Konten dari Pengguna

Kenali 9 Tipe Audiens serta Cara Efektif Menghadapinya

Dodi Rosadi

Dodi Rosadi

Pranata Humas BRIN

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dodi Rosadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sebagai Trainer. doc pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sebagai Trainer. doc pribadi

Dalam setiap pelatihan, seorang pembicara akan selalu berhadapan dengan beragam tipe audiens. Ada yang kooperatif, ada yang suka bertengkar, dan ada pula yang pemalu. Bagaimana cara mengelola keragaman ini agar suasana pelatihan tetap dinamis sekaligus efektif?

Menurut Muchlis Ishaq dalam bukunya Powerful Speaking: Rahasia Menjadi Pembicara Hebat & Profesional (2024), terdapat sembilan tipe audiens yang perlu diketahui dan cara menghadapinya, sebagai berikut.

1. Tipe Suka Bertengkar

Tipe audiens ini biasanya tidak mau menerima ide orang lain karena merasa pendapatnya yang paling benar. Jika ada ide yang lebih baik, ia cenderung tidak mau mengakuinya karena gengsi, bahkan sering menyulut pertengkaran atau perdebatan panjang.

Ciri-ciri tipe peserta suka bertengkar antara lain keras kepala dan tidak mau mengalah, hanya akan berhenti berdebat jika sudah merasa puas, sering menjawab pertanyaan dengan pertanyaan balik yang terkesan menyerang, cenderung agresif, ngeyel, dan tetap bersikeras pada pendapatnya serta baru berhenti bertengkar jika pendapatnya diakui, meskipun terkadang pendapat tersebut salah.

Cara menghadapi tipe peserta suka bertengkar adalah buat dia merasa tenang dan puas atas pengakuan yang dibutuhkan (kemampuan dan pengalamannya). Setelah merasa dihargai dan diakui, ia akan lebih tenang sehingga kita dapat menjelaskan konsep yang benar.

2. Tipe Positif Kooperatif

Tipe audiens ini mudah diajak bekerja sama dengan pembicara. Mereka cenderung memberikan respons positif, bersikap aktif, bersemangat, terbuka terhadap ilmu baru, serta siap bekerja sama baik dengan peserta lain maupun dengan pembicara. Meskipun materi yang disampaikan kurang menarik, audiens dengan tipe ini tetap berusaha memperhatikan.

Ciri-ciri tipe peserta positif dan kooperatif antara lain memiliki kemauan yang tinggi untuk belajar, menunjukkan keinginan untuk bekerja sama, bersikap terbuka terhadap hal-hal baru, toleran terhadap perbedaan, serta memiliki kedisiplinan yang baik.

Cara menghadapi tipe peserta positif dan kooperatif adalah dengan memberikan penghargaan dan pujian, memberikan respons dan umpan balik secara konstruktif, mengajak mereka berkolaborasi, memberikan kesempatan dan tantangan untuk belajar lebih, serta menjadikan mereka sebagai mitra atau narasumber.

3. Tipe Superior atau Serbatahu

Peserta training yang memiliki sikap superior atau serbatahu adalah peserta yang cenderung merasa sudah sangat ahli, atau menganggap dirinya lebih unggul dibandingkan peserta lain, bahkan pembicara atau trainer. Tipe audiens seperti ini sering kali menunjukkan perilaku yang membuat suasana kelas kurang nyaman karena merasa paling tahu dan sulit diarahkan.

Ciri-ciri tipe peserta dengan sikap superior atau serbatahu antara lain sering meremehkan peserta lain, kurang terbuka terhadap hal-hal baru yang disampaikan, kerap mendominasi jalannya diskusi, sulit menerima masukan atau umpan balik, serta cenderung kurang disiplin dalam mengikuti aturan yang berlaku.

Peserta training yang memiliki sikap superior atau serbatahu dapat menghambat proses pembelajaran dan menciptakan lingkungan belajar yang tidak nyaman bagi peserta lain maupun trainer.

Cara terbaik menghadapi tipe peserta superior atau serbatahu adalah dengan menginterupsi secara taktis ketika ia terlalu banyak berbicara atau memamerkan kemampuannya, memberi kesempatan kepada peserta lain untuk menanggapinya, dan jika sudah sangat keterlaluan, mengajukan pertanyaan yang bersifat menjebak agar ia tidak lagi mendominasi.

4. Tipe Suka Bicara atau Talkative

Peserta training yang suka bicara atau talkative adalah peserta yang memiliki kecenderungan kurang sabar dalam mendengarkan pendapat orang lain, bahkan sering kali tidak sabar menunggu penjelasan dari trainer.

Kehadiran tipe ini dapat membuat suasana pelatihan kurang kondusif jika tidak dikelola dengan baik, karena mereka cenderung ingin selalu didengar.

Ciri-ciri tipe peserta yang suka berbicara atau talkative antara lain cenderung mendominasi jalannya diskusi, sulit mendengarkan pendapat orang lain secara penuh, suka menarik perhatian untuk menjadi pusat dalam kelompok, serta gemar berdebat demi mempertahankan pandangan pribadinya.

Cara menghadapi tipe suka bicara atau talkative adalah mendengarkan dengan saksama, memberikan batasan waktu, mengembalikan fokus ke materi pelatihan, membangun partisipasi kelompok, tidak terhanyut dalam diskusi yang tidak penting, memberikan umpan balik secara konstruktif, serta membangun kesetaraan.

5. Tipe Pemalu

Dalam setiap kelas pelatihan, hampir selalu ada peserta dengan tipe pemalu. Peserta tipe ini biasanya merasa tidak nyaman berada dalam situasi sosial, apalagi ketika harus berbicara di depan banyak orang. Kebanyakan dari mereka cenderung memiliki kepribadian introvert, sehingga lebih memilih diam dan menghindari sorotan.

Ciri-ciri tipe peserta pemalu dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain kurang percaya diri untuk mengungkapkan pendapat, cenderung pasif dalam mengikuti diskusi maupun kegiatan kelas, sering kali kesulitan menjalin hubungan dengan peserta lain, serta biasanya memilih duduk di bagian belakang agar tidak terlalu terlihat.

Cara menghadapi tipe peserta pemalu adalah dengan memberikan lingkungan yang nyaman dan aman.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu peserta pemalu agar lebih merasa nyaman di kelas, yaitu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memberikan kesempatan berbicara yang positif dan menyenangkan, membangun kolaborasi dalam kelompok kecil, memberikan umpan balik yang positif, tidak memberikan tekanan, serta menjadikannya peserta VIP.

6. Tipe Penolak

Tipe peserta training yang penolak adalah peserta yang memiliki sikap cenderung negatif dan menolak untuk berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan. Terkadang menolak sebagian besar isi materi, tetapi dia tetap berada di kelas training Anda.

Ciri-ciri tipe peserta training yang memiliki tipe penolak antara lain kurang berpartisipasi, tidak tertarik belajar, bersikap negatif, serta menutup diri.

Cara menghadapi tipe peserta penolak adalah memahami alasan mereka menolak ajakan mengikuti training atau menolak isi training tersebut, lalu berusaha mengatasi masalah yang mendasarinya.

Cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi peserta training tipe penolak yaitu menciptakan suasana belajar yang nyaman, mencari tahu alasan penolakan, memberikan materi yang relevan dengan pekerjaan atau kebutuhannya, menunjukkan manfaat dari training yang diberikan, mendorong mereka untuk berdiskusi dan berkolaborasi, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta menggunakan teknik coaching.

7. Tipe Kurang Memperhatikan

Peserta training dengan tipe kurang memperhatikan biasanya terlihat ogah-ogahan dalam mengikuti pelatihan. Mereka kurang fokus pada materi, mudah terdistraksi, dan tampak tidak terlalu tertarik dengan penjelasan yang diberikan trainer. Kehadiran tipe ini bisa mengurangi dinamika kelas karena mereka sering kali hanya duduk pasif tanpa menunjukkan partisipasi yang berarti.

Ciri-ciri peserta yang kurang memperhatikan antara lain mudah terdistraksi oleh hal-hal kecil di sekitarnya, tidak berusaha menjaga fokus selama pelatihan berlangsung, jarang atau bahkan malas mengajukan pertanyaan, enggan terlibat aktif dalam diskusi maupun kegiatan kelas, serta datang ke pelatihan tanpa persiapan diri yang memadai.

Cara menghadapi tipe peserta kurang memperhatikan adalah dengan membangkitkan minat mereka terhadap materi pelatihan serta menyajikan materi yang lebih menarik dan bermanfaat.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi peserta training yang kurang memperhatikan yaitu membuat desain materi yang menarik, memvariasikan metode pembelajaran yang lebih interaktif, menunjukkan manfaat dari materi pelatihan, menciptakan tantangan yang memotivasi, menyesuaikan materi dengan kebutuhan peserta, memberikan hadiah, serta menyapa mereka dengan cara yang halus.

8. Tipe Cendekiawan

Peserta training dengan tipe cendekiawan biasanya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup mendalam dalam bidang yang sesuai dengan materi pelatihan. Mereka sering kali menjadi peserta yang menonjol karena mampu memberikan pandangan yang luas dan kritis. Kehadiran tipe ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang bagi trainer, sebab jika dikelola dengan baik, mereka dapat memperkaya diskusi kelas.

Ciri-ciri peserta dengan tipe cendekiawan dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain sering menjawab pertanyaan yang diajukan dalam kelas, memiliki pengetahuan yang luas baik dari pengalaman maupun literatur, aktif bertanya untuk memperdalam pemahaman, sangat menyukai detail dalam penjelasan materi, serta cenderung lebih suka belajar secara mandiri untuk memperkaya pengetahuan.

Cara menghadapi tipe peserta cendekiawan adalah memperhatikan kebutuhan mereka dan memastikan materi pelatihan memiliki tingkat kompleksitas yang sesuai dengan pola pikirnya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi peserta training cendekiawan yaitu memberikan materi pelatihan yang lebih mendalam, menjelaskan materi dengan detail, membuka ruang diskusi, menggunakan metode pembelajaran yang interaktif, menyiapkan bahan bacaan tambahan, menghargai kemampuan peserta, serta tidak mengkritik secara langsung pendapat yang mereka sampaikan.

9. Tipe Suka Bertanya

Peserta training dengan tipe suka bertanya biasanya memiliki motivasi belajar yang tinggi dan keinginan kuat untuk memahami materi secara mendalam. Tipe ini hampir mirip dengan tipe cendekiawan, hanya saja mereka lebih menonjol dalam hal keaktifan bertanya dibandingkan menjawab atau menjelaskan. Kehadiran peserta dengan tipe ini umumnya dapat memberi energi positif dalam kelas, karena pertanyaan mereka sering memicu diskusi yang bermanfaat.

Ciri-ciri peserta dengan tipe suka bertanya antara lain sering mengajukan pertanyaan kepada trainer maupun peserta lain, menyukai detail sehingga menginginkan penjelasan yang lebih lengkap, cenderung mengikuti jalannya pelatihan dengan baik, serta memiliki motivasi belajar yang tinggi sehingga aktif dalam setiap sesi.

Cara menghadapi tipe peserta suka bertanya adalah dengan memberikan perhatian yang memadai serta menjawab pertanyaan mereka secara cermat, padat, dan singkat.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi peserta training dengan tipe suka bertanya yaitu mendengarkan dengan baik, menjawab secara tepat, membuka ruang diskusi, memberikan penghargaan, tetap fokus pada materi pelatihan, serta menanggapinya secara pribadi.

Demikian ciri-ciri sembilan tipe audiens yang perlu Anda ketahui dan cara menghadapinya, sehingga Anda akan lebih percaya diri dan terbiasa menghadapi kesembilan tipe tersebut dengan efektif. (dr).

Selamat mencoba!