Konten dari Pengguna

Dari Spesimen Menjadi Pengetahuan: Kekayaan dan Manfaat Koleksi Ilmiah Fauna

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dody Apriadi Indrakusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Berbagai jenis burung, mamalia, ikan, serangga, moluska, reptil, amfibi, hingga berbagai kelompok hewan lainnya hidup di beragam ekosistem Nusantara. Kekayaan tersebut tidak hanya dapat ditemukan di alam, tetapi juga tersimpan dalam bentuk koleksi ilmiah.

Koleksi ilmiah fauna merupakan sumber data penting bagi ilmu pengetahuan. Di balik setiap spesimen tersimpan informasi mengenai identitas, karakter morfologi, lokasi dan waktu perolehan, serta berbagai informasi lain yang dapat digunakan untuk memahami kehidupan dan perubahan keanekaragaman hayati.

Salah satu institusi yang memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan koleksi zoologi di Indonesia adalah Museum Zoologi Bogor (MZB). Sejarahnya berawal pada 23 Agustus 1894 ketika didirikan Landbouw Zoologisch Laboratorium yang diprakarsai oleh J. C. Koningsberger ahli botani berkebangsaan Belanda. Laboratorium tersebut berkaitan dengan kegiatan penelitian pertanian dan zoologi. Dalam perkembangannya, lembaga ini beberapa kali mengalami perubahan nama hingga dikenal sebagai Museum Zoologicum Bogoriense, dan kemudian menjadi Museum Zoologi Bogor. Pada tahun 1997, koleksi museum dipindahkan dari Bogor ke Cibinong dengan dukungan hibah dari Bank Dunia dan Negara Jepang melalui JICA (Japan International Cooperation Agency).

Dari MZB hingga BRIN

Dalam perkembangannya, Museum Zoologi Bogor menjadi bagian dari perjalanan kelembagaan penelitian hayati Indonesia. Saat ini pengelolaan koleksi ilmiah berada dalam lingkup Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah yang berlokasi di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Koleksi ilmiah dipandang sebagai aset nasional yang perlu dilestarikan, didokumentasikan, dikelola, dan dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan konservasi. Hal ini menjadikan pengelolaan koleksi bukan sekadar pekerjaan menyimpan spesimen, tetapi merupakan bagian penting dari pembangunan ekosistem ilmu pengetahuan.

Perjalanan Panjang Sebuah Spesimen

Lalu, bagaimana seekor hewan dapat menjadi bagian dari koleksi ilmiah?

Perjalanannya dimulai dari perolehan spesimen. Dalam materi pemrosesan koleksi ilmiah hewan, koleksi dapat diperoleh melalui hasil eksplorasi, ekspedisi ilmiah, kolaborasi dengan lembaga dalam maupun luar negeri, serta hibah dari instansi pemerintah maupun swasta, perguruan tinggi, dan masyarakat. Namun, spesimen yang diperoleh dari lapangan tidak serta merta menjadi koleksi ilmiah. Ada serangkaian proses yang harus dilakukan agar spesimen dapat memberikan informasi ilmiah dalam jangka panjang.

Secara umum, proses tersebut meliputi preparasi, pengawetan, pelabelan, identifikasi, dokumentasi, digitalisasi, penyimpanan, dan pemeliharaan spesimen. Setelah melalui proses tersebut, koleksi dapat dimanfaatkan untuk penelitian, edukasi dan konservasi.

Awetan Kering dan Basah, Dua Cara Menjaga Informasi Fauna

Koleksi ilmiah fauna dikelola dalam berbagai bentuk, diantaranya adalah koleksi awetan kering dan koleksi awetan basah. Koleksi awetan kering tersimpan di Gedung Widyasatwaloka yang mencakup kelompok hewan seperti burung, serangga, mamalia, dan moluska. Sementara itu, koleksi awetan basah tersimpan di Gedung Kehati C dan mencakup antara lain kelompok echinodermata, ikan, herpetofauna, moluska, krustasea, mamalia, nematoda dan arthropoda lainnya.

Pengelolaan koleksi juga membutuhkan lingkungan penyimpanan yang sesuai, yaitu suhu ruangan sekitar 19 - 20°C dan kelembapan 40 - 50% RH untuk koleksi ilmiah fauna kering, sedangkan koleksi ilmiah fauna basah disimpan pada suhu sekitar 20 - 22°C dengan kelembapan 50 - 60% RH. Tersedia pula ruang sterilisasi dengan pengaturan suhu hingga -20°C serta ruang mikroskop untuk mendukung pengelolaan koleksi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga koleksi ilmiah hewan membutuhkan perhatian khusus. Spesimen harus dilindungi agar tetap dapat digunakan sebagai sumber data ilmiah dalam jangka panjang.

Kekayaan Fauna Indonesia yang Tersembunyi di Balik Lemari Koleksi

Ketika mendengar istilah museum, sebagian masyarakat mungkin langsung membayangkan ruang pameran dengan berbagai hewan yang diawetkan. Padahal, koleksi ilmiah memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar pajangan. Di balik lemari penyimpanan terdapat berbagai kelompok hewan yang menjadi sumber informasi ilmiah. Mulai dari burung, serangga, mamalia, moluska, echinodermata, arthropoda, amfibi, reptil, ikan, krustasea, hingga nematoda.

Setiap spesimen dapat menjadi rekaman biologis yang membantu ilmuwan mempelajari keanekaragaman kehidupan. Ketika suatu spesies berubah jumlahnya di alam, mengalami perubahan persebaran, atau bahkan sulit ditemukan kembali, koleksi ilmiah dapat menjadi sumber pembanding yang sangat berharga.

Karena itu, koleksi ilmiah fauna dapat dianalogikan sebagai “perpustakaan kehidupan”. Jika perpustakaan menyimpan buku dan dokumen, maka koleksi ilmiah menyimpan bukti fisik keanekaragaman hayati Indonesia beserta informasi yang melekat pada setiap spesimen hewan.

Wajib Serah dan Wajib Simpan (WSWS)

Koleksi ilmiah tidak hanya berasal dari kegiatan internal lembaga. Ada pula mekanisme wajib serah dan wajib simpan sebagaimana tercantum dalam Peraturan BRIN Nomor 12 Tahun 2023. Mekanisme tersebut melibatkan beberapa tahapan, yaitu penerimaan, verifikasi dan validasi, pemrosesan, kemudian pemanfaatan dan edukasi.

Tahapan ini penting untuk memastikan bahwa setiap calon koleksi ilmiah yang diterima memiliki informasi dan status yang jelas serta dapat diproses sesuai ketentuan. Setelah melalui pengelolaan yang tepat, spesimen tidak berhenti sebagai benda yang disimpan, tetapi dapat kembali “hidup” melalui berbagai kegiatan penelitian dan pendidikan.

Untuk Apa Koleksi Ilmiah Fauna dimanfaatkan?

Pemanfaatan koleksi ilmiah fauna diantaranya adalah:

1. Membuka Jendela Ilmu Pengetahuan

Koleksi ilmiah fauna dapat digunakan untuk penelitian taksonomi dan sistematika, mempelajari persebaran serta evolusi spesies, hingga merekonstruksi sejarah alam dan perubahan lingkungan. Para peneliti dapat membandingkan spesimen yang dikoleksi pada waktu dan tempat berbeda untuk mendapatkan gambaran perubahan keanekaragaman hayati.

Dalam penelitian taksonomi, misalnya, spesimen menjadi bahan penting untuk mengenali, membandingkan, dan mendokumentasikan karakter suatu organisme. Dengan demikian, koleksi ilmiah fauna membantu menjawab pertanyaan mendasar: spesies apa yang hidup di Indonesia, di mana persebarannya, dan bagaimana perubahan kehidupannya dari waktu ke waktu?

2. Mendukung Konservasi

Koleksi ilmiah fauna memiliki peran penting dalam konservasi dan lingkungan. Data koleksi dapat membantu penyusunan status konservasi spesies, pemantauan biodiversitas, serta menjadi dasar bagi kebijakan perlindungan spesies.

Bagi upaya konservasi, mengetahui kondisi masa lalu sama pentingnya dengan mengetahui kondisi saat ini. Spesimen yang dikumpulkan puluhan bahkan ratusan tahun lalu dapat menjadi pembanding untuk memahami perubahan yang terjadi pada suatu jenis atau ekosistem.

3. Menyimpan Potensi Bioteknologi dan Kesehatan

Koleksi ilmiah fauna dapat dimanfaatkan dalam bidang bioteknologi dan kesehatan. Materi mencantumkan pemanfaatan untuk studi genetika dan penyakit serta pengkajian potensi bahan baku farmasi yang berasal dari hewan.

Hal ini memperlihatkan bahwa nilai sebuah spesimen tidak selalu dapat diketahui pada saat pertama kali dikoleksi. Pengetahuan dan teknologi yang berkembang dapat membuka peluang pemanfaatan baru terhadap koleksi yang sebelumnya mungkin belum dapat dianalisis secara mendalam.

4. Menjadi Media Pendidikan

Koleksi ilmiah fauna merupakan sumber pembelajaran. Spesimen dapat digunakan sebagai media edukasi untuk membantu siswa, mahasiswa, dan masyarakat mengenal kekayaan biodiversitas Indonesia.

5. Mendukung Jasa Identifikasi

Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah jasa identifikasi hewan. Layanan ini dapat membantu mahasiswa maupun instansi pemerintah dan swasta dalam mengenali kelompok atau jenis hewan tertentu.

Dengan demikian, koleksi ilmiah berfungsi sebagai sumber rujukan yang dapat menghubungkan dunia akademik, pemerintahan, masyarakat, dan sektor swasta.

Dari Lemari Koleksi Menuju Dunia Digital

Tantangan pengelolaan koleksi ilmiah pada masa kini bukan hanya bagaimana menjaga spesimen agar tetap awet, tetapi juga bagaimana membuat informasi koleksi dapat ditemukan, dipahami, dan dimanfaatkan.

Digitalisasi menjadi salah satu jawaban. Dokumentasi dan digitalisasi merupakan bagian dari tahapan pemrosesan koleksi ilmiah hewan. Koleksi digital memungkinkan data ilmiah dikembangkan menjadi sumber informasi yang lebih luas. Foto spesimen, identitas taksonomi, lokasi, informasi koleksi, dan data pendukung lainnya dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian, pembelajaran, dan edukasi publik.

Di masa depan, semakin banyak koleksi ilmiah fauna yang terdigitalisasi akan semakin besar pula peluang masyarakat untuk mengenal kekayaan biodiversitas Indonesia.

Menjaga Koleksi Berarti Menjaga Memori Keanekaragaman Hayati Fauna Indonesia

Koleksi ilmiah fauna pada dasarnya adalah memori biologis bangsa. Spesimen yang tersimpan hari ini dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi peneliti di masa depan. Karena itu, pengelolaan koleksi ilmiah tidak dapat dipandang sebagai kegiatan administratif semata. Di dalamnya terdapat proses ilmiah yang membutuhkan ketelitian mulai dari perolehan, verifikasi, preparasi, pengawetan, identifikasi, dokumentasi, digitalisasi, penyimpanan hingga pemanfaatannya.

BRIN melalui Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah memiliki visi untuk mewujudkan pusat koleksi ilmiah nasional dalam pengelolaan, pelestarian, dan pemanfaatan koleksi ilmiah yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Pada akhirnya, sebuah spesimen mungkin hanya berukuran beberapa sentimeter atau bahkan lebih kecil. Namun, informasi yang dikandungnya dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar. Ia dapat membantu ilmuwan memahami evolusi, mendukung konservasi, menjadi bahan pendidikan, membuka peluang inovasi, dan memperkuat pengetahuan tentang kekayaan hayati Indonesia.

Seluruh prosedur permohonan layanan, mulai dari pendaftaran peminjaman spesimen, pengajuan kunjungan, hingga penyerahan spesimen bagi depositor, dapat diakses secara daring atau online melalui website Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN pada tautan https://brin.go.id/diri/dpki.

Penulis: Dody Apriadi Indrakusuma dan Darmawan

Gedung Widyasatwaloka untuk menyimpan Koleksi Ilmiah Fauna Kering (dokumentasi penulis, 2026)
Ikan Purba dari Manado di Gedung Kehati C lantai 2 (dokumentasi penulis, 2026)
Gedung Kehati C untuk menyimpan Koleksi Ilmiah Fauna Basah (dokumentasi penulis, 2026)