Post Pandemi, Moral Baru, dan Pendidikan

Menulis Buku Imagologi Strategi Rekayasa Teks (2010). Kambing HItam Pendidikan , Nalar dan Destinasi. Redefinisi Pancasila, Philosophisce Grondslagh (2020)
Tulisan dari Hudjolly tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasca pandemi, ras manusia tidak berubah baik secara sosiologis ataupun secara biologis. Yang pasti berubah ialah kebergantungan yang semakin tinggi pada kuota, dunia digital, pada jejaring web. Internet kian mendominasi keberlangsungan pendidikan, layanan publik sampai layanan hukum. Ketergantungan pada dunia web itu seperti ketergantungan pada telepon pintar yang empat-lima tahun lalu kepemilikannya “tidak wajib” bagi setiap orang. Kini setiap orang memilikinya, bahkan anak sekolah menengah sudah “wajib” memiliki telepon pintar sendiri, beserta kuota. Internet of thing (IoT) adalah realitas baru pasca pandemi, semua orang wajib terlibat.
Kelompok yang pertama merayakan pewajiban IoT adalah komunitas pendidikan disusul komunitas birokrasi. Bukankah dengan kebijakan daring, work from home, guru merasa absah untuk mengajar siswanya via aplikasi virtual, dosen menyampaikan materi ajar lewat interaksi layar. Dan seolah merayakan IoT, lalu lalang webinar yang membuncah memecah kebuntuan kegiatan kerja dari rumah. Webinar menjelma sebagai penyelamat wajah pendidikan agar tetap dapat disebut produktif, atas nama kreativitas di masa stay at home. Kering esensi tapi penuh sensasi digital.
Kita lupa jika forum seminar dan forum ilmiah pada masa sebelum pandemi adalah ajang pertukaran gagasan dan ide-ide cemerlang dalam diskursus humanis. Kini webinar seolah hanya menampilkan wajah komodifikasi perangkat digital. Diskursus menjadi artificial, sisi humanitas dan pertukaran gagasan itu harus tunduk pada kuasa nodes, byte dan hukum algoritma. Kemenangan komodifikasi itu dirasakan benar oleh Eric Yuan (zoom) dan oleh Larry Page (google). Layanan publik dari kantor-kantor pemerintahan menjadi platform digital, semua interaksi direpresentasi oleh gigantisme byte dan algoritma. Dalam serba kuasa nodes, hanya ketrampilan berinteraksi manusia saja yang berubah, sisi hikmat kebijaksanaan manusia belum reasonable untuk berubah maka tidak ada kebutuhan terhadap moralitas baru.
2000 tahun yang lalu semua tindakan manusia diderivasikan dari kemampuan dewa-dewi. Kebergantungan manusia pada dewa-dewi mendasari pemikiran bahwa semua perbuatan harus mendapat perkenan mereka. Kala itu, moralitas yang terbentuk mengarahkan setiap tindakan harus selaras dengan eksistensi dewa-dewi. Tidak boleh ada perbuatan yang tidak disukai oleh dewa-dewi, itu menyalahi moral. Abad pertengahan standar moralitas disandarkan pada ortodoksi religi, dari seni sampai ilmu pengetahuan dipersembahkan bagi sekte-sekte religi. Tidak boleh ada karya seni selain untuk mempercantik kastil-kastil agama, tidak boleh ada pengetahuan dan pendapat yang berbeda dengan cara pandang agama, itu menyalahi moral.
Semenjak aufklarung sampai kini standar moralitas adalah kebebasan manusia dan kemerdekaan manusia untuk berbuat apa saja sejauh tidak merugikan orang lain. Semua diperbolehkan asal tidak tidak merugikan “kebebasan” orang lain. Merugikan kebebasan orang lain, mengekang kemerdekaan berarti menyalahi moral. Adanya penetapan protokol kesehatan pasca pandemi hanyalah cara-cara yang dikembangkan dalam nalar “agar tidak merugikan orang lain” sehingga diperlukan cara bertindak yang dapat melindungi kebebasan diri sendiri sekaligus menurunkan risiko orang lain terancam oleh keberadaan kita.
Hanya karena ada penambahan cara-cara ke dalam perubahan pergaulan dan interaksi pasca pandemi ini bukanlah barang baru yang menuntut semua hal-hal baru. Bukankah moralitas dasarnya tetap sama sejak aufklarung itu, hanya tata cara berinteraksi yang ditambahi serangkaian langkah protokol konsensual se-dunia saja. Setiap rangkaian langkah yang selalu terpola secara sama dapatlah disebut sebagai algoritma. Ya ini algoritma moral, suatu cara mengarahkan tindakan-tindakan yang berbeda tapi terarah ke dalam langkah yang sama.
Dalam algoritma moral semacam itu, kita seperti diajak mengulang moral era “dark age”, bahwa semua tindakan dari seni sampai ilmu pengetahuan ditujukan untuk membentuk algoritma yang serupa bunyinya: “semua tindakan ditujukan untuk dalil religi” bandingkan dengan rumus algoritma moral masa kini “semua tindakan ditujukan untuk dalil healthy”. Bukankah rumus algoritma ini telah dipraktikkan oleh komunitas pendidikan dan birokrasi yang demen mengarahkan tema-tema kajian webinar seputar kisi pandemi. Bahkan selevel philosophisce grondslagh Pancasila saja harus dihadapkan pada kisi pandemi, seperti judul “nilai-nilai Pancasila di era masa covid 19”. Nilai pancasila itu berada di level ground—seperti grundnorm—dan “era covid” itu ada di level praksis. Ya, ini sepintas normal saja padahal bagaikan tebak-tebakan “ayam dulu atau telur dulu” karena kita juga diajak menebak: “nilai mengacu pada tindakan praksis dulu” ataukah “tindakan praksis mengacu pada nilai dulu”?
Daripada mencari jawaban dari tebakan itu, akan lebih bermanfaat melihat segi-segi ketergantungan interaksi nodes dan byte yang menguat di masa pandemi. Jika pendidikan itu seperti rumusan Paulo Freire (1921-1997 M) bertujuan untuk memanusiakan manusia, mengajar dalam jeda nodes dan byte berarti menyerahkan kuasa pendidikan pada kuasa mesin. Mesin IoT-lah yang menentukan proses pertukaran pendidikan dapat berjalan atau tidak berjalan. Jika pendidikan diartikan sebagai transfer pengetahuan maka nodes dan byte adalah medium bagi tersampaikannya konten materi pengetahuan, proses transfer pengetahuannya tetap ada pada penerima pesan dan pengirim pesan.
Yang terjadi dalam pendidikan via nodes and byte justru keriuhan pada “pesan” yang akan dikirim. Persis prediksi Marshal Mc Luhan (1967) bahwa perhatian orang—kelak—akan bergeser bukan kepada isi pesan di medium-medium tetapi orang akan berlomba untuk melihat bagaimana tampilan medium itu, bukan isi pesannya. Pendidikan by nodes itu menekankan bagaimana produk Eric Yuan dan Larry Page dapat digelar berkolaborasi dengan aplikasi-aplikasi lain. Maka menguasai aplikasi alias si medium-lah yang menjadi lebih penting dari tanggungjawab pendidikan “memanusiakan manusia”.
Bagaikan perlombaan menguasai aplikasi dan “berpesta” menyelenggarakan webinar ala-ala pandemi, dunia pendidikan telah menggeserkan eksistensi dirinya sebagai segmen pasar dari ladang bisnis dunia digital. Bisnis di dunia digital berhasil mengorbitkan Nadiem Makarim, yang saat ini sedang menjabat menteri pendidikan. Sebagai segmen, pelaku penyelenggara pendidikan hanya merasa perlu menunjukkan empati pada peserta didik dengan memberikan “kompensasi pengganti kuota”.
Penyelenggara pendidikan turut menyuburkan ketergantungan pada kuota. Manakala ketergantungan tidak dapat dikendalikan dengan meletakkan teknologi sebagai “penyampai pesan” dan bukan “esensi dari pesan itu sendiri” tidak mustahil komunitas pendidikan akan menjelma menjadi ras baru. Ras imagologian. Ras yang selalu merepresentasikan diri ke dalam dunia nodes and byte, ras yang lebih pandai berinteraksi dengan simbol-simbol simulatif dunia maya, ras yang berdoa dan meletakkan asa dalam status-status hiperbolis virtual.
Ketika ras primata baru belajar turun dari dahan dan belajar berjalan di tanah, tidak akan bisa mengenal dansa dan salsa. Hanya ras manusia yang telah menapak tanah lama dan mengenal seni-lah yang mampu mengenal bagaimana berjalan serentak irama dalam “gerak jalan”, poco-poco, dansa dan salsa. Ras manusia yang menenggelamkan diri dalam dunia imagologian, dimana imago (bayangan,citra) lebih ditonjolkan dari pada kenyataan yang sejati akan kesulitan bagaimana mengenali hikmat kebijaksanaan di tengah masyarakat. Tidak ada moralitas virtual dan moralitas baru selain rekaan phantasma (imaji yang dianggap nyata). Diskursus pengetahuan, pendidikan, akan kekeringan makna intrinsiknya ketika sekedar divisualisasi dalam event imagologian yang serba IoT. Dan server-server penampung IoT bersimbiosis dengan dunia iklan, mereka sedang berbisnis, ketika iklan transnastional terhenti—seperti sikap unilever, coca-cola yang menghentikan iklan di facebook hingga desember 2020—maka eksistensi jagat maya gontai. Makin nyatanya-lah kendali terhadap IoT, pada megaserver dunia maya tidak berada di tangan kita insan pendidikan dan kaum birokrasi. Kendali ada di sana, di tangan awan (cloud) yang entah dimiliki oleh siapa saja. Kita hanya diberi claim “jaminan aman” dengan enkripsi sekian lapis lalu merasa nyaman menghabiskan kuota dengannya atas nama “berdiam di rumah”, atas dalil masa pandemi atas nama “seminar di jagat maya”. Pandemi tidak mampu melahirkan moralitas baru via IoT lho, maka..mari kembalikan ruh pendidikan, jangan biarkan direnggut kuota dicekam dikte algoritma aplikasi dan cloud.
Hudjolly, mengampu Mata Kuliah Logika, Filsafat di FKIP Untirta, tinggal di Banten
