi Jaringan, Tantangan, dan Masa Depan Angkutan Perintis Maluku Utara

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Djoko Setijowarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Maluku Utara, angkutan bus perintis tetap dioperasikan meski terkendala usia armada yang tua, kesulitan suku cadang, dan isu terkait kompetensi pengemudi dalam perawatan kendaraan .
Provinsi Maluku Utara memiliki 15 rute bus perintis sepanjang 1.838 km yang tersebar di berbagai kabupaten. Rute terpanjang membentang 432 km (Tobelo – Trans Sukamaju), sedangkan rute terpendek hanya 32 km (Tobelo – Jikomoi); keduanya berada di Kabupaten Halmahera Utara.
Layanan angkutan perintis tidak tersedia di Kota Ternate dan Kabupaten Taliabu. Sementara itu, Perum DAMRI Cabang Halmahera melayani kawasan transmigrasi di empat kabupaten Maluku Utara, yaitu Halmahera Barat (Transmigrasi Goal), Halmahera Utara (Transmigrasi Sukamaju), Halmahera Tengah, dan Halmahera Timur.
Kota Ternate dinilai telah mampu melayani angkutan secara komersial. Sementara itu, layanan di Kabupaten Pulau Taliabu terkendala oleh keterbatasan armada Perum DAMRI Cabang Halmahera serta infrastruktur jalan antar-kampung dan jembatan penghubung antar-desa yang belum sepenuhnya terhubung.
Data Perum DAMRI Cabang Halmahera (2025) menunjukkan layanan angkutan perintis tersebar di delapan kabupaten/kota. Di Halmahera Utara, operasionalnya mencakup rute Tobelo–Jikomoi (32 km), Tobelo–Toliwang (104 km), Tobelo–Galela–Saluta–Tanjung Jere (184 km), serta rute terpanjang Tobelo–Trans Sukamaju (432 km).
Di wilayah kepulauan, layanan tersedia di Kepulauan Sula (Pasar Fogi–Pelabuhan Feri Sanana 60 km; Terminal Fogi–Manaf 88 km) dan Pulau Morotai (Gorua–Bere-bere–Daruba 38 km; Wayabula–Daruba 100 km). Sementara di kawasan tengah dan selatan, rute mencakup Halmahera Tengah (Weda–Kobe Sawai 224 km; Weda–Bisui 96 km) serta Halmahera Selatan/Pulau Bacan (Babang–Bibinoi–Wayaua 64 km; Belang Belang–Labuha–Kubung 70 km).
Lintasan Weda–Bisui merupakan rute Antar-Kabupaten Dalam Provinsi (AKDP) yang melewati kawasan transmigrasi Kecamatan Wairoro (Halmahera Tengah), wilayah yang berbatasan darat langsung dengan Halmahera Selatan. Selain itu, jaringan perintis ini juga melayani Kota Tidore Kepulauan (Pelabuhan Rum–Terminal Sarimalaha 134 km), Halmahera Barat (Terminal Transgoal–Desa Susupu–Terminal Jailolo 36 km), dan Halmahera Timur (Iga–Subaim 176 km).
Akibat kerusakan jalan menuju Desa Iga, lintasan Iga–Subaim dievaluasi dan direvisi menjadi Kakaraino–Subaim. Untuk operasionalnya, setiap rute dilayani oleh satu unit armada, kecuali rute Tobelo–Galela–Saluta–Tanjung Jere dan Tobelo–Jikomoi yang masing-masing menggunakan dua armada. Secara keseluruhan, Perum DAMRI menyiagakan 19 armada (11 bus medium dan 8 mikrobus) beserta 19 pengemudi untuk melayani 15 trayek ini, di mana dua unit di antaranya dialokasikan sebagai cadangan.
Berdasarkan Keputusan Dirjen Perhubungan Darat, BPTD Kelas II Maluku Utara mengoordinasikan operasional 15 trayek angkutan perintis untuk meningkatkan konektivitas wilayah. Pada tahun 2025, dialokasikan anggaran sebesar Rp 8,59 miliar. Sementara pada tahun 2026, anggaran disiapkan sebesar Rp 8,59 miliar untuk 15 trayek eksisting plus usulan satu trayek baru (Kakaraino – Subaim).
Peran Angkutan Perintis
Kehadiran bus perintis membawa tiga dampak vital. Pertama, bus perintis berdampak vital dalam menghubungkan daerah terpencil dengan pusat ekonomi, yang sangat membantu mobilitas petani dan pedagang.
Kedua, bus perintis menggerakkan ekonomi lokal melalui transportasi terjangkau yang memangkas biaya angkut hasil bumi/dagangan ke pasar, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan petani dan pedagang.
Ketiga, bus perintis membuka akses layanan publik, memudahkan masyarakat pelosok (termasuk petani dan pedagang) menjangkau sekolah, rumah sakit, dan kantor pemerintahan yang sebelumnya sulit diakses.
Permasalahan
Menurut data Perum DAMRI Cabang Halmahera (2025), kendala operasional angkutan perintis terbagi dua, yakni:
1. Tantangan fisik dan logistik: armada tua, ketiadaan bagasi barang untuk hasil bumi, dan langkanya suku cadang di kabupaten.
2. Tantangan manajemen dan SDM: perlunya peningkatan kompetensi montir/pengemudi serta pengetatan pengawasan uji kelaikan kendaraan.
Kendala operasional tersebut berdampak pada dua hal, yakni finansial dan operasional (lonjakan biaya pemeliharaan serta keterlambatan perbaikan bus yang memakan waktu lama), dan layanan serta kepatuhan (pencampuran penumpang dengan barang akibat tiadanya bagasi, hingga ketiadaan bukti lulus uji kelaikan armada).
Penyelesaian masalah angkutan perintis Maluku Utara memerlukan pemeliharaan optimal sekaligus peremajaan armada tua, serta pengaturan posisi penumpang dan barang yang tegas di dalam bus.
Kendala logistik diatasi melalui pengadaan suku cadang eksternal/internal serta kemitraan dengan bengkel lokal, sementara aspek legalitas dipenuhi dengan melakukan uji kir di kabupaten yang memiliki fasilitas pengujian. Tantangan terbesar operasional adalah dilema antara menjaga keandalan dan estetika armada tua, sembari mengejar target ketat hari jalan, ritase, serta jumlah penumpang.
Ke depan sedang diusulkan 5 rute sebagai Bus AKDP Perintis, yakni:
Ternate (Bandara Sultan Babullah)-Sofifi-Jailolo
Ternate (Bandara Sultan Babullah)-Sofifi-Kao-Malifut-Tobelo
Ternate (Bandara Sultan Babullah)-Sofifi-Subaim-Buli-Maba
Ternate (Bandara Sultan Babullah)-Sofifi-Payahe-Weda-Lelilef
Subaim-Buli-Maba-Patani-Weda.
