Konten dari Pengguna

BerAKHLAK: Nilai Dasar ASN di Tengah Perubahan Zaman

Dodi Rosadi

Dodi Rosadi

Pranata Humas BRIN

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dodi Rosadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BRIN: Latsar CPNS Implementasikan Nilai-Nilai Dasar ASN BerAKHLAK : foto BKPUK BRIN/ASW
zoom-in-whitePerbesar
BRIN: Latsar CPNS Implementasikan Nilai-Nilai Dasar ASN BerAKHLAK : foto BKPUK BRIN/ASW

Masyarakat tentu berharap setiap layanan pemerintah diberikan secara cepat, profesional, dan penuh tanggung jawab. Harapan inilah yang menjadi salah satu latar belakang lahirnya BerAKHLAK. Pada 27 Juli 2021, Presiden Joko Widodo meluncurkannya sebagai core values dan employer branding ASN dengan semboyan “Bangga Melayani Bangsa”.

BerAKHLAK merupakan akronim dari tujuh nilai dasar yang menjadi pedoman perilaku dan budaya kerja ASN, yaitu Pertama, Berorientasi Pelayanan. Nilai ini menegaskan bahwa esensi keberadaan ASN adalah memberikan pelayanan terbaik demi kepuasan dan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran aparatur negara bukan sekadar menjalankan fungsi administratif, melainkan hadir untuk memberikan solusi atas kebutuhan publik secara nyata.

Kedua, Akuntabel. Nilai ini menegaskan bahwa setiap amanah, wewenang, dan kepercayaan yang diberikan kepada ASN harus dipertanggungjawabkan secara penuh kepada publik, organisasi, dan Tuhan Yang Maha Esa. Akuntabilitas bukan sekadar kewajiban membuat laporan administratif setelah kegiatan, melainkan prinsip moral yang melandasi setiap tindakan dan keputusan aparatur negara. Sikap akuntabel diwujudkan melalui pelaksanaan tugas secara jujur, bertanggung jawab, cermat, disiplin, dan berintegritas tinggi.

Ketiga, Kompeten. Seorang ASN dituntut untuk tidak pernah berhenti belajar dan senantiasa mengembangkan kapasitas dirinya. Di tengah perubahan zaman dan kompleksitas tantangan birokrasi, profesionalisme aparatur negara diukur dari sejauh mana pengetahuan dan keterampilannya tetap relevan serta mampu memberikan kontribusi nyata. Komitmen tersebut diwujudkan dengan terus meningkatkan kompetensi untuk menjawab tantangan yang selalu berubah.

Keempat, Harmonis. Nilai ini menekankan pentingnya kepedulian dan sikap menghargai perbedaan sebagai perekat dalam lingkungan birokrasi. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk, keharmonisan menjadi kunci untuk menciptakan suasana kerja yang ramah, inklusif, dan bebas dari konflik diskriminatif. Penerapannya dimulai dengan kesadaran untuk menghargai setiap orang, apa pun latar belakangnya.

Kelima, Loyal. Seorang ASN wajib memiliki dedikasi tinggi dan senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Loyalitas merupakan komitmen moral dan bentuk pengabdian yang menjadi fondasi dalam menjaga keutuhan serta keberlangsungan tata kelola pemerintahan. Sikap loyal diwujudkan dengan memegang teguh ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pemerintahan yang sah.

Keenam, Adaptif. Seorang ASN dituntut untuk terus berinovasi dan memiliki antusiasme dalam menghadapi berbagai dinamika perubahan. Di era perkembangan teknologi, perubahan regulasi, dan tingginya ekspektasi publik, kemampuan beradaptasi menjadi syarat penting agar birokrasi tidak tertinggal dan tetap relevan. Nilai ini diwujudkan dengan cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan serta tidak kaku mempertahankan cara-cara lama yang sudah kurang efektif dan efisien.

Ketujuh, Kolaboratif. Nilai ini menegaskan pentingnya membangun kerja sama yang sinergis untuk menyatukan berbagai potensi dan keahlian dalam menyelesaikan persoalan publik yang kompleks. Birokrasi tidak lagi dapat bekerja secara terisolasi atau mengedepankan ego sektoral. Keberhasilan pembangunan dan kualitas pelayanan masyarakat sangat bergantung pada kemampuan ASN membangun kemitraan yang solid. Komitmen ini diwujudkan dengan memberikan kesempatan kepada berbagai pihak untuk berkontribusi.

Teori yang paling sesuai dengan konsep BerAKHLAK, yaitu Teori Budaya Organisasi Edgar H. Schein (1985) dari buku Organizational Culture and Leadership, karya Edgar H. Schein, yang diterbitkan oleh Jossey-Bass pada 1985. Buku tersebut secara khusus membahas budaya organisasi, bagaimana budaya terbentuk, serta hubungan budaya dengan kepemimpinan dan efektivitas organisasi.

BerAKHLAK Masih Relevan

Hingga saat ini, BerAKHLAK bukan hanya masih relevan, tetapi justru semakin krusial bagi ASN. Percepatan digitalisasi dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di sektor publik, misalnya, menuntut ASN menjadikan nilai Adaptif dan Kompeten sebagai landasan utama. Aparatur negara tidak boleh sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi harus mampu memahami dan memanfaatkan teknologi secara bijak untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Tuntutan transparansi dan pengawasan publik yang semakin tinggi juga menjadikan nilai Akuntabel dan Berorientasi Pelayanan sebagai pedoman penting. Kehadiran media sosial memungkinkan kinerja, sikap, dan etika birokrasi dipantau masyarakat secara langsung. Kondisi ini menuntut ASN bekerja secara jujur, menjaga integritas, dan menghindari penyalahgunaan wewenang. Pada saat yang sama, ASN harus semakin peka dan responsif dalam menindaklanjuti keluhan masyarakat agar kepercayaan publik terhadap birokrasi tetap terjaga.

Persoalan publik yang semakin kompleks atau wicked problems, seperti perubahan iklim, dinamika ekonomi global, dan pemulihan kesehatan masyarakat, juga menjadikan nilai Kolaboratif semakin penting. Persoalan lintas sektor tidak mungkin diselesaikan oleh satu instansi secara terisolasi. ASN perlu meruntuhkan ego sektoral dan membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, baik antarinstansi pemerintah maupun dengan akademisi, pelaku usaha, dan komunitas. Melalui kolaborasi, berbagai sumber daya dan kepakaran dapat disatukan untuk menghasilkan solusi yang komprehensif dan berdampak luas bagi masyarakat.

Sementara itu, penyederhanaan birokrasi dan tuntutan pola kerja yang lincah (agile) menjadikan nilai Harmonis dan Loyal sebagai jangkar penting. Struktur organisasi pemerintah yang semakin ramping menuntut fleksibilitas dan kerja sama tanpa sekat hierarki yang kaku. Nilai Harmonis menjaga lingkungan kerja tetap kondusif, ramah, dan inklusif, sedangkan Loyal memastikan setiap perubahan strategi maupun struktur tetap berlandaskan integritas, menjaga nama baik instansi, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

Dengan tantangan zaman yang bergerak cepat, BerAKHLAK bukan sekadar slogan, melainkan standar perilaku (behavioral standard) yang menjaga profesionalisme ASN dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayan publik dan pemersatu bangsa. (dr)