Jangan Biarkan Pena Santri Tumpul

Pranata Humas BRIN
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dodi Rosadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sabtu, 22 Agustus 2026, saya menerima pesan WhatsApp dari panitia Career Chat Day (CCD) MILBoS (Maghfirah Islamic Leadership Boarding School). Panitia meminta saya menjadi narasumber dalam kelas “Profesi Inspirasi”. Setelah berdiskusi melalui telepon mengenai materi yang akan disampaikan kepada sekitar 40 santri Madrasah Aliyah (MA), saya pun menyanggupi.
Seminggu kemudian, Sabtu, 29 Agustus 2026, setelah salat subuh, saya berangkat menuju MILBoS. Setelah bertemu panitia, saya memasuki kelas D dan bertemu dengan para santri. Saya tidak sekadar ingin berbicara tentang menulis. Saya ingin menunjukkan bahwa tulisan sederhana dapat menjadi awal lahirnya karya, prestasi, bahkan membuka berbagai kesempatan.
Saya mengajak para santri mengenal Ahmad Fuadi melalui karyanya Negeri 5 Menara. Novel tersebut menjadi bukti bahwa pesantren bukanlah batas untuk menghasilkan karya yang dapat dikenal luas. Justru dari lingkungan pesantren yang kaya pengalaman, nilai, dan pembelajaran, dapat lahir gagasan yang mampu menjangkau dunia.
Saya juga berbagi pengalaman menulis yang saya jalani. Setelah mengikuti berbagia pelatihan menulis artikel salah satunya bersama ASN Menulis. Saya mulai membangun kebiasaan belajar menulis, dan memublikasikan gagasan tersebut di media kumparan.com.
Dari proses dan hasil tersebut, muncul berbagai kesempatan, seperti menjadi narasumber, memperoleh penghargaan penerima PR Indonesia Fellowship Program 2023 dari PR Indonesia, hingga menjadi finalis Tokoh Humas Pemerintah 2026.
Saya menyampaikan pengalaman itu bukan untuk membanggakan diri, melainkan untuk menunjukkan bahwa karya besar sering kali bermula dari langkah kecil. Karena itu, saya menyampaikan pesan kepada para santri:
pena santri tidak boleh tumpul dari balik pesantren. Dari pesantren harus lahir karya yang mendunia
Menulis Dimulai dari Niat
Menulis sebaiknya dimulai dari niat yang baik. Jangan menulis hanya karena ingin populer atau mengejar penghargaan. Menulis dapat menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang tulus dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Tulisan dapat menjadi sarana menyebarkan kebaikan, menyampaikan kebenaran, berbagi pengetahuan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Para ulama terdahulu telah memberikan teladan. Pemikiran dan ilmu mereka diwariskan melalui kitab-kitab yang tetap dibaca hingga kini.
Tulisan melampaui usia penulisnya dan dapat menjadi amal jariah. Karena itu, popularitas dan penghargaan sebaiknya ditempatkan sebagai bonus. Tujuan utamanya adalah menghasilkan karya yang bernilai dan bermanfaat.
Rumus Menulis: Dipaksa, Bisa, Terbiasa, hingga Luar Biasa
Saya memperkenalkan konsep yang dikemukakan oleh Wahyudi Siswanto dan David Ming (2020): dipaksa, bisa, terbiasa, hingga luar biasa.
Pertama, dipaksa. Pada awalnya menulis memang terasa sulit. Namun, tugas, pekerjaan, atau target dapat menjadi dorongan untuk mulai menulis.
Kedua, bisa. Dengan latihan berulang, kemampuan menulis akan berkembang. Menulis bukan semata-mata bakat, melainkan keterampilan yang dapat dilatih.
Ketiga, terbiasa. Ketika dilakukan secara rutin, menulis akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Keempat, luar biasa. Kebiasaan yang terus diasah akan melahirkan karya yang semakin matang dan memiliki ciri khas.
Kuncinya adalah peka terhadap berbagai ide di sekitar kita. Ide dapat berasal dari pengalaman pribadi, percakapan, buku yang dibaca, kehidupan pesantren, fenomena sosial, hingga persoalan masyarakat.
Menulis Membuka Jalan Prestasi
Menulis secara konsisten dapat membuka berbagai peluang. Kompetisi artikel, esai, karya tulis ilmiah, maupun lomba menulis dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan sekaligus keberanian.
Tulisan yang dimuat di media massa, laman institusi, atau jurnal juga dapat menjadi portofolio yang menunjukkan kemampuan berpikir, menganalisis, dan berkomunikasi. Dari sana, terbuka peluang mendapatkan beasiswa, undangan menjadi narasumber, kolaborasi, hingga pengembangan karier.
Dengan demikian, menulis bukan sekadar hobi. Menulis dapat menjadi bentuk pengabdian, jalan meraih prestasi, sekaligus investasi untuk masa depan.
Tiga Langkah untuk Memulai
Ada tiga langkah sederhana yang saya sampaikan kepada para santri. Pertama, perbanyak membaca. Membaca adalah bahan bakar seorang penulis. Semakin banyak membaca, semakin luas wawasan dan perbendaharaan kata. Perintah Iqra’ dalam wahyu pertama juga mengingatkan kita tentang pentingnya membaca.
Kedua, jangan takut dikritik. Penulis yang baik adalah mereka yang mau terus belajar dan memperbaiki diri. Kritik dari guru, teman, maupun mentor dapat menjadi bahan untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik.
Ketiga, manfaatkan teknologi digital. Media sosial dan berbagai platform digital memberikan ruang yang luas untuk memublikasikan karya. Namun, kemudahan tersebut harus diiringi dengan penggunaan data yang benar, bahasa yang baik, serta informasi yang terverifikasi.
Dari Pesantren untuk Dunia
Menulis bukan sekadar aktivitas merangkai kata. Menulis adalah perjalanan intelektual dan spiritual yang menghubungkan gagasan dengan kehidupan. Para santri memiliki banyak sumber inspirasi: kehidupan pesantren, proses belajar, nilai-nilai Islam, persahabatan, perjuangan, serta berbagai persoalan sosial. Tidak perlu menunggu menjadi hebat untuk mulai menulis. Mulailah dari apa yang diketahui, dialami, dan dipedulikan.
Satu paragraf dapat berkembang menjadi sebuah artikel. Sebuah artikel dapat menjadi buku. Sebuah buku dapat mengubah cara seseorang memandang dunia. Dengan niat yang tulus, konsistensi, dan keberanian, goresan pena sederhana dari pesantren dapat berubah menjadi karya yang monumental.
Jangan biarkan pena santri tumpul. Biarkan ia terus menari, merangkai kata, menyemai gagasan, dan menyalakan harapan. Sebab, bisa jadi, dari satu goresan pena seorang santri hari ini, lahir sebuah karya yang menginspirasi dunia esok hari.(dr)
