Konten dari Pengguna

Balikpapan: Harmoni Keindahan Alam dan Potensi Perpajakan yang Menjanjikan

Dody Wahyudi Santoso

Dody Wahyudi Santoso

Pegawai Pajak Kanwil DJP Kalimantan Timur dan Utara

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dody Wahyudi Santoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Balikpapan, kota di pesisir Kalimantan Timur, selama ini dikenal sebagai “kota minyak”. Julukan itu tak salah, karena sejarah perminyakan memang lekat dengan kota ini. Namun, Balikpapan bukan sekadar pusat energi. Kota ini juga dianugerahi pesona alam yang menakjubkan sekaligus peluang ekonomi yang luar biasa.

Hutan bakau yang hijau, pantai berpasir putih seperti Lamaru dan Melawai, hingga Hutan Lindung Sungai Wain yang kaya flora dan fauna, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Banyak orang datang bukan hanya untuk urusan bisnis, tetapi juga untuk menikmati keindahan alamnya. Tak heran, Balikpapan kerap disebut “permata hijau” di tepian Kalimantan.

Namun di balik pesonanya, Balikpapan menyimpan potensi lain yang tak kalah penting: perpajakan. Setiap aktivitas ekonomi dari pariwisata, perkebunan, hingga properti sesungguhnya berhubungan erat dengan penerimaan negara. Pajak dari sektor-sektor ini dapat menjadi modal besar untuk membiayai pembangunan, yang pada akhirnya kembali lagi untuk kesejahteraan masyarakat

Pariwisata dan UMKM: Sumber Pajak yang Terus Tumbuh

Pesona alam Balikpapan mendorong tumbuhnya sektor pariwisata. Hotel, restoran, jasa transportasi, hingga industri kreatif lokal ikut menggeliat. UMKM juga tak kalah berperan. Produk makanan khas, kerajinan, dan cendera mata menjadi favorit wisatawan.

Semua aktivitas ini tentu berpotensi besar menyumbang penerimaan negara. Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan (PPh), hingga pajak daerah bisa dipetik dari geliat ekonomi ini. Namun, kuncinya ada pada kesadaran pelaku usaha. Memiliki NPWP, mencatat transaksi dengan benar, dan membayar pajak tepat waktu menjadi langkah penting agar manfaat ekonomi tidak hanya berhenti di pelaku usaha, tapi juga dirasakan masyarakat luas melalui pembangunan.

Perkebunan dan Kehutanan: Menjaga Alam, Menambah Penerimaan

Selain pariwisata, Balikpapan juga dikelilingi kawasan hutan dan perkebunan. Sektor ini memberi penghidupan bagi banyak pihak, mulai dari perusahaan hingga masyarakat lokal. Dari sisi perpajakan, ada potensi yang besar, mulai dari PPh usaha perkebunan hingga Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor Perkebunan dan Kehutanan.

Jika dikelola dengan baik, pajak dari sektor ini bisa menjadi sumber penerimaan yang signifikan. Namun lebih dari itu, penting untuk menjaga keseimbangan. Hutan bukan hanya aset ekonomi, tapi juga benteng ekologis. Dengan pemanfaatan yang bijak, hutan tetap lestari, ekonomi tetap berjalan, dan pajak tetap mengalir.

Properti dan IKN: Pajak dari Geliat Pembangunan

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Balikpapan kini memiliki posisi strategis karena menjadi pintu gerbang menuju Ibu Kota Nusantara (IKN). Dampaknya terasa jelas: nilai tanah meningkat, kawasan bisnis tumbuh, dan investasi masuk deras.

Semua itu punya konsekuensi positif di bidang perpajakan. PPh Final, PPN Konstruksi, hingga PBB sektor Perkotaan dan Pedesaan (P2) bisa menyumbang penerimaan negara. Pertumbuhan properti ini tidak hanya menguntungkan investor, tapi juga memperkuat kas negara yang nantinya digunakan untuk pembangunan di berbagai sektor.

Edukasi Pajak: Menumbuhkan Kesadaran Sejak Dini

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Potensi pajak sebesar apa pun tidak akan maksimal tanpa kesadaran masyarakat. Karena itu, edukasi pajak menjadi hal penting. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memiliki berbagai program kreatif, mulai dari sosialisasi di instansi pemerintah, aparat kampung, hingga program “Pajak Bertutur” di sekolah-sekolah. Bahkan, ada juga inklusi pajak di perguruan tinggi dan pendekatan khusus bagi UMKM.

Dengan cara ini, masyarakat diajak memahami bahwa pajak bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi juga bentuk partisipasi dalam pembangunan. Pajak adalah gotong royong modern, di mana setiap rupiah yang dibayarkan akan kembali dalam bentuk jalan yang lebih baik, sekolah yang lebih layak, hingga layanan publik yang lebih merata.

Penutup: Pajak sebagai Cinta pada Negeri

Balikpapan menunjukkan bahwa keindahan alam dan potensi ekonomi bisa berjalan beriringan. Dari wisata, perkebunan, hingga properti, semua memiliki kontribusi nyata. Namun, peran pajak menjadi kunci agar semua potensi itu benar-benar bisa dinikmati masyarakat.

Membayar pajak sejatinya bukan hanya kewajiban hukum. Ia adalah wujud cinta pada negeri dan pada Balikpapan itu sendiri. Dengan kepatuhan pajak, Balikpapan tak hanya dikenal sebagai kota minyak, tetapi juga sebagai kota harapan tempat di mana alam yang indah, ekonomi yang tumbuh, dan pajak yang terkelola bisa membangun masa depan yang lebih baik.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan bukan merupakan cerminan instansi penulis bekerja